Breaking News
IDN Times pernah menurunkan artilel 10 Potret Rumah Mewah Yusuf Mansur. Orang yang membaca berdecak kagum. (Foto : IDN Times)

Yusuf Mansur Memburu Dunia

Oleh: HM Joesoef (Wartawan Senior)

 

IDN Times pernah menurunkan artilel 10 Potret Rumah Mewah Yusuf Mansur. Orang yang membaca berdecak kagum. (Foto : IDN Times)

Beberapa waktu lalu, penulis bertandang ke kota Medan dan sempat bersilaturahim dengan seorang Buya yang punya pesantren besar dan sekaligus sebagai seorang pengusaha. Buya yang dimaksud adalah doktor tafsir Al-Qur’an lulusan Al-Azhar, Mesir. Ia salah satu teman dari Yusuf Mansur. Kepada penulis, Buya berkisah. Bahwa pada tahun 2013, Yusuf Mansur datang dan berceramah di kota Medan, seusai ceramah ia menawarkan investasi Patungan Usaha dan Patungan Aset untuk membangun hotel Siti di Tangerang, Banten.

Jamaah menyambutnya dengan antusias. Apa saja yang ada di badannya, emas, kalung, arloji, dan uang, diinvestasikan untuk keperluan tersebut. Si Buya juga, secara diam-diam, ikut menanam investasi. Tidak tanggung-tanggung, Rp 300 juta. “Ini belum keluarga besar saya, jumlahnya mencapai Rp 500 juta,” kata Buya. Dalam perjalanannya, Buya melihat, kok yang dilakukan oleh Yusuf Mansur tersebut semuanya berburu duniawi. Lalu ia mulai memberi nasihat.

“Kok Yusuf Mansur ini kencang benar memburu dunia,” kenangnya. Lalu, ia memberi perumpamaan. Ibarat dua orang yang sama-sama masuk ke supermarket. Yang satu hanya lihat-lihat barang, tidak membeli, lalu keluar. Orang yang tidak belanja ini, bisa cepat keluar, tanpa ada halangan, karena ia tidak membawa belanjaan . Sebaliknya, orang yang bawa belanjaan banyak, akan mengantri di kasir, dihitung belanjaannya, lalu membayar, baru bisa keluar. “Itulah bedanya orang yang disibukkan dengan urusan duniawi dengan mereka yang tidak terlalu menyibukkan dengan urusan duniawi,” begitu katanya. Lalu, perumpamaan itu disampaikan juga ke Yusuf Mansur. Tetapi, Yusuf Mansur tidak menanggapinya secara seksama. Bahkan cenderung mengalihkan topik pembicaraan. Atas dasar itulah, maka Buya tak lagi mau berpanjang-lebar dengan Yusuf Mansur. Investasi yang ia tanam pun tak lagi ditengoknya.

Jika kita cermati, sejak awal bermain investasi, di akhir tahun 2009, berupa investasi batu bara. Lalu, ada Patungan Usaha, Patungan Aset, Condotel Moya Vidi, Tabung Tanah, Veritra Sentosa Internasional (VSI, cikal bakal PayTren), sampai Treni Umroh (2017-2018). Dalam perjalanannya, semuanya bermasalah. Tetapi, masalah-masalah yang muncul di masing-masing usaha tersebut tidak pernah diselesaikan secara baik-baik, apalahi secara tuntas. Meski usahanya yang terdahulu bermasalah dan tidak ia selesaikan, Yusuf Mansur dengan percaya diri membuka usaha-usaha baru. Semuanya berujung pada penggalangan dana umat. Proyeknya pun proyek duniawi semata.

Maka, bisa jadi, ceritera Buya diatas akan menimpa Yusuf Mansur. Jika Yusuf Mansur mau menjadi seorang saudagar atau pengusaha coba tengok kisah Sahabat Abdurrahman bin Auf, satu dari 10 orang yang dijamin masuk surga. Tetapi, kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Abdurrhman masuk surga dengan cara merangkak.” Bagaimana agar bisa dengan berjalan kaki? “Pinjamkanlah hartamu kepada Allah agar lancar kedua kakimu.” (HR Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)

Sejak saat itu, Abdurrahman yang sebelumnya sudah menjadi ahli sedekah itu, bersemangat lagi dalam bersedekah. Tak tanggung-tanggung, ia berlomba dengan Usman bin Affan dalam bersedekah, termasuk dibiayainya pasukan perang Islam dengan mensedekahkan separuh dari kekayaannya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, suatu hari, ketika berada di rumahnya, Ibunda Aisyah mendengar deru onta membahana di kota Madinah. Ibunda Aisyah bertanya, “Suara apakah itu?”

“Kafilah onta milik Abdurrahman bin Auf tiba dari Syam membawa segala macam barang sebanyak tujuh ratus onta,” jawab asisten beliau.

Aisyah pun berkata, “Aku pernah mendengar Baginda Nabi bersabda, ‘Aku lihat Abdurrahman bin Auf memasuki surga dengan merangkak’.”

Ucapan Aisyah tersebut sampai ke Abdurrahman, lalu ia berkata, “Kalau bisa aku memasuki surga dengan berjalan kaki.” Tidak berlama-lama, sebanyak tujuh ratus onta dan semua yang dibawanya itu diserahkan untuk kepentingan fi sabilillah.

Di Usia 75 tahun, Abdurrahman bin Auf wafat, dan usman bin Affan yang menshalati jenazahnya. Ketika menjelang wafat, Abdurrahman berwasiat, agar setiap kaum muslimin yang mantan perang Badar diberi 400 dinar yang diambil dari harta warisannya. Setelah dihitung, ada 100 mantan perang Badar, termasuk di dalamnya Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Ia juga berwasiat, sebagian besar uangnya diberikan kepada Ummul Mu’minin (janda-janda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).

Itulah kisah Abdurrahman bin Auf, ia mensedekahkan hartanya jauh lebih banyak dibandung harta yang ditahannya untuk kepentingan anak-istrinya. Begitulah seharusnya Yusuf Mansur yang selama ini selalu mengaku-ngaku sebagai seorang pengusaha. Jika benar ia pengusaha dan mau masuk surga, maka apa yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Auf perlu diteladani. Bukan malah menggalang dan menghimpun dana umat dengan pertanggungjawaban yang selalu dipertanyakan banyak orang.

Jadilah Abdurrahman yang selalu memberi, bukan meminta sedekah orang untuk mendukung proyek-proyek pribadinya. Kepada Yusuf Mansur, berhentilah memburu dunia! Wallahu A’lam.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur