Breaking News
Amin Rais (foto : suaramuhammadiyah)

DITUNGGU MUNCULNYA AMIEN RAIS MUDA

Oleh : Budi Nurastowo Bintriman

Amin Rais (foto : suaramuhammadiyah)

Lagi-lagi tokoh senior, Bapak Reformasi, Amien Rais mengkritik rezim berkuasa dengan sangat tajam, keras, dan lugas. Ini membawa ingatan kita ke masa silam. Kala itu akhir tahun 1997 hingga awal tahun 1998. Rezim orde baru yang berpondasi pada tiga kekuatan ABRI – Birokrasi – dan Golkar (ABG) sedang di puncak kekuasaan dan di puncak kekuatan. Rezim berkuasa melenggang sekehendak hati secara absolut. Beliau menjadi penentu merah-hitamnya nasib ratusan juta rakyat Indonesia.

Namun demikian, ada seorang tokoh progresif, cerdas, pemberani, dan alim yang mengkritik secara tajam, keras, dan lugas terhadap rezim orde baru. Ia adalah putera Surakarta “didikan” Yogyakarta, bernama Muhammad Amien Rais. Beliau nyaris sendirian, hingga dikomentari oleh banyak kalangan, sebagai pria yang urat-urat takutnya telah tak berfungsi. Tapi lambat-laun substabsi kritikannya menjadi asupan bergizi bagi gerakan pro demokrasi, pro rakyat, dan pro kedaulatan bangsa. Beliau pun kemudian menjadi lokomitif reformasi.

Kritikan-kritikannya banyak mewarnai head line surat kabar nasional dan lokal. Kasus yang paling disorot adalah penyelenggaraan pemerintahan yang amburadul, hingga tak mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila. Bukti nyatanya adalah bagaimana negara Indonesia menjadi “jongos” untuk negara asing melalui penambangan emas di Kalimantan dan Papua. Bangsa Indonesia dijadikan penonton, dan hanya mendapatkan cipratan yang tak rasional sama sekali. Apalagi masyarakat setempat, karena cipratannya itupun ditilep oleh segelintir orang Jakarta.

Melalui asbab keberanian tokoh ini, rezim orde baru tumbang, setelah 32 tahun berkuasa. Jalinan ABG tak lagi adigang adigung adiguno. Tiga lembaga ini kemudian direformasi sedemikian rupa. Mereka setara dengan lembaga-lembaga lain dalam koridor proporsionalitas dan demokrasi. Seluruh rakyat Indonesia patut berterima kasih kepada semua elemen bangsa yang berjuang menegakkan orde yang lebih baru, yaitu orde reformasi. Bangsa Indonesia patut bersyukur kepada Allah SWT yang berkenan menghentikan praktek-praktek negara modern tapi lalim.

Kini Amien Rais “mengaum” lagi. Di saat reformasi telah berusia 20 tahun, masih ada kenyataan buruk, segelintir orang menguasai 50% kekayaan nasional. Kenyataan buruk lainnya, ada segelintir orang yang menguasai lahan yang akumulasi luasnya tak terkira-kira. Sementara di mana-mana, banyak rakyat yang tak punya tanah, untuk sekedar tempat tinggal. Pemerintah Joko Widodo merespon keadaan ini dengan membagi-bagi sertifikat tanah kepada rakyat. Bagi-bagi sertifikat tanah ini kemudian dikomentari oleh Amien Rais sebagai PENGIBULAN. Sebuah komentar kritis yang khas Amien Rais, meskipun sekarang ini beliau sudah masuk sebagai tokoh sepuh.

Kritikan Amien Rais langsung menjadi berita heboh di Tanah Air. Banyak kalangan dari kubu Jokower yang tipis telinga, mencak-mencak. Salah satu di antaranya adalah Luhut Binsar Panjaitan. Ia mengumbar ancaman akan balik “mengobok-obok” dosa-dosa Amien Rais. Kita ketahui bersama, bahwa LBP ini, pada masa orde baru, adalah “anak buahnya” Pak Harto dari unsur “A” (dan setelah purna, ia masuk ke unsur “G”). Apakah Amien Rais keder terhadap intimidasi gaya orba tersebut? Tentu tidak sama sekali! Maka jika Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah siap menfasilitasi “ring duel” Amien versus Luhut, pastilah LBP yang akan lari ngacir tunggang-langgang. Mari kita tunggu tanggal mainnya! Terbukti atau tidak prediksi ini?

Mari kita jeli dan jernih melihat persoalan ini. Pertama, pilihan diksi “pengibulan” bukan ditujukan kepada kegiatan Joko Widodo yang bagi-bagi sertifikat tanah kepada rakyat. Kegiatan itu benar adanya, siapapun tak bisa menyangkalnya. Tapi diksi “pengibulan” itu sebenarnya ditujukan kepada siasat akal bulus, yang sekedar untuk menutupi ketidakberdayaan pemerintah dalam menangani dua kenyataan buruk yang tersebut di atas (tentang penguasaan kekayaan nasional dan tentang penguasaan lahan). Ke dua, pilihan diksi itu tentu sudah sangat diperhitungkan. Mengapa? Karena sangat jelas. Jika kita murni dan konsekuen dalam berpancasila dan ber-UUD 45, maka dua kenyataan buruk tersebut tak boleh terjadi. Apalagi ada upaya menutup-nutupinya. Maka ini menjadi barang haram di bumi Pancasila. Jadi sudah sangat pas dan wajar, jika seorang Amien Rais menggunakan kata yang setajam-tajamnya, sekeras-kerasnya, dan selugas-lugasnya. Ke tiga, sudah saatnya muncul Amien Rais muda. Ini fenomenanya tokoh-tokoh muda malah jadi KANCIL PILEK. Dan anak-anak mudanya malah lebih suka membebek. Apakah saat ini tokoh-tokohnya sudah terjebak oleh kenikmatan dan kenyamanan dari berkah reformasi? Tampaknya mahasiswa juga perlu disapa. Halo apa kabar mahasiswa Indonesia? Ke empat, meskipun begitu, misi amar makruf nahi mungkar sejatinya memang tak kenal istilah pensiun. Jadi ini sudah menjadi pilihan hidup seorang Amien Rais. Maka pantaslah dirundung malu sepanjang hayat bagi kita-kita yang tak mau satu shaf dengan beliau.
Wa-ALLAHU a’lam.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur