Oleh : Ristrianto Cahyono

Foto ini diambil di Surabaya. Kota tempat saya kuliah. Kota tempat saya akhirnya memilih pulang.
Kota tempat saya memilih bangkit lagi.
Tahun 2003, saya masih mahasiswa Manajemen Keuangan Unair. Skripsi belum selesai — tapi surat penerimaan dari Astra sudah di tangan, alhamdulillah… atas ijin Allah swt
Saya berangkat ke Jakarta. Mulai dari Management Trainee di Astra. Pelan-pelan naik. Supervisor. Lalu IT Head di anak perusahaan CIMB Niaga. Lucu memang — kuliah Manajemen Keuangan, berkarir di IT. Tapi di situlah saya pertama kali belajar: “Jurusan tidak menentukan sejauh mana kamu bisa pergi. Kemauan belajarlah yang menentukan.”
Hampir 11 tahun di korporat. Karir bagus. Gaji aman. Masa depan terprediksi. Tapi satu pertanyaan terus mengganggu tidur saya: “Sampai kapan saya membangun milik orang lain?”
2014 saya balik ke Surabaya. Mulai bisnis sendiri. Jatuh. Bangun. Jatuh lagi. Bangun lagi. Tidak semua orang yang saya percaya layak dipercaya. Tidak semua jalan yang saya pilih membawa ke tujuan
Tabungan 11 tahun kerja — habis untuk belajar dan bertahan. Oktober 2018 badan saya menyerah duluan. Sakit. Bedrest tiga bulan.
Empat tahun keluar dari korporat. Dan belum ada satu pun yang benar-benar kokoh berdiri.
Banyak orang mungkin akan menyerah di titik itu. Saya hampir
Tapi awal tahun 2019 — saya berdiri lagi. Bersama Gopalz Aldy dan Adib Mahdy, kami dirikan Rumah Halal Nusantara
Bukan karena kondisinya sudah siap. Bukan karena modalnya sudah cukup. Tapi karena saya percaya — ikhtiar tidak akan pernah sia-sia, selama kita tidak berhenti
Alhamdulillah. Satu per satu pintu dibukakan. Priorads Digital berdiri. Malang Dreamland Resort berdiri. Riuma Resort berdiri. dan insyaallah RHN Bisnis Clinic segera launching
Tapi ada satu momen yang mengubah segalanya. Pertengahan 2020 — bisnis stuck. Sudah coba segala cara. Tidak bergerak. Saya stress. Frustrasi
Terbiasa dari Astra — setiap tahun harus lebih besar dari tahun sebelumnya. Target naik, angka harus naik. Itu satu-satunya cara saya mengukur kemajuan. Sampai akhirnya saya bertanya ke diri sendiri: “Kenapa yang saya kejar selalu angka — tapi kok merasa stuck?”
Saya ubah satu hal. Bukan strateginya. Bukan timnya. Bukan produknya. Saya ubah pertanyaannya. Dari: “Berapa omzet yang harus kita capai tahun depan?” Menjadi: “Berapa orang yang harus bisa kita gaji dari perusahaan kita?”
Satu pergeseran kalimat. Tapi dampaknya luar biasa
Cara kami merekrut berubah. Cara kami membuka unit bisnis baru berubah. Cara kami mengukur keberhasilan berubah. Alhamdulillah — dari situ, Allah SWT berikan kemudahan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya
Banyak orang mendefinisikan sukses sebagai punya banyak uang. Saya tidak lagi melihatnya dari sana. Bagi saya — “Sukses adalah ketika kehadiran kita memberikan kebermanfaatan bagi orang lain.”
Karyawan yang bisa menghidupi keluarganya. Mitra yang bisnisnya berkembang. Tamu yang pulang membawa kenangan baik. Itu ukuran yang saya pilih sekarang.
Kamu sedang di fase mana hari ini? Masih mengejar angka — atau sudah mulai bertanya siapa yang bisa kamu beri manfaat?
Tidak ada jawaban yang salah. Tapi pertanyaannya akan membawa kamu ke tempat yang sangat berbeda.
*Judul dari redaksi
Thayyibah