Breaking News
Yusuf Mansur dan Paytrren-nya (Foto : Istimewa)

Yusuf Mansur, Dari Batu Bara sampai PayTren

Oleh: HM Joesoef (Wartawan Senior)

 

Yusuf Mansur dan Paytrren-nya (Foto : Istimewa)

 

Dalam perjalanann bisnis yang dilakoni oleh Yusuf Mansur sejak 2009 sampai saat ini, setidaknya ada tiga model. Tiga model ini menyasar kalangan yang berbeda. Dari Batu bara yang menyasar kalangan berpunya, patungan usaha yang menyasar kalangan menengah, sampai Pay Tren yang menyasar kalangan menengah-bawah.

Yusuf Mansur sejatinya adalah seorang pebisnis, banyak akal, dan pandai berkelit. Pada kuartal akhir tahun 2009, Yusuf secara mengejutkan “bermain” dengan batu bara yang sewaktu-waktu dapat membara itu. Ia himpun orang-orang berpunya, baik dari kalangan pebisnis maupun orang-orang pensiunan yang tajir. Mereka diundang untuk makan siang atau makan malam di sebuah hotel bintang 5 di kawasan Jakarta Pusat. Di sana, sambil menikmati hidangan, mereka diajak investasi di bidang batu bara. Ada yang datang suami-istri, ada yang datang dengan jamaah masjid, dan ada yang datang atas nama yayasan, dan seterusnya. Jabal Nuur, nama bisnis batu bara itu, diambil dari nama gunung di Mekkah, yang di dalamnya ada Goa Hiro’, tempat dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sebelum diangkat menjadi Rasul, sering mengunjungi tempat ini.

Di bulan pertama, bisnis batu bara ini sukses. Dibuka lagi sesi untuk bulan kedua. Sukses di bulan pertama membuat investor semakin antusias. Keuntungan yang diperoleh di bulan kedua, sebesar 27% dibagi dua dengan pengelola, di tanam kebali. Bahkan, sebagian menambah penyertaan modal. Di bulan kedua ini masih untung, tapi sudah ada tanda-tanda kejanggalan yang menyebabkan beberapa orang mengundurkan diri di bulan ketiga dengan menarik investasi yang ditanam. Di bulan keempat, Januari 2010, bisnis batu bara ini bermasalah. Tidak ada bagi untung. Investasi tak bisa ditarik dengan berbagai alasan.

Bisnis batu bara ini tidak banyak melibatkan investor, jumlahnya hanya puluhan orang, ada juga yayasan dan komunitas. Sedikit investor, tapi mampu menyedot investasi puluhan bahkan bisa tembus diatas Rp 100 milyar. Investor perorangan menyetor Rp 500 juta sampai Rp 5 milyar; sedangkan komunitas atau yayasan nilainya bisa puluhan milyar.

Gagal di batu bara, tahun 2012 Yusuf gencar keliling Indonesia untuk memasarkan patungan usaha. Nilainya antara Rp 10 juta sampai Rp 12 juta per saham. Setelah berjalan satu tahun, patungan usaha ini disemprit oleh OJK (otoritas jasa keuangan) pada paruh Juli 2013. OJK melihat patungan usaha tidak memenuhi aturan Undang-Undang Pasar Modal, khususnya Pasal 71 tentang penawaran umum. Dalam pasal tersebut disebutkan, hanya badan hukum berbentuk perseroan yang boleh melakukan pengumpulan dana masyarakat. Meskipun demikian, Yusuf Mansur sudah berhasil menghimpun dana umat sebesar Rp 24 milyar yang masuk ke rekening atas nama pribadinya.

Uang dari hasil patungan usaha rencananya dipakai untuk men-take over Hotel dan Apartemen Topas yang berlokasi di Tangerang. Letaknya tidak jauh dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Hotel akan dipakai sebagai tempat transit oleh jamaah haji dan umroh sebelum keberangkatan ke tanah suci. Nilainya, Rp 150 milyar. Tetapi, karena uang yang dihimpun hanya cukup mengambil-alih Hotel Siti, apartemen pun tak jadi disentuh. Belakangan, Hotel Siti tidak laku, uang investor tak jelas nasibnya. Tidak ada laporan keuangan, apalagi bagi hasil yang pernah dijanjikan. Dari 1900 investor patungan usaha, 400 yang bermasalah dan tak kunjung bisa diselesaikan oleh pihak Yusuf Mansur.

Gagal di patungan usaha, di tahun 2013 Yusuf gencar mempromosikan PayTren. Kabarnya, sampai saat ini, sudah ada 2,5 juta orang yang downloader aplikasi Paytren, dengan 1,8 juta yang active user. Paytren memiliki dua unit bisnis: payment gateway, dan investasi masing-masing lewat brand Paytren dan Paytren Asset Management. Di bisnis PayTren ini, tidak memerlukan modal awal yang besar, cukup Rp 350 ribu orang sudah bisa menjadi anggota.

***

Jika menilik tiga model usaha tersebut, nampak jelas bedanya. Batu bara menyasar orang-orang berpunya, patungan usaha menyasar kelas menengah, sedangkan PayTren untuk kalangan menengah-bawah. Karena itu, di batu bara, investornya hanya puluhan, di patungan usaha 1900 orang, dan di PayTren jumlahnya bisa jutaan.

Cara mensikapinya berbeda. Para investor di bisnis batu bara, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya memilih diam dan tidak memprosesnya ke meja hijau; investor patungan usaha, sebagian menggugat; di PayTren, mereka cenderung mengikhlaskan uang Rp 350 ribu yang pernah disetor sebagai modal awal.

Rupanya,Yusuf Mansur sudah menemukan formulanya. Dari pengalaman yang ada, PayTren adalah yang paling aman, karena melibatkan jutaan orang, modal disetor tidak besar, tapi jumlah yang diraih bisa mencapai ratusan milyar bahkan trilyunan. Setelah mendapat modal besar dari PayTren, Yusuf bisa sesumbar lagi. Akan beli ini, itu, dan seterusnya. Lagi-lagi, omongan dia itu perlu dibuktikan di lapangan.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur