Breaking News
Buku 'Yusuf Mansur Menabur Kesesatan' siap dirilis Ramadhan ini. Redaksi akan membagikan buku ini secara cuma-cuma. (Foto : Istimewa)

Jurus Kaya Raya ala Yusuf Mansur?

Oleh: HM Joesoef (Wartawan Senior)

Buku ‘Yusuf Mansur Menabur Kesesatan’ siap dirilis Ramadhan ini. Redaksi akan membagikan buku ini secara cuma-cuma. (Foto : Istimewa)

Melalui lembaga miliknya, Wisata Hati, Yusuf Mansur secara rutin mengadakan acara seminar dan kursus “40 Hari Menjadi Kaya Raya”. Judulnya menarik, terutama bagi mereka yang memang mengejar harta duniawi yang sifatnya relative itu. Bagi mereka yang berobsesi untuk menjadi kaya raya, seminar dan kursus semacam ini memang diburu.

Konsep “40 Hari Menjadi Kaya Raya” bisa “dipercepat” menjadi 21 hari, 14 hari, 7 hari, bahkan 3 hari saja. Dalam brosurnya tertulis:

“Keistiqomahan repitisi (pengulangan) visualisasi, afirmasi, doa-doa, dan amalan-amalan, sangat diperlukan. Ibarat pisau, kita asah terus. Hingga tajam dan bisa digunakan dengan hebat. Nah, riyadhah adalah itu. Bagaimana kemudian menarget. Selama 3 hari, 7 hari, 14 hari, 21 hari, 40 hari, kita konsen, fokus, ngebenahin, ngebenerin, amalan yang wajib. Dan ngidupin amalan2 yang sunnah. Menjadi kaya, adalah salah satu hajat yang dihighlight, yang dizoom, yang diangkat. Aslinya, riyadhah ini bisa buat apa aja. Riyadhah jodoh, anak, pergi haji umrah, jadi pengusaha, jadi pekerja profesional, selamat dari berbagai kasus, selamat dari berbagai ancaman, ketenangan, beasiswa dalam dan luar negeri, kesehatan dan kesembuhan, riyadhah untuk anak-anak agar shaleh shalehah… Dengan misalnya, ayah ibunya yang beriyadhah. Dsb… Belajar sistem. Belajar SOP. Belajar senjatanya. Dan menggunakan sistem, SOP dan senjata itu.

Perbedaan dengan Fast Track to Rich, di Fast Track to Rich, kita langsung belajar ngegas. Belajar langsung ngebut. Ibaratnya ga diajarin lagi cara bawa motor dan mobilnya. Diasumsikan sudah tau. Sudah bisa. Sudah paham. Bukan perkara yang susah sih. Cuma soal speed up aja. Percepatan. Hal-hal amaliyah apa aja yang bisa membuat seseorang melesat, berubah, menjadi kaya, dalam waktu yang singkat. Asli ini. Sudah begitu banyak yang merasakan. Kecepatan dan percepatannya mengagumkan.”

Yusuf berkisah, sudah banyak orang yang berhasil dengan konsepnya itu. Pokokya, dengan melaksanakan 40 hari berdekat-dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, lewat shalat, puasa, dan dzikir-dzikir yang diajarkannya, semua masalah teratasi. Apapun masalahnya itu. Yang miskin jadi kaya, yang punya hutang bisa melunasi hutangnya, yang mau naik gaji naik gajinya, dan seterusnya. Dari awal, pertengahan, dan akhir dari proses “40 hari” itu selalu diikutidengan sedekah yang diserahkan pada Yusuf Mansur. Lalu, muncullah testimoni disana-sini, sebagai pembenar dan pemanis bahwa “40 hari” bisa menjadi kaya raya itu benar adanya.

Pertanyaannya, apakah resep tersebut manjur untuk Yusuf Mansur sendiri? Jika memang manjur, kok berbagai masalah selalu melilitnya? Dia sendiri banyak masalah, dan selalu lari dari masalah. Masalah satu beum selesai, muncul lagi masalah baru. Lihatlah bagaimana akhir dari bisnis batu bara, patungan usaha, condotel moya vidi, VSI (cikal bakal Paytren dan Paytren-nya sendiri), Nabung Tanah, Treni Umroh, dan seterusnya.

Jika benar resep “40 hari” itu manjur untuk dirinya, kok Yusuf Mansur masih saja meminta sedekah? Kan sudah kaya raya? Bahkan, untuk membangun asrama dan kelas buat para santri saja masih juga meminta-minta sedekah? Padahal, untuk menjadi santri di Daarul Qur’an biayanya cukup mahal bagi rata-rata orang Indonesia. Mungkin dia berdalih, kan ada program beasiswa? Ya, program beasiswa itu hanya tidak dipungut uang pangkal saja. Untuk biaya hidup santri per bulannya minimal Rp 5 juta mesti dikeluarkan oleh orangtua. Ini belum lagi jika si santri nymbi sekolah umum, dikenakan lagi biaya-biaya tersebut.

Ada lagi pertanyaan menarik, jika jurus “40 hari” itu ampuh, melelang kacamata dengan harga terendah Rp 300 juta itu belum juga ada yang berminat? Bahkan, di media sosial, lelang kacamata tersebut jadi bahan guyonon dan olok-olokan netizen?

Begitulah Yusuf Mansur. Dari awal konsep “40 hari” menjadi kaya raya itu sudah menyalahi sunnatullah. Jika hendak kaya berupa harta duniawi, ya harus kerja keras, kerja cerdas, dan kerja jujur lagi professional. Walhasil, konsep “40 hari” menjadi kaya raya itu hanya membuat orang malas bekerja. Wallahu A’lam.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur