Breaking News
Jam'an Nurchotib alias Yusuf Mansur (Foto : Istimewa)

Yusuf Mansur, Kebohongan Publik dan Kesesatan Ajarannya

Oleh: HM Joesoef (Wartawan Senior)

 

Jam’an Nurchotib alias Yusuf Mansur (Foto : Istimewa)

 

Jika ingin menilai seseorang, salah satunya adalah dengan kejujurannya. Jika ia jujur, maka selamatlah dari salah satu perilaku munafik. Munafik itu sendiri, dalam dhohirnya mengakui Islam sebagai agamanya. Tetapi dalam batinnya, ia ingkari apa yang ia ucapkan tersebut. Karena itu, kejujuran, amanah, dan tidak khianat adalah sifat-sifat orang mukmin yang berlawanan dengan sifat-sifat orang munafik.

Oleh sebab itu, ketika kita dihadapkan kepada Yusuf Mansur, maka nilailah jejak-jejak perilakunya. Inilah, antara lain, jejak-jejak tersebut.

Pertama, ia mengaku bertemu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan sadar. Setelah mendapat protes sana-sini, Yusuf membantah lewat instagramnya. Padahal jejak digitalnya masih ada, dan semua orang bisa membuka dan melihatnya.

Kedua, menghimpun dana umat lewat berbagai investasi. Ada investasi batu bara, ada patungan usaha, ada patungan aset, ada investasi condotel moya vidi, dan seterusnya. Ada akad, ada janji bagi hasil, ada laporan keuangan secara periodik. Faktanya, tidak ada laporan periodik, tidak ada bagi hasil keuntungan, dan tidak ada kejelasan nasib dari investasi yang telah ditanam.

Ketiga, secara bombastis mau beli saham Bank Muamalat, BRI Syariah, dan Tempo. Faktanya, hanya pernyataan di depan, tidak ada pembelian saham secara riil.

Keempat, membeli saham klub-klub bola, baik yang ada di tanah air, maupun yang ada di mancanegara. Faktanya, hanya omong doang.

Kelima, pada bulan November 2017 akan keliling ke 8 kota untuk menjelaskan kepada jamaah tentang nasib dari patungan usaha dan patungan aset. Faktanya, setelah dicek, di hari yang telah ditetapkan, tidak ada aktivitas seperti yang ia gembar-gemborkan sebelumnya melalui media massa.

***

Jika tentang janji saja tidak ia tepati, bagaiamana pula ia akan bisa amanah dan tidak khianat? Karena kebohongan itu adalah pangkal dari tidak amanah dan perilaku khianat. Jika seseorang yang pembohong itu berprofesi sebagai penceramah, maka ajaran-ajaran yang sesat bermunculan dari orang yang sama.

Mari kita lihat apa ajaran-ajaran Yusuf Mansur yang ia kemukakan kepada para jamaahnya. Ini berkait dengan ilmu yakin yang selalu ia motivasikan kepada jamaahnya. Yusuf Mansur mengajarkan ilmu yakin. Ya, dengan ilmu yakin tersebut seseorang yang banyak bersedekah akan diberi ganti oleh Allah. Bukan hanya itu. Yusuf juga mengajarkan, dengan ibadah selama 40 hari, nantinya akan terjadi kejutan-kejutan. Ini mengingatkan kita pada dongeng tentang Brahma Kumbara yang menempuh ilmu lampah-lumpuh selama 40 hari. Setelah menjalani ilmu tersebut, kesaktiannya bertambah, dan ia mendapat berbagai kemudahan.

Dalam menjalani ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakin saja tidak cukup. Yakin itu mesti diikuti dengan perilaku yang sejalan dengan yang telah digariskan oleh Allah dan Nabi-Nya. Ajaran tauhid hanya percaya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Tetapi tauhid itu tidak cukup hanya dengan yakin. Tapi mesti melaksanakan tarekatnya, yakni, menjalankan semua kebaikan dan menjauhkan diri dari kemaksiatan. Inilah problem manusia modern. Cukup dengan yakin bahwa Allah itu ada, bersedekah sebanyak-banyaknya, lalu semua masalah akan teratasi dengan sendirinya. Ini pola pikir instan yang jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Dalam menjalani kehidupan itu, selain kita percaya kepada rukun Islam dan rukun Iman, tetapi juga melaksanakannya. Tidak cukup hanya dengan percaya. Kalau hanya dengan percaya saja, Iblis juga percaya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi ia tidak taat kepada-Nya. Ketika Iblis diminta sujud kepada adam, ia menolak, karena merasa diri lebih baik nasabnya, lebih mulia, dan diuarakan dengan penuh kesombongan. Tetapi Iblis itu percaya dan yakin akan kuasa Allah Ta’ala. Ia yakin bahwa Allah itu Sang Pemilik Hidup, tetapi ia tidak tunduk kepada-Nya.

Begitu pula, jika hanya yakin tanpa menjalani ketaatan-ketaatan yang harus dijalani dalam hidup, itu sama saja dengan orang-orang Arab Badui yang mengatakan, “Kami telah beriman.” Padahal mereka baru ber-Islam, karena iman belum masuk ke dalam hatinya.” (Tadabbur Quran surah 49: 15)

Begitulah, jika selama ini Yusuf Mansur selalu memberi mantra-mantra “yakin”, ini sama dengan orang-orang Arab Badui sebagaimana tersebut dalam Al-Hujurat 15 tersebut. Yakin dan sedekah, tetapi perilakunya masih berbohong kepada khalayak, apakah mungkin Allah memberikan jalan keluar dari setiap persoalannya? Lihat saja Yusuf Mansur sendiri, kasusnya menggunung, tetapi ia sendiri belum bisa keluar dari kemelut kasus-kasus yang ia buat sendiri, yang berawal dari ketidakjujurannya. Di sinilah letak kesesatan Yusuf Mansur. Dan, kesesatannya itu janganlah diajarkan kepada khalayak, lewat ceramah-ceramah, testimoni, dan buku-buku yang ditulis.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur