Breaking News
Menyembah Pohon (foto : kompasiana)

ABID vs SYETAN PENUNGGU POHON*

Menyembah Pohon (foto : kompasiana)

Di pertengahan tahun 1970an, Bapak saya rochimahulloohu mengajak saya silaturrahmi ke rumah Kyai Amien Gubug, Semarang untuk keperluan mengundang ceramah pernikahan anak dari teman bapak saya.

Dalam perbincangan diantara keduanya terkesan begitu asyik dan akrab. Itu karena mereka sama sama ngaji di Mbah Arwani Kudus rochimahulloohu. Kyai Amien terkenal kalau beliau wasis ndongeng.

Setelah maksud ngundang ceramah tercapai, Bapak saya minta agar kiyai Amien ndongeng ke saya sebagai pengantar tidur siang di rumahnya.

Saya dikeloni tidur siang di kamarnya. Dia bercerita bahwa :

Zaman dahulu ada sebuah bregad (pohon besar) yang berada di sebuah desa. Penduduk desa meyakini bregad itu adalah tempat kramat. Segala maksud dan tujuan kalau diajukan kepadanya dengan membawa sajen yang telah ditentukan, maka menjadi beres.

Yang sakit, yang punya urusan rumah tangga, yang berurusan dengan penagih hutang, urusan kenaikan pangkat, urusan kiyam (pilihan lurah) dan lain lain beres semuanya. Berduyun duyunlah orang ke tempat itu siang dan malam, bahkan dari berbagai daerah.

Melihat hal itu, maka bangkitlah si Abid, seorang yang ahli ibadah yang secara serius dan shabar dalam waktu yang cukup lama dan langkah berbagai cara dalam menda’wahi mereka, bahwa memohon kebaikan dan berlindung dari keburukan itu hanya kepada Allooh Ta’aalaa. Namun hal itu tidak menghentikan mereka dari kemusyrikan itu.

Maka keluarlah si abid dengan membawa kampak untuk menebang bregad itu dengan semangat Tauhid yang membuncah. Sekelebat, syetan penunggu pohon yang selama ini ngumpet, memunculkan diri dan menantang si Abid utk bertarung. Jika dia dapat mengalahkannya, maka silahkan si abid utk menebang pohon yang menyebabkan kemusyrikan masyarakat itu.

Terjadilah pertarungan antara keduanya. Dalam sekali gerakan, syetan penunggu pohon terjatuh.

Maka bergeraklah si abid utk menebang bregad itu. Namun ketika si abid hendak menebang pohon itu, tiba tiba syetan penunggu pohon itu merengek-rengek minta maaf dan memohon dengan mempertimbangkan kearifan lokal. Terjadilah negosiasi dan kompromi. Syetan menewarkan semacam kompensasi. Jika si abid tidak menebang pohon itu, maka tiap pagi syetan itu akan memberikan jumlah yang cukup banyak uang emas dibawah kasur nya.

Maka berfikirlah dia tentang kebutuhan harian dan keinginan keinginan yang tidak bisa terwujud karena kemiskinannya.
Dan diterimalah tawaran itu.

Di pagi pertama, ketika diaterbangun dari tidur, segera yang diingat adalah uang emas, padahal sebelumnya, yang diingat adalah Allooh Ta’alaa. Senanglah si abid terhadap syetan yang memenuhi janjinya.

Haripun berganti menjadi pekan dan pekanpun berubah menjadi bulan, sehingga jiwa si abid sudah thuma’ninah dengan kesenangan duniawi itu.

Syetan mulai mengurangi jumlah uang emas yang dijanjikan sedikit demi sedikit. Hal itu disadari dan diketahui oleh si abid. Tapi karena masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya maka si abid masih bisa memakluminya.

Dan ketika jumlahnya semakin berkurang, maka marahlah si abid. Dia marah dan mengambil kampak dan hendak menebang pohon itu.

Tapi ketika hendak menebang, syetan berdiri berkacak pinggang.
Maka terjadilah perkelahian antara si abid dan syetan itu.

Dalam satu kali gerakan jurus, si abid jatuh dan dia dipaksa oleh syetan untuk takluk dibawah kendalinya atau kartu trufnya akan dibongkar di hadapan umum.

Dan syaitan itu memberitahu bahwa, ketika pertamakali si abid datang dengan semangat kebenaran hendak menebang pohon, syetan melihat si abid sebesar gunung dan diliputi cahaya. Tapi dalam pertarungan kedua, ketika si abid datang dengan semangat dunia, syetan melihatnya hanya sebesar lalat.

Adzan ashar berkumandang dan saya diajak sholat berjamaah ke masjid.

Dan siang itupun saya nggak jadi tidur. Dan dalam perjalanan pulang, di bis saya tertidur pulas di pangkuan al-marhum.

*Artikel diambil dari WAG tanpa menyebut nama dan sumber tulisan

About Redaksi Thayyibah

Redaktur