Breaking News

Gurita Utang Yusuf Mansur

Oleh: HM Joesoef (Wartawan Senior)

Salah satu bisnis yang dikembangkan Yusuf Mansir. Modalnya dikumpullan dari sedekah masyarakat? (Foto : Istimewa)

Yusuf Mansur kembali diguncang prahara. Setelah diserang oleh akun twitter @partaisosmed pada 30 Mei lalu, hari berikutnya Yusuf Mansur keluar dari grup WA yang dibuat oleh para karyawan VSI/Paytren yang di-PHK tetapi hak-haknya belum juga diberikan.

Akun twitter @partaisosmed menulis, “Di Islam ada Yusuf Mansur, di Kristen Gilbert, di Budha ada Wirapol Sukhol. Mereka jualan surga demi kemewahan dunia.” Berbagai komentar pun bermunculan.

Adapun keluarnya Yusuf Mansur dari grup WA tersebut karena dia sudah tidak mampu lagi untuk memberikan hak-hak para karyawan yang di PHK, tahun 2021 ini, sebagaimana pernah ia janjikan. Pasalnya? Karena utang yang menjadi tanggungannya saat ini sudah menembus angka Rp 300 milyar. Bendera putih pun dikibarkan oleh Yusuf Mansur yang punya nama asli Jam’an Nurchotib Mansur, itu.

Mengapa utang Yusuf Mansur sampai menumpuk? Hal ini ada banyak sebab. Sifat Yusuf Mansur yang menjadi Big Bos cenderung menghambur-hamburkan uang dan berbisnis dengan perhitungan yang tidak matang. Investasi besar-besaran di bidang kuliner juga menjadi salah satu sebab. Sebagaimana kita ketahui, Yusud Mansur punya bisnis bersama Jody (seorang pengusaha kuliner) dengan merek “Warung Steak dan Shake” yang membuka puluhan cabang di kota-kota besar. Juga ada Bebek Goreng H Slamet, dan beberapa restoran dengan beberapa nama. Ambisinya membuka cabang yang sampai puluhan itu telah menguras kocek, dari berbagai sumber.

Bisnis Paytren, jika benar untung, mengapa harus mem-PHK puluhan karyawan? Bahkan, hak-hak mereka yang di PHK tidak juga bisa diselesaikan. Beberapa waktu lalu beredar video dimana Yusuf Mansur sesumbar, setiap bulan mengeluarkan dana Rp 15 milyar untuk memberi bonus pada mitra Paytren. Bagaimana mungkin, perusahaan yang mem-PHK karyawannya bisa memberi bonus kepada mitra Paytren?

Sesumbarnya Yusuf Mansur hendak membeli Indonesia dengan, antara lain, mengambil alih manajemen 3 klub bola di tanah air, ternyata hanya pepesan kosong. Pada bulan Desember 2018, Yusuf Mansur, dengan gaya percaya dirinya, mengumumkan hendak membeli 10% saham klub Lechia Gdansk (klub bola di Polandia). 10% saham itu senilai 2,5 juta euro yang setara dengan Rp 41,2 milyar. Faktanya, pembelian itu tidak terjadi dan kini kabarnya, pihak Lechia Gdansk sedang menagih Yusuf Mansur karena dinilai wanprestasi. Jika berkomitmen dengan klub-klub bola tanah air lalu gagal dieksekusi didiamkan, tidak demikian dengan klub-klub luar negeri. Mereka ketat dengan perjanjian, dan tidak segan-segan untuk menuntut ganti rugi jika komitmen tidak ditepati.

Ini belum lagi hotel Siti di Tangerang yang sejak beroperasi di tahun 2015 lalu sampai hari ini masih juga merugi. Belum lagi investasi para investor yang tidak jelas nasibnya. Ketika para investor mau ambil duitnya, pihak manajemen berbelit-belit, dan investasi tidak juga dikembalikan.

Selama ini, bisnis andalan Yusuf Mansur yang digembar-gemborkan adalah Paytren. Ternyata, perusahaan ini juga rapuh. Mitra Paytren sudah banyak yang mundur, yang masih gabung pun sudah banyak yang mati-suri. Penghasilan melorot tajam. Wajar jika akhirnya terjadi PHK terhadap karyawannya.

Ada satu poin yang menarik untuk dicermati ketika Yusuf Mansur pamit mundur dari grup WA para karyawan PHK Paytren. Di situ ia menulis bahwa sudah sejak setahun ini acara di televisi tidak bisa ia bayar, meskipun sudah diupayakan dipungut dari sedekah. Ya, selama ini Yusuf Mansur memang aktif muncul di beberapa stasiun televisi dengan cara blocking time, yakni, dia tampil di telebisi dengan cara membayar. Rupanya, untuk membayar televise tersebut dari uang sedekah. Astaghfirullah!

Nah, jika akhir-akhir ini orang meragukan akuntabilitas dari sumbangan yang dihimpun untuk rakyat Palestina, coba telusuri sedekah yang dipungut oleh Yusuf Mansur. Adakah pertanggungjawabannya kepada publik? Wallahu A’lam.

About Redaksi Thayyibah

Redaksi Thayyibah
Redaktur