Breaking News
(Foto : Majalah Detik)

Mengkritik Yusuf Mansur Bukan Hanya Thayyibah.com

(Foto : Majalah Detik)

Yusuf Mansur mengajak orang untuk sedekah, itu baik saja, karena Rasul memang mengajarkan hal itu. Tapi dia mengajarkan untuk sedekah sambil berharap Allah akan memberikan harta lebih banyak. Kalau diterjemahkan secara kasar, seakan Allah itu hendak “dikunci” dengan sedekah kita, sampai Dia tak punya lagi pilihan selain mengabulkan doa kita.

Yusuf Mansur telah mencampur adukkan sedekah dengan investasi. Dari sisi prinsip ini sudah salah. Sedekah dan investasi adalah 2 hal yang berbeda. Investasi berharap kembali, sedekah justru sebaliknya. Pencampuran ini rawan penipuan. Dan, inilah yang dilakukan oleh Yusuf Mansur selama ini.

Lebih penting lagi, kegiatan itu melanggar hukum. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan berbagai pihak lain  sudah menegur. Anehnya OJK cuma menegur, bukan menghukum. Bagaimana kesudahan uang yang sudah terlanjur terkumpul, juga tidak jelas. Inilah yang kemudian Yusuf Mansu telah dan akan digugat orang di mana-mana, di polisi maupun ke pengadilan.

Waktu awal kami mulai mengkritisi Yusuf Mansur, sejak tahun 2015, bahkan ikut melaporkannya ke polisi, ada pengikut Yusuf Mansur yang marah. “Yang punya uang aja nggak ribut, kok kamu yang ribut?” “Memangnya kamu punya masalah pribadi apa dengan Yusuf Mansur sehingga mau repot ngurusi Yusuf Mansur?” begitu diantara yang disampaikan pengikut Yusuf Mansur.

Para pengikut Yusuf Mansur itu lupa, bahwa kasus pelanggaran hukum yang dilakukan seseorang dengan membawa-bawa agama adalah wilayah publik, bukan sekedar wilayah antara pelaku dan korban. Bila ada anggota masyarakat dirugikan kita boleh mempermasalahkannya, walau kita sendiri tidak dirugikan. Banyak yang tidak paham prinsip ini. Apakah lagi sampai meraka meminta tolong untuk mencari solusi hukum.

Yusuf Mansur juga punya beberapa bisnis. Bisnis-bisnis ini sejauh yang kami amati, tidak ada hubungannya dengan Islam atau sedekah. Semata bisnis biasa. Wujudnya cenderung spekulatif, salah-salah merugikan orang. Bisnis ini bukan bisnis unik Yusuf Mansur. Ada banyak yang menjalankan bisnis ini, dengan berbagai produk. Ada yang sampai menyewa slot acara TV untuk mempromosikannya.

Paytren adalah bisnis MLM. Orang membeli “paket” yang memungkinkan ia masuk ke jaringan bisnis itu. Paketnya berupa aplikasi HP, dan fee yang sebenarnya tidak transparan. Setelah masuk, orang bisa menjual pulsa HP, token listrik, tiket kereta, dan lain-lain. Bisnis sejenis yang ditawarkan di TV menjual sistem bisnis agen perjalanan.

Kerawanan bisnis macam ini adalah pengelola sudah meraup untung dari penjualan sistem, sementara peserta (pembeli sistem) belum jelas akan mendapat apa. Banyak yang gagal dalam bisnis ini. Itu artinya pengelola sebenarnya menjual produk kosong atau bodong. Video berikut ini adalah salah satu contohnya.

Yusuf Mansur sudah dikenal sebagai sosok yang penuh dengan konflik kepentingan. Ia adalah sosok yang dikenal sebagai ustadz tetapi produk bisnis dia selama ini sama sekali tidak ada hubungan dengan Islam, juga belum tentu benar. Kasarnya, ini menjual Islam.

Selama ini, tak ada sikap Yusuf Mansur yang tidak dikritik orang. Apa saja yang dilakukannya pasti menuai kritik bahkan cemoohan orang. Hal ini terjadi karena Yusuf Mansur selalu memanfaatkan media sosial untuk mempublikasikan ucapan, sikap dan tindakannnya. Yusuf Mansur juga news maker. Dia rela membeli ruang dan waktu tayang media asal dirinya bisa jadi berita.

Jika ada yang mengatakan media ini dan penulis selalu  mengkritisi Yusuf Mansur, sesungguhnya anggapan itu tidaklah benar. Karena yang terjadi adalah tidak sedikit orang atau pihak yang terus menerus mengkritisi Yusuf Mansur, termasuk dari orang-orang yang pernah menjadi bagian dari bisnis Yusuf Mansur.

Kami menulis kritik terhadap Yusuf Mansur berdasarkan fakta-fakta yang ditemui di lapangan dengan nara sumber yang jelas.  Pihak lain juga demikian, seperti video yang ditayang oleh chanel youtube bertajuk ‘Berita Terbaru Hari Ini’.  Chanel ini secara konsisten mengkritisi Yusuf Mansur dengan menampilkan data-data pemberitaan media sekaligus nara sumber yang jelas. Walaupun harus kita akui, ada chanel Youtube yang dalam upaya mengkritisi Yusuf Mansur memakai data dan narasumber yang kurang akurat, hanya bertujuan menggiring opini orang. Seperti video ketiga dalam artikel ini.

Banyak sudah yang mengingatkan Yusuf Mansur, kalau mau berbisnis, ya berbisnis saja. Campur aduk antara dakwah dan bisnis, khususnya dalam bisnis yang menghimpun dana orang, sangat rawan manipulasi. Itu menyerempet haram. Kalau tidak haram, maka subhat. Itu sudah jelas.

About Darso Arief

Darso Arief
Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.