Breaking News

Redaksi Thayyibah

Redaksi Thayyibah
Redaktur

Modal Usaha Tanpa Riba

Oleh: Doni Riw Dahulu, setiap ngomong modal usaha, yang dipikirkan hanya hutang riba dari bank. Tak ada pilihan lain. Kalau ada orang dakwah tetang riba, yang muncul di benak cuma: “Ah itu teori. Mana mungkin bisnis tanpa hutang bank” Pikiran itu muncul sebab keterbatasan pengetahuan saya. Saya pikir modal itu hanya uang. Sebelum taubat, dahulu saya punya beberapa bisnis. Ada ...

Read More »

Mengaku Beriman

Oleh: Davy Byanca Suatu hari Rasulullah saw bertanya kepada Haritsah, ”Bagaimana kabarmu pagi ini wahai Haritsah?” Ia menjawab, ”Pagi ini aku benar-benar beriman.” Mendengar jawaban itu, Nabi saw berujar, ”Setiap kebenaran ada hakikatnya. Apa hakikat imanmu?” Ia menjawab, ”Aku berpaling dari dunia sehingga bagiku sama saja antara emas dan tanah. Seolah-olah aku melihat penduduk surga tengah merasakan nikmatnya surga. Dan ...

Read More »

Tamparan Rachel Vennya

Oleh: Joko Intarto Jangan banyak bikin aturan kalau tidak bisa menjalankan. Percuma. Contoh sederhananya ini. Peraturan Pemerintah: Semua orang yang pulang dari luar negeri selama masa pandemi wajib menjalani karantina selama 7 hari. Pemerintah menyediakan Wisma Atlet untuk karantina di wilayah DKI Jakarta. Berita Media Online: Rachel Vennya kabur dari Wisma Atlet pada hari ketiga karantina. Pengakuan Rachel Vennya: Dia ...

Read More »

Maulid

Oleh: Abdillah Toha Andai Nabi datang menjengukmu Di hari maulid yang penuh berkah dan restu Akankah kau lampiaskan rasa rindumu Menyambut cahaya benderang ke pangkuanmu Mencium tangannya yang lembut bersahaja Menempelkan hidungmu yang berdebu dosa Atau kau peluk tubuhnya yang semerbak wangi Dengan jasadmu yang berkeringat maksiat Sampai hatikah kau katakan ‘aku umatmu’ Meski kau hanya sebuah mesin pelaksana fardhu ...

Read More »

Tempe Kluwak

Oleh: Joko Intarto Tempe kluwak bukan resep baru. Masyarakat mengenal resep ini secara turun-temurun. Di Purwodadi disebut tempe pindang. Di Betawi namanya tempe pucung. Nama bisa berbeda. Bumbu utamanya sama: kluwak atau kluwek yang menghasilkan warna coklat kehitaman dengan aroma dan rasa yang khas. Dulu, saat masih kanak-kanak, Mbah Rayi sering memasak tempe pindang untuk menipu perut anak dan cucunya. ...

Read More »

Azan di Rumah Kami

Oleh: Setiardi Ini rumah kami. Rumah di tengah Jakarta. Dari buku sertifikat, saya tahu kami pemilik ke-4 rumah tua ini. Pemilik pertama; Pak Ali Sastroamidjojo, Perdana Menteri Indonesia tahun 1955. Pemilik kedua; Pak Nono Anwar Makarim, ayah Mas Menteri Nadiem Makarim. Pemilik ketiga; Ketua Pengadilan Tinggi Jakarta. Alhamdulillah, setelah Pak Hakim pensiun, rumah itu bisa saya beli pada 2010. Membeli ...

Read More »

Menjadi Cermin bagi Sesama

Oleh: Davy Byanca Konon, seorang Yahudi hidup bertetangga dengan seorang Muslim. Yahudi ini hidup di ruang atas, dari mana semua jenis kotoran dan sampah berasal, kotoran anak-anaknya, air bekas cucian baju, semuanya jatuh ke ruangan keluarga sang sufi yang berada di lantai bawahnya. Tetapi Muslim itu tak pernah menegur, malah berterima kasih kepada Yahudi, dan memerintahkan keluarganya untuk melakukan hal ...

Read More »

Mabuk Gelar

Oleh: Joko Intarto   Arti ‘Honoris Causa’ yang tepat mungkin ini: Di balik gelar itu ada honornya. Pentingkah pencantuman gelar akademik seseorang? Saya menganggap tidak penting. Tapi bagi sebagian orang, gelar itu penting banget. Dulu, pada awal menjadi wartawan Jawa Pos, saya pernah dipanggil seorang pejabat humas di sebuah instansi, gara-gara tidak menyebutkan gelar bossnya dalam pemberitaan. Kata pejabat itu, ...

Read More »

Senjakala Myanmar

Oleh: Setiardi Ini foto saya di Naypyidaw, ibukota baru Myanmar. Saya sudah tiga kali berkunjung ke negeri yang panas itu. Berburu batu akik. Kualitas batu Myanmar diakui dunia. Harganya murah. Untaian batu saya jadikan gelang Mamak di toko perhiasan Cikini, Jakarta. Biasa Mamak pakai untuk Lebaran. Banyak pelajaran yang saya petik di Myanmar. Salah satunya: kegagalan ibukota baru. Ya, junta ...

Read More »

Malam Barokah

Oleh: Setiardi Saya sampai Menara Kudus, berniat silaturahim dengan Mbah Sunan Kudus, jam 10.30 malam. Pintu makam [ternyata] sudah ditutup. Ratusan peziarah hanya diperbolehkan di luar pagar makam. Mereka tetap khusyuk berzikr. Saya tanya seorang penjaga, apakah bisa masuk? “Makam sudah tutup. Baru buka setelah salat subuh,” ujar penjaga. Tapi ada Pak Kuncen, yang memandangi saya. Dari kepala sampai kaki. ...

Read More »