Oleh : Davy Byanca

Sahabat sufiku.
AKU DUDUK di samping kursi rodanya. Sahroni yang kukenal dulu adalah pribadi yang energik, supel dalam pergaulan, dandy dan banyak uang. Sejak 3 bulan lalu ia terkena syaraf kejepit, dan hari ini adalah 10 hari paska operasi yang dilakukan di Penang. Tamu di rumahnya dibatasi, kerana ia baru 3 hari sampai di rumah. Beruntung aku dan 2 orang temannya bisa menjenguknya. “Makasih kawan-kawan sudah meluangkan waktu untuk berkunjung”, ujarnya. Aku diam, tersenyum, seraya memegang bahunya; bahasa tubuh untuk menguatkan dirinya. “Berbagai macam alternatif pengobatan aku lakukan sebelum ini, tetap tidak menyembuhkan. Sampai aku memutuskan untuk dioperasi; ini sebuah perjudian”, katanya tanpa ditanya. Sambil menoleh kepadaku, “Abang kan tahu cemmana aku, suka kalik dengan perjudian kek gini”. “Aahh, tapi ini kan soal kesehatan Ron, bukan soal kerjaan”, kataku. “Ternyata kita bisa saja memiliki seribu masalah dalam hidup, sampai kita memiliki masalah kesehatan. Saat itu kita hanya punya satu masalah. Itulah yang terjadi padaku sejak 4 bulan lalu”, katanya. Sekitar 40 menit aku menjenguknya, dengan penuh kesadaran kami pamit, kerana tak tahan melihat Roni bicara sambil sesekali meringis kesakitan.
SEPANJANG PERJALANAN pulang aku merenungkan kata-kata Sahroni. Selama tubuh masih patuh, kita selalu merasa dunia bisa ditaklukkan dengan pikiran, ambisi, dan rencana. Kita mengejar pengakuan, menimbang kegagalan, mempertaruhkan harga diri, dan memelihara kecemasan untuk hal-hal yang bahkan belum terjadi. Masalah datang berlapis, dan kita menerimanya sebagai harga dari kehidupan yang aktif. Namun ketika kesehatan kita goyah, seluruh hiruk pikuk itu runtuh menjadi sunyi. Pikiran yang dulu sibuk merancang masa depan, sekarang hanya ingin satu hal: pulih, atau sembuh. Ego yang sebelumnya suka menuntut lebih banyak, tiba-tiba merendah, belajar memohon pada hal yang paling dasar . Nafas yang semula dianggap given tetiba berubah menjadi anugerah yang disyukuri setiap detiknya. Di titik itu, sosok Sahroni kujadikan pembelajaran bahwa tubuh bukan sekadar kendaraan bagi mimpi, melainkan fondasi dari semua kemungkinan. Tanpa kesehatan, ambisi kehilangan arah, dan waktu kehilangan makna.
SEBENARNYA KITA semua sadar bahwa waktu di dunia ini sangat terbatas. Ia bukan sekadar deretan jam yang bergerak di arloji, melainkan nafas makna yang perlahan berkurang setiap hari. Setiap menit membawa kemungkinan untuk bertumbuh, memahami diri, dan mendekat kepada kehidupan yang lebih sadar. Namun seringkali, waktu itu terhempas begitu saja, jatuh ke tangan orang-orang atau hal-hal yang tidak pernah benar-benar peduli dengan perjalanan batin kita. Memberikan waktu berarti memberikan energi jiwa. Saat kita hadir sepenuhnya dalam sebuah relasi, pekerjaan atau kebiasaan. Kita sejatinya tengah menanamkan sebagian besar diri kita di sana. Kebijaksanaan bukan tentang menutup diri dari dunia, tetapi tentang memilih dengan sadar. Memilih siapa yang layak menerima perhatian kita. Memilih aktivitas yang membuat kita lebih jujur kepada diri kita sendiri. Memilih ruang yang memungkinkan kita bertanya, ragu dan bertumbuh tanpa harus mengecilkan diri.
UNTUK KESEKIAN kalinya, sahabat Sahroni telah mengajariku: kebijaksanaan sejati mungkin bukan tentang menaklukkan dunia, melainkan merawat diri sebelum dunia memaksa kita berhenti. Kesehatan sesungguhnya bukan tujuan akhir hidup kita -tetapi tanpanya, tak ada tujuan lain yang benar-benar bisa kita kejar. Hidup yang bermakna tidak diukur dari seberapa sibuk kita terlihat, tapi dari seberapa selaras kita hidup dengan nilai terdalam yang kita yakini. Saat kita mulai menjaga waktu, sesungguhnya kita sedang menjaga jiwa. Dari situlah kehidupan yang lebih utuh perlahan menemukan bentuknya.
Sekian

Thayyibah