Breaking News

MASJID BELAKANG

Oleh: Joko Intarto

Ada bangunan baru di komplek Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah di Jalan Menteng 62, Jakarta Pusat. Lokasinya paling belakang. Itulah bangunan masjid anyar yang dinamakan Masjid At-Tanwir.

Masjid At-Tanwir yang berlantai 4 itu baru selesai dibangun. Bahkan baru akan diresmikan pada pekan ini. Tetapi sudah mulai digunakan sejak awal pekan lalu.

Setelah mengikuti vaksinasi Covid-19 Rabu siang, saya berkesempatan salat zuhur di masjid yang baru selesai setelah dibangun selama setahun itu.

Kesan saya terhadap masjid ini: Modern dan antimainstream. Modern karena dan fasilitasnya yang kekinian. Antimainstream karena gaya arsitekturnya tidak seperti masjid pada umumnya.

Dari semua bangunan di kompleks perkantoran Muhammadiyah itu, Masjid At-Tanwir merupakan gedung yang dibangun paling akhir. Saat dua gedung yang lain sudah dirombak menjadi modern, masjid At-Tanwir masih tetap berdiri dengan wujudnya yang lama.

(Foto : Joko Intarto)

Sudah 15 tahun saya keluar masuk Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah. Tapi baru sekarang saya tahu kalau masjid tersebut punya nama At-Tanwir. Selama ini tidak saya temukan papan namanya. Rasanya semua orang hanya menyebut dengan sebutan “Masjid Belakang”.

Kondisi fisik Masjid Belakang yang kontras dengan bangunan di sekelilingnya itu sempat mengundang keprihatinan banyak warga Muhammadiyah. Melalui Lazismu, mereka menanyakan kapan masjid akan direnovasi. Pengurus PP Muhammadiyah menyampaikan bahwa masjid akan direnovasi setelah penataan gedung lainnya beres.

Kalau masalah dana pembangunan, sebenarnya tidak ada masalah sama sekali. Banyak donatur yang sudah siap. Tapi waktunya memamg belum tepat. Alhasil sampai beberapa tahun saya hanya melihat maketnya yang dipajang di lobi.

Akhirnya tahun lalu pembangunan Masjid At-Tanwir dimulai. PT Brantas Abipraya, salah satu BUMN Karya, yang menjadi kontraktornya.

Hasilnya: Masjid At-Tanwir menjadi masjid yang megah. Bila selama ini hanya kantor pusat PB NU dan Hidayatullah yang dikenal punya masjid modern dan keren, sekarang kantor PP Muhammadiyah juga memiliki masjid yang membanggakan.

Seusai salat zuhur, saya ngobrol dengan Om Brillianto Jaya dari TV Muhammadiyah. Saya usul agar TVMU membuat program siaran berkonsep talkshow, konsultasi, ceramah dan belajar agama Islam di masjid itu. Bisa rekaman. Bisa live.

Karena situasinya pandemi, program siaran diproduksi secara daring dengan konsep live interaktif menggunakan platform video conference sehingga bisa diikuti warga Muhammadiyah di seluruh dunia serta melibatkan semua amal usaha, majelis, lembaga dan organisasi otonomnya.

Satu konten dengan distribusi multichannel merupakan konsep konvergensi media pada era modern. Muhammadiyah sudah punya semuanya: Radio, TV, majalah dan media online.(jto)

About Redaksi Thayyibah

Redaktur