Breaking News
Sebagian pemandangan jamaah penjemput Habieb Rizieq Syihab di Terminal 3, Bandara Soeta (Foto : Okezone)

Dari Suasana Menjemput Habieb Rizieq Syihab

AKU DI ANTARA GELAP, SUKA CITA DAN AIR MATA

Oleh : Ratna Sari Habibie

Sebagian pemandangan jamaah penjemput Habieb Rizieq Syihab di Terminal 3, Bandara Soeta (Foto : Okezone)

Malam itu tepatnya 9 Nov 2020, kebahagiaan yang sangat luar biasa sejak sore, menaiki kereta bandara berdua dengan ustadzah Nenna. Sampai bandara Soeta menuju terminal 3 menaiki mobil. Hati mulai deg-degan, karena aparat sudah berbaris di terminal 3 cukup banyak. Sempat main kucing-kucingan untuk aman dari pertanyaan-petanyaan yang membuat kami berdua selamat sampai tujuan, ke ring satu Masjid Salahudin Al-Ayubi dalam rangka penjemputan Habieb Rizieq Syihab (HRS).

Yang kami anggap aman ternyata meleset, sekitar Masjid Salahudin Al-Ayubi aparat nampak di sudut-sudut taman, bangku taman, trotoar dan 100 meter di depan masjid. Banyak pencegatan dan pertanyaan, hendak apa mau ke masjid, sempat berdua kami berbohong mau sholat asar sudah kesorean jam 17:30 ini, (Padahal kami sudah sholat asar di stasiun kereta Duri).

Akhirnya kami boleh masuk melewati pos keamanan, yang terdiri dari polisi, TNI dan satpam. Karena mereka (aparat) sudah anggap kami berdua aman, karena yang kami bawa logistik dan pakaian ganti. Kami sempat ditahan oleh satpam, akhirnya kami masuk area masjid dengan perasaan kecewa, kami mau masuk masjid seperti kami ini teroris saja.

Alhamdulillah kami sudah masuk masjid walau tangan kosong tanpa bawa logistik dan pakaian ganti karena ditahan di pos satpam. Jelang sholat maghrib kami berdua dengan seorang teman laki-laki datang ke pos satpam untuk mengambil barang yang di tahan, dengan argumen macam-macam, karena emang itu pakaian ganti. Barang kami ambil tanpa ada yang kurang.

Kami pikir sudah aman. Seharusnya barang yang sudah dianggap aman tak perlu diperiksa lagi oleh oknum polwan. Tas dibuka dan dilihat isinya.

Adzan berkumandang kami bergegas ambil air wudhu untuk segera melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Setelah sholat Maghrib, jamaah ada yang tadarusan, ada yang buat bunga untuk menyambut kepulangan HRS. Ada himbauan dari polisi, setelah sholat Isya segera mengosongkan masjid karena mau ditutup.

Selesai sholat, lampu dipadamkan, saya dan jamaah lainnya gelap-gelapan sambil bersholawat dan ada pula yang mengaji. Ada yang tertidur karena lelah jauhnya perjalanan dari daerah (Jawa Barat), ada yang kipas-kipas karena kegerahan, ada yang masih buka HP melihat situasi dan kondisi mereka yang dihadang aparat di pintu-pintu masuk Bandara Soeta. Sementara kami yang sudah dalam Masjid Salahudin Al-Ayubi dikelilingi Brimob yang datang terus menerus dengan bus. Suasana agak mencekam, lebih banyak Brimob malam itu dari pada jamaah masjid .

Waktu sudah pukul 00:00, 10 November 2020. Saya tidak bisa tidur karena panas dan banyak nyamuk. Sambil buka HP melihat situasi dan kondisi mereka yang dicegat aparat. Betapa mereka haus, lapar ngantuk semua bergejolak di hati dan pikiran saya, karena setiap yang keluar dari area masjid, tidak boleh masuk lagi, penjagaan aparat sangat ketet.

Tepat jam 02 pagi, walau dalam keadaan gelap hanya sedikit sinar lampu jalan bandara, aku ke kamar mandi untuk bersih-bersih, wudhu dan segera laksanakan sholat tahajud dan witir sambil menunggu sholat subuh berjamaah.

Tepatnya pukul 04:06 waktu adzan, diantara jamaah ada yang mengajak sholat subuh berjamaah di pelipiran masjid. Karena aparat tidak izinkan masjid dibuka. Prihatin dan sangat sedih, Masjid Salahudin Aal-Ayubi yang begitu indah 10 November 2020 jamaah yang ada terpaksa sholat di pelipiran masjid karena aparat polisi melarang masjid itu dibuka. Semoga Allah mengampuni dosa pengurus masjid itu.

Tepat pukul 05:30 pagi, logistik berupa roti dan air mineral kami bagikan untuk jamaah. Tidak semua jamaah di masjid kebagian karena memang sudah dibagikan sejak malam. Alhamdulillah tepat jam 06:00 dari mujahid SAPA ISLAM tembus ke masjid untuk membagikan nasi goreng. Kami makan bersama dengan jamaah FPI Cilegon, Banten.

Terlihat dari masjid kira-kira radius 1000 meter barisan rapih putih-putih jalan menuju masjid. Tak sadar sapu yang saya pegang saya jatuhkan dan tangan saya mengadah ke atas dengan ucapan setengah histeri, Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah. Sambil air mata mengalir senang suka duka semalam menjadi satu tak terbendung.

Saya lari menghampiri barisan putih itu, buat video untuk segera saya bagikan. Tangis aku semakin menjadi banyak para mujahid yang haus karena menempuh perjalanan dari jauh Cianjur, Garut, Pandegelang, Sukabumi dan sebagainya. Saya lihat anak muda yang jempol kakinya berdarah, karena pakai sandal jepit belum lagi mereka lapar dan haus.

Masjid masih dalam keadaan tertutup apat. Mujahid-mujahidah itu semakin banyak masuk dalam area masjid. Dengan negosiasi yang baik akhirnya pintu masjid di buka, toilet dibuka, airnya di nyalahkan, lampu dinyalakan.

Dari dalam masjid dzikir sholawat dan doa pun dilantunkan sambil menunggu HRS mendarat. Ada sebagian yang jalan menuju Terminal 3 dan aku pun jalan bersama mereka sambil pegang poster dengan tulisan : “Ahlan wa Sahlan Imam Besar Habieb Rizieq Syihab”.

Waktu yang di nanti-nanti tiba. arah depan dan belakang pintu Terminal 3 dipadati jutaan masyarakat penjemput. Dengan penuh suka cita hingga rasa lapar haus dahaga sekejap hilang dengan kedatangan HRS. Banyak yag dzikir, sholawat, histeris, melihat HRS yang luar biasa wajahnya putih kemerahan, hingga tak sadar aku dan ustadzah Nenna masuk menerobos di depan mobil yang di tumpangi HRS yang melaju menuju Petamburan, Tanah Abang.

Kami bersama masyarkat dari Grogol naik mobil mengiringi HRS dari belakang. Sayang, kami ketinggalan jauh. Macet yang panjang karena banyak mobil yang parkir di badan jalan. Akhirnya kami singgah di kedai minuman untuk menghilangkan dahaga.

Kami-pun tenggelam dalam lautan manusia, para mujahid yang menjemput pemimpin yang kami cintai : Habieb Rizieq Syihab.

 

 

 

About Redaksi Thayyibah

Redaktur