(Foto : kbr.id

Kasus Korupsi Rektor Unila

Kuncinya: Hapuskan Jalur Uang

Oleh: Setiardia

(Foto : kbr.id

Akhir pekan ini kita dikejutkan dengan OTT komisi antirasuah terhadap Rektor Unila, dan pejabat kampus itu. KPK menangkap tangan para petinggi kampus yang menerima sogokan dari calon mahasiswa baru. Beredar kabar total duit terkumpul 5 miliar rupiah.

Saya tak percaya peristiwa ini hanya terjadi di Unila. Sebab, saat ini kampus negeri memang membuka jalur “mandiri” — ini eufimisme dari masuk lewat “jalur uang”. Dugaan saya, selama konsep masuk lewat jalur uang ini dibuka, maka peluang sogok-menyogok terbuka lebar.

Apa solusinya? Saya rasa konsep yang dulu pernah diterapkan, semacam Sipenmaru atau SMPTN, itu lebih fair. Semua orang, kaya atau miskin, punya peluang sama masuk kampus negeri. Yang penting lolos tes.

Dulu, saya mengalaminya. Sebagai calon mahasiswa miskin, saya diterima di STAN (ikatan dinas), UGM, dan STTTelkom (ikatan dinas). Zaman itu tak ada jalur mandiri. Kalau Anda tak lolos tes, meskipun anak orang kaya, ya wassalam.

Mungkin ada baiknya peristiwa OTT Rektor Unila membuat kita berpikir ulang soal jalur uang ini. Saya pikir lebih fair kita kembali ke sistem penerimaan yang dulu, Sipenmaru. Semua berdasarkan nilai tes.

Bagaimana kalau kampus negeri butuh duit? Itu kewajiban negara. Dari pada bikin IKN yang tak akan jelas nasibnya, lebih baik duitnya untuk membantu kampus negeri yang menerima banyak mahasiswa pintar, tapi miskin.

About Redaksi Thayyibah

Redaksi Thayyibah
Redaktur