Breaking News

Uighur adalah Kita

Sepasang suami istri Uighur sedang duduk di depan rumahnya di Desa Turpan, Xinjiang. China meminta AS mencegah RUU terkait Uighur di Xinjiang menjadi UU. Ilustrasi.
Sepasang suami istri Uighur sedang duduk di depan rumahnya di Desa Turpan, Xinjiang. China meminta AS mencegah RUU terkait Uighur di Xinjiang menjadi UU. Ilustrasi. Foto: How Hwee Young/EPA

 

thayyibah.com :: Dalam kebisuan mereka berontak, menuntut akan hak beragama. Dengan dalih “deradikalisasi”, Partai Komunis Cina (CCP) telah memperluas kontrolnya terhadap populasi di Xinjiang ke setiap aspek kehidupan. Persekusi pihak berwenang terhadap Uighur, etnis Kazakh, dan etnis Muslim lain di Xinjiang memengaruhi semua aspek kehidupan, menyebabkan tradisi Islam makin terkikis.

Belum selesai kisah tumpahnya darah di Palestina, hari ini jeritan Uighur menggema hingga Nusantara. Dalam kebisuan mereka berontak, menuntut akan hak beragama. Namun apa daya, tidak banyak yang dilakukan selain mengecam dan melangitkan doa. Sebab, mereka berada di bawah penindasan kaum yang berkuasa, sementara kaum muslimin tidak memiliki kekuasan yang satu di seluruh dunia.

Itulah mengapa kaum muslimin disebut buih di lautan. Banyak namun tak berdaya. Kemanakah hendak meminta tolong? Berharap pada PBB hanyalah sia-sia, bagaikan mengemis belas kasih kepada musuh.

Sesungguhnya kaum muslimin bagaikan satu tubuh. Bila satu sakit, maka yang lain turut merasakan hal yang sama. Maka hendaknya kita tidak berdiam diri atas kejadian tersebut. Kitalah harapan akan perubahan. Khususnya para penguasa negeri-negeri Muslim.

Segera bersatu. Karena Uighur adalah kita, yang Allah dan rasul-Nya persaudarakan atas akidah Islam. Karena Islam adalah agama yang selamat, dan akan memberikan keselamatan.

Oleh: Dewi Murni, praktisi pendidikan asal Balikpapan.

Sumber: republika.co.id

About A Halia