Breaking News

Segmen 02 : Adegan 58

Oleh : Davy Byanca

Sahabat sufiku.

DIAM akhirnya adalah sikap terbaik ketika kita muak dengan suatu keadaan. Jika sampai kamu harus tenggelam kerana diammu, hikmahnya adalah kondisi itu telah mengajari dirimu untuk berenang. Mengapa aku memilih diam? Kerana lagi-lagi kamu jatuh cinta dalam ruang ghaib. Ini aneh bagiku. Betapa pelupanya kamu.

KATANYA KAMU belajar dari kemarin, hidup untuk sekarang dan berharap untuk besok. Faktanya, kaumasih terikat pada orang, bukan pada tujuan. Katanya aku harus bicara jujur tanpa harus bertatap wajah, tanpa harus komunikasi, tanpa harus mencari tahu aktivitas dan sedang sesibuk apa dirimu. Katanya ini semua kaulakukan untuk tidak mengulangi ketololan masa lalu; agar faham apakah ‘rasa’ itu berdasarkan cinta kerana-Nya, atau sekadar nafsu sesaat.

KATANYA KAMU sudah di titik capek untuk mendengar semua omong-kosong, gombal sana-sini dan tipu kiri-kanan. Sudah kapok main hati, pengen main logika aja. Faktanya, sekarang malah babak belur oleh logika. Benarlah kata Buya Hamka, ‘perempuan adalah lautan. Bila kita tidak mengarunginya, kita yang akan ditelannya’.

MASIH TERNGIANG di telingaku, saat kaubilang, ‘wah enak ya jadi kamu’. Aku tersenyum mendengarnya. Senyuman menandakan ketidaktahuanmu seberapa besar ujian yang kualami, namun tak nampak, bahkan olehmu. Pandai-pandailah bersyukur, agar kautetap tersenyum. Bukankah berbagai kerikil di lorong perjalananmu adalah sinyal tanda bahaya, tapi kaumasih nekad juga. Adakah kamu siap hidup menderita lagi? Lupa ya?

About Redaksi Thayyibah

Redaktur