Breaking News
KH. Said Aqil Siradj (SAS), Jokowi dan Istri dalam acara Harlah Muslimat NU di GBK (27/1). Dalam acara itu KH. SAS sampaikan pidato yang kotroversial itu (Foto : detik)

SALAH SEMUA

Oleh : M Rizal Fadillah

 

KH. Said Aqil Siradj (SAS), Jokowi dan Istri dalam acara Harlah Muslimat NU di GBK (27/1). Dalam acara itu KH. SAS sampaikan pidato “Salah Semua”  itu (Foto : detik)

 

Pernyataan Ketum PB NU Said Agil Siradj mengenai jabatan jabatan di berbagai lembaga dari Menteri sampai Imam Khatib harus semua NU telah menimbulkan kegelisahan dan tanggapan. Dari MUI Pusat pun menyayangkan pernyataan tersebut. Bahwa perjuangan atau motivasi kepada kader NU untuk menguasai jabatan-jabatan bisa saja dianggap wajar. Akan tetapi dengan kalimat jika bukan NU “salah semua” maka tentu dinilai tak wajar bila diungkap oleh seorang pejabat puncak organisasi kemasyaratan Islam.

Meskipun sudah sering Said Agil melempar ungkapan kontroversial, namun saat ini menyodok semua elemen umat Islam non NU dengan menyatakan “salah semua” seolah kebenaran itu milik NU dan satu satunya organisasi kebenaran hanya NU. Sikap ini sebenarnya adalah ‘arogansi’ dalam klaim kebenaran. Sebagai muslim apalagi tokoh seharusnya tingkat pengendalian emosi cukup tinggi. Meski diucapkan pada acara organ NU sendiri yakni peringatan Harlah Muslimat NU tapi terdengar dan tersebar luas. Banyak kelompok umat yang merasa “tertampar” oleh ucapan sang kyai ini. Melihat karakternya, jika ditegur pun maka nampaknya teguran dari manapun akan diabaikan.

Biasanya yang dijadikan isu dan diangkat oleh Kyai Said Agil terhadap kelompok yang diwaspadai adalah kelompok intoleran, anti kebhinekaan, atau radikal. Nah saat ini terbukti sebenarnya Said Agil lah yang intoleran, anti kebhinekaan dan radikal itu. Menafikan eksistensi kekuatan atau organisasi lain apalagi sesama organisasi da’wah bukan saja tidak etis tapi juga tidak berdiri di kaki realitasnya. Sangat kontra produktif. Pemahaman Islam di bumi Nusantara ini sangat beragam dan tidaklah seragam. Inilah kekayaan bangsa. Karenanya harus toleran (tasamuh). Kecuali faham keagamaan yang sesat atau masuk kategori penodaan agama yang tidak boleh ditoleransi. Fakta yang ada adalah banyaknya ormas Islam dengan perbedaan pemahaman keagamaan. Meski nuansa perbedaan itu sebenarnya bersifat furu’iyah atau metodologi istimbath hukum atau pada strategi pengembangan da’wah.

Dalam banyak kesempatan Said Agil ketika membahas kemajemukan agama, sering mengungkapkan bahwa semua agama itu sama dalam mencari kebenaran dan semua agama itu menginginkan kebaikan. Ber “misan” satu dengan yang lain. Menurutnya semua agama memiliki nilai nilai universal. Bagi Said Agil tidak perlu merasa fanatik pada kebenaran agama sendiri. Disinilah ironi dari pandangannya itu ketika konteksnya adalah agama agama maka “semua benar” tapi ketika internal sesama umat beragama Islam menjadi “salah semua” kecuali NU.

Egosentrisme organisasi atau faham dalam beragama mesti dihindari. Sifat ananiyah dicela dalam agama. Bila sifat negatif ini dipelihara nanti seperti Fir’aun yang mengatakan “Ana robbukumul ‘ala” atau seperti Louis XlV yang berujar “L’etat cest moi”. Semua bermula dari “Aku” dan berujung pada akhir kehidupan yang buruk.

Sesama muslim harus saling mengingatkan, agar ia tidak terperosok dalam kezaliman yang membawa kerugian di dunia dan akherat. Moga ucapan ini hanya “Slip of the tounge”. Namun jika “tounge” kita sering “slip” maka perlulah rasanya kita memperbanyak istighfar. Astaghfirullah al adhim.

 

About Redaksi Thayyibah

Redaktur