Breaking News

BANYUWANGI-MOLUKU KIE RAHA

Oleh: Salim A. Fillah

Tersebutlah Maulana Ishaq, ‘alim yang juga ahli pengobatan mampu meredakan wabah yang melanda Blambangan dan menyembuhkan putri kesayangan sang raja. Diapun dinikahkan dengan putri yang dalam Babad disebut Dewi Sekardadu. Sayang sang ‘alim difitnah orang dan harus meninggalkan ujung timur Jawa itu.

Singkat kisah, putranya yang bernama Raden Paku harus mengalami lika-liku hidup yang dahsyat. Dilarung ke laut, ditemukan dan diangkat anak oleh Nyai Ageng Pinatih, belajar ke Pasai dan berjumpa sang ayah yang menamainya Maulana ‘Ainul Yaqin. Lalu dikirim ke Jawa untuk berdakwah. Dialah Sunan Giri, yang akan disebut oleh Tome Pires sebagai ‘Pausnya Negeri-negeri Kepulauan’ yang kala itu masyhur sebagai Biladil Jawa.

Tersebut pula Sultan Zainal Abidin, putra Kolano Marhum Gapi Baguna II dari Ternate yang pada tahun 1494 berangkat nyantri ke Giri Kedaton dan menjadi murid kesayangan Sang Sunan. Dari Jawa, dia memboyong guru-guru Islam, di antaranya bernama Tuhubahanul yang membantu penyebaran Islam di seluruh Moluku Kie Raha. Dalam syiar dakwah, Zainal Abidin menggandeng para Raja dari Tidore, Bacan, dan Jailolo.

Beberapa hari lalu ikut meletakkan batu pertama Pesantren An Najah di Sidodadi, Halmahera Barat. Saya terkenang pertautan sejarah ini. Ibunda Sunan Giri yang menjadi guru para Pangeran dari Moluku Kie Raha berasal dari Blambangan, daerah yang kini sebagian bernama Banyuwangi. Dan para transmigran asal Banyuwangi di Sidodadi kini mengasasi Pesantren pertama di Halmahera Barat, bekas wilayah Kerajaan Jailolo yang kini muslimnya minoritas, hanya 35 persen. Allahu Akbar. Sejarah bertaut di An Najah.

(Foto-foto : Dokumentasi Salim A. Fillah)

Ingin mendapat bagian pahala dari Pesantren perintis dahsyat ini? Transfer ke BNI Syari’ah nomor rekening 0979432620. an. Yayasan Wali Siti Muthmainnah. Konfirmasi SMS ke +62852-8965-8270 (Mulyono).

About Redaksi Thayyibah

Redaktur