Oleh : Davy Bya

Sahabat sufiku.
SAAT HUJAN makin deras, Ruhut terpaksa menepi, berteduh di emperan ruko yang tutup. Dari situ, matanya menangkap satu pemandangan lain: seorang bocah berdiri di pinggir jalan, badannya kuyup tanpa jas hujan, membawa payung, bersiap menjadi ojek payung. Ia memaksa untuk tersenyum, menawarkan jasanya kepada orang di sekitar, sementara tanpa sadar, badannya menggigil. Namun orang-orang lewat cepat. Semua ingin segera sampai tujuan. Semua sedang berjuang dengan caranya masing-masing.
RUHUT MENATAP sebentar, lalu menunduk. Bukan kerana tidak peduli, tapi kerana hari itu ia sendiri sedang berhemat untuk bertahan. Hujan agak reda, ia menyalakan motor, melanjutkan perjalanan pulang. Di jalan pulang, ia sadar satu hal kecil: di tengah hujan, tanggal tua dan dompet tipis. Yang paling mahal hari itu bukan harga BBM yang makin naik, tapi tenaga untuk tetap pulang, memaksa senyum di rumah, dan esok pagi berangkat kerja lagi. Sebagaimana lelaki lainnya, Ruhut terbiasa menyembunyikan perih di balik diamnya. Ia biarkan luka menjadi ruang doa yang tak bersuara. Sepanjang hidupnya, ia tak pernah takut gelap, sebab bayangannya sendiri adalah temannya. 5 tahun terakhir ini Ruhut sedang berperang tanpa saksi, menelan sakit yang tak punya nama, ia tak mengeluh, hanya menatap langit malam seolah menunggu tanda dari Tuhan. Terbayang bagaimana selama puluhan tahun ia berhasil membangun kantor hukumnya di ibukota sehingga bertengger di papan atas. Hanya dalam hitungan minggu, semuanya habis, kantornya tutup, asetnya disita negara, bersyukur ia tak dipenjara, wanita-wanita di sekelilingnya hilang, dan keluarganya masih mau bertahan. Saat ini ia berdiri di tengah ejekan, menahan perih yang mereka jadikan bahan tawa. Ia berjalan menghadapi dunia barunya dengan dada dingin, memikul bara yang menolak padam di dada sendiri.
AKU TAHU, seorang pria bukanlah mahluk yang lahir untuk tunduk pada perintah. Ia berjalan sendirian, diburu ide yang lebih besar dari tubuhnya sendiri. Kalau saat ini Ruhut masih tegak berdiri, bukan kerana kuat, tapi kerana tak ada pilihan. Setelah memandang wajah istrinya yang makin menua, ia membatin, “Tidak ada cahaya tanpa luka yang menelan malam. Terima kasih istriku, kaumasih mau menemaniku sampai saat ini”. Ia sadar dunia ini penuh topeng, tapi ia tak pernah bersembunyi di salah satunya. Apa pun kata dan penilaian orang terhadap dirinya.
AKU TAK begitu kenal sosok Ruhut, tapi kami pernah berjumpa dan mengobrol dua kali di pengadilan. Saat itu ia sempat menasehatiku, “Dunia tidak menunggu kita kuat. Berdirilah bahkan ketika kaki kita goyah. Kacau itu takdir Bung, tapi kendali itu pilihan”. Dari sosok manusia ini aku belajar: ‘untuk tetap berdiri di jalan sesempit apa pun sebab dunia tak berhak menulis ulang diri kita’. Di luar sana, beberapa pria mewarisi peta lama, sebagian lainnya menggambar petanya sendiri. Aku ambil selembar kertas dan spidol, kutulis: ‘Lelaki menulis takdirnya dalam gelap yang sunyi’. Kutempel di ruang kerja kantorku.
Sekian.
Thayyibah