Breaking News
Jam'an Nurchotib Mansur alias Yusuf Mansur (Foto : Istimewa)

Yusuf Mansur, Mencari Tuhan yang (masih) Hilang?

Oleh: HM Joesoef

Jam’an Nurchotib Mansur alias Yusuf Mansur (Foto : Istimewa)

 

Siapa yang tak kenal nama yang satu ini? Ya, Jam’an Nurchotib Mansur yang lebih popular dengan sebutan Yusuf Mansur. Lahir di Jakarta, 19 Desember 1976. Perawakannya kecil, wajahnya imut, murah senyum, tatapan matanya cenderung menyidik. Ia dikenal sebagai ustadz “sedekah”.

Dalam dua tahun terakhir, namanya terus meroket. Bukan karena prestasi, tapi karena kasus-kasus yang melilitnya. Mulai dari patungan usaha dan aset yang tak kunjung terselesaikan sampai paytren yang membuahkan kotroversial.

Dalam buku “Mencari Tuhan Yang Hilang”, 2001, Yusuf berkisah tentang dirinya yang pernah mengalami masa-masa sulit, dipenjara dan jauh dari Tuhan. Menurut pengakuannya, ia pernah jadi tahanan Polsek selama 2 bulan di tahun 1998, lalu terulang lagi pada tahun 1999. Ia mengaku ditahan sewaktu merintis bisnis. Tapi, menurut sumber yang tepercaya, masalahnya di seputar urusan kriminal. Yusuf sendiri tidak pernah terbuka atas urusan yang satu ini. Baik secara langsung maupun lewat buku pertamanya itu.

Yang jelas, menurut pengakuannya, di dua kali masuk penjara itulah ia menemukan Tuhan yang saat itu sempat hilang dalam kehidupannya. Sampai di sini, kita angkat topi. Seseorang yang melakukan kesalahan, lalu tobat, dan katanya, telah menemukan Tuhan kembali. Jika seseorang telah menemukan Tuhan, mestinya, perilakunya juga membaik, tidak malah membuat hal-hal yang yang justru kontraproduktif. Salah satunya tentang akhlak, dalam bentuk komitmen atau memegang janji. Pada sebuah media, Yusuf Mansur pernah mengatakan bahwa apa yang terjadi pada dirinya itu adalah fitnah. “Dua-duanya sebenarnya fitnah. Tapi saya terima aja.”

Pasca 2 kali masuk penjara, Yusuf merintis Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Quran di Cipondoh, Tangerang, Banten. Di bawah bendera Wisata Hati, dalam setiap ceramahnya, lebih tepat testimony, Yusuf menspesialisasikan diri di urusan “Sedekah”. Segala persoalan hidup, menurut Yusuf, jalan keluarnya hanya satu: sedekah.

Suatu hari di tahun 2004, dalam rangka mem-branding dirinya, Yusuf Mansur bekerjasama dengan sebuah media nasional. Dia menulis artikel di media tersebut. Dalam perjanjian, dia menulis tentang sedekah dan dia akan bayar. Katakanlah itu artikel berbayar. Karena katanya, dia sudah dapat kontrak dengan sebuah bank. Maka berjalanlah waktu, Yusuf menulis setiap pekan. Nama, foto, dan tulisannya nongol setiap pekan.

Sesuai dengan perjanjian, setelah tiga bulan, datanglah tagihan kepada Yusuf Mansur, untuk membayar sesuai dengan perjanjian semula. Apa kata Yusuf? “Lho, ane kan yang nulis, mestinya ane yang dibayar, kok malah disuruh bayar? Kan kebalik?” Kongsi pun bubar dengan meninggalkan jejak yang wanprestasi.

Pernah juga, beberapa tahun lalu, Yusuf diundang ke kota Medan. Sumatera Utara, untuk memberikan ceramah. Habis ceramah, tim Yusuf Mansur menggelar sorban untuk mendapatkan sedekah jamaah yang hadir. Setelah terkumpul, Yusuf bersama hasil sedekah jamaah tadi langsung ke bandara, terbang ke Jakarta. Tidak sepersen pun disisakan untuk panitia. Padahal, panitia telah mengeluarkan uang untuk menyewa berbagai peralatan termasuk tenda, kursi, sound system, yang nilainya juga tidak kecil.

*

Yusuf Mansur punya sifat bombastis. Ia gembar-gembor di muka, meskipun realisasinya, nol besar. Lalu diam. Tak ada berita kelanjutannya. Salah satu kisahnya berikut ini.

Pada 18 Oktober 2017, Yusuf Mansur mengundang para jurnalis untuk makan malam bersama di sebuah restoran di kawasan Pondok Indah, Jakarta. Usai makan, acara yang dihadiri oleh 20-an wartawan tersebut, dilanjutkan dengan jumpa pers. Waktu itu, Yusuf mengutarakan niatnya untuk mengadakan road show ke 8 kota guna menjelaskan patungan usaha dan patungan asset yang waktu itu sudah mulai bermasalah. Banyak yang mempertanyakan proyek dan nasib investasi yang tak pernah ada informasi tentang perkembangannya.

Waktu itu, Yusuf mengatakan bahwa nilai patungan usaha dan patungan asetnya sebesar Rp 40 miliar, digunakan untuk membangun Hotel Siti di Tangerang. “Saat ini nilai hotel itu, kalau dijual, sudah di atas angka Rp 40 miliar,” kata Yusuf dengan penuh optimistis. Adapun jumlah peserta patungan usaha dan patungan aset sekitar 2.900 orang. Menurutnya, dari jumlah itu, sekitar 400 orang yang mengalami komunikasinya tidak lancar.

“Dalam road show nanti, kami juga menyiapkan kalau ada yang mau mencairkan (dananya),” kata Yusuf. “Masing-masing-masing menyetor patungan Rp 10 juta hingga Rp 12 juta,” jelasnya.

Road show akan dimulai dari Solo pada 6 November, berlanjut ke Semarang (7/11), Bogor (8/11), Bandung (9/11), Yogyakarta (10/11), Surabaya (11/11), Medan (12/11), dan terakhir di Jakarta pada 13 November 2017. Kepada insan pers, Yusuf mempersilahkan jika ada yang mau ikut.

Pada hari dan tanggal-tanggal yang telah ditentukan, tak ada pemberitaan tentang hasil-hasil road show yang dilakukan. Para insan pers tak ada yang memberitakan. Beberapa wartawan yang sebelumnya dijanjikan untuk diikutsertakan, tak lagi dihubungi. Rupanya, acara yang sebelumnya digembar-gemborkan itu, ternyata tidak seperti yang diharapkan. Walhasil, acara road show yang sempat mendapatkan pemberitaan gegap-gempita itu pun tak terdengar.

Begitulah Yusuf Mansur. Rencananya heboh, realisasinya tidak ada. Dan ia pun tidak pernah menjawab mengapa acara yang sudah di publikasikan tersebut tidak jadi?

Inilah bentuk kebohongan-kebohongan Yusuf Mansur yang tidak pantas dilakukan oleh seorang yang mendapat status sebagai ustadz. Lalu, benarkah ia telah menemukan Tuhan???

About Redaksi Thayyibah

Redaktur