Breaking News
(Foto : Davy Byanca)

Doa Bukanlah Mantra

Oleh: Davy Byanca

(Foto : Davy Byanca)

Setiap umat manusia pasti pernah berdoa. Hatta mereka yang tak beragama, atau mereka penganut faham komunis sekalipun. Bahkan Philip Yancey dalam bukunya ‘Prayer’ menyatakan bahwa kaum atheis pun berdoa. Partai Komunis Rusia memasang tulisan di bawah potret pemimpin besar mereka, Joseph Stalin, “Jika kamu menghadapi kesukaran dalam pekerjaanmu, atau mendadak ragu pada kemampuanmu, ingatlah akan Stalin -maka kepercayaan dirimu akan pulih. Jika kamu menjadi kelelahan yang tidak pada tempatnya, ingatlah Stalin -maka pekerjaanmu akan tetap lancar. Jika kamu perlu mengambil keputusan yang benar, ingatlah Stalin -dan kamu akan berhasil.”

Itu artinya, doa adalah kebutuhan. Dalam tradisi keislaman di Nusantara, banyak kita temui jamaah yang antri menemui Kiai atau Ulama berharap didoakan, atau mengkonsumsi air doa dari ‘orang-orang suci’ tersebut. Pada musim pemilu, pilkada dan pilpres, ada beberapa ulama yang bahkan tampil di panggung untuk mendokan para calon atau kontestan. Ada pula para pejabat dan keluarganya yang minta didoakan sambil mengundang anak-anak yatim, semacam ritual bagi mereka untuk mencuci dosa, memuluskan karir dan melanggengkan jabatan.

Doa akhirnya sering dianggap sebagai mantra. Doa apalagi jika dibacakan oleh para pemuka agama dianggap akan mulus sampai ke langit. Lupa bahwa doa orang yang makanan, pakaian dan harta yang diperoleh secara haram, tak akan diterima. Bukankah doa yang lahir dari hati orang yang lalai, tidak akan diterima.

Bagi Muslim, doa bukanlah sekadar kebutuhan belaka, tapi merupakan inti ibadah. Doa tak hanya dilakukan saat tertimpa musibah atau cobaan sahaja, melainkan dilakukan dalam setiap kesempatan. Sejak hendak tidur, bangun pagi dan hendak melakukan aktivitas keseharian. Dengan doa, ‘kita akan meyibak kabut dan mengembalikan kedamaian jiwa’ begitu kata Mawlana Rumi. Kerana doa adalah sebuah ungkapan syukur, penghambaan diri, pengaduan dan pengharapan. Semua bercampur menjadi satu.

Jadi tak usah kecewa, jika pengharapan kita yang disampaikan melalui doa belum terkabul. Kadang kita tak sadar jika kita sendirilah yang telah menutup jalan terkabulnya doa dengan berbagai maksiat dan ketidaktaatan yang kita lakukan. Kadang juga kita kurang yakin dengan doa yang kita lakukan. Padahal keyakinan akan melahirkan ketaqwaan yang berujung ketenangan jiwa. ” .. barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka DIA akan membukakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka DIA akan mudahkan urusannya.” ath-Thalaq [65]: 2-4.

Ada baiknya kita tetap menjaga Allah di hati, karena saat kita bersama-Nya, segalanya akan menjadi doa. Bahkan Mawlana Rumi berkata, ketika kita akan mulai berdoa, sesungguhnya Tuhan telah mengabulkan doa itu sendiri. Kerana kesadaran untuk berdoa pada hakikatnya adalah hadiah dari-Nya. Lantas Rumi pun bersenandung, ‘Doa ini sejak awal adalah titah-Mu. Jika tidak, mana mungkin hamba yang lemah ini menghadap-Mu.”

Doaku selalu menyertaimu duhai kekasih heningku ..

About Redaksi Thayyibah

Redaktur