Breaking News
Ilustrasi Orang Meninggal

Mengambil Pelajaran dari Kisah Kematian

Ilustrasi Orang Meninggal
Ilustrasi Orang Meninggal

thayyibah.com :: Sungguh seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kebiasaannya. Pernahkah kita mendengar banyak kisah tentang itu? Berikut ini adalah kisah-kisah yang mencoba menggugah hati kita untuk membiasakan diri beramal sholeh sehingga tatkala maut menjemput kitapun dalam keadaan beramal sholeh.

Kisah Pertama: kisah seorang ahli ibadah Abdullah bin Idriis (190-192 H). Dari Husain Al-‘Anqozi, ia bertutur :
Ketika kematian mendatangi Abdullah bin Idris, maka putrinya pun menangis, maka Dia pun berkata: “Wahai putriku, jangan menangis! Sungguh, Aku telah mengkhatamkan al Quran dirumah ini 4000 kali” (Lihat Taariikh Al-Islaam karya Ad-Dzahabi 13/250, Ats-Tsabaat ‘inda Al-Mamaat karya Ibnil Jauzi hal 154).

Kisah kedua : Kisah Abu Bakr bin ‘Ayyaasy (193 H). Tatkala kematian mendatangi Abu Bakr bin ‘Ayaasy maka saudara perempuannya pun menangis. Maka Abu Bakrpun berkata kepadanya, “Janganlah menangis, lihatlah di pojok rumah ini, sesungguhnya saudara laki-lakimu ini telah mengkhatam kan Al-Qur’an di situ sebanyak 18 ribu kali” (Lihat Hilyatul Auliyaa’ karya Abu Nu’aim 8/304 dan Taariikh Baghdaad 14/383).

Ahli ibadah ini Abdullah bin Idris telah mengkhatam kan Al-Qur’an sebanyak 4000 kali. Abu Bakr bin ‘Ayyaasy telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 18 ribu kali…..semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis ini. waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadi.

Kisah Ketiga : Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair. Mush’ab bin Abdillah bercerita tentang ‘Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah:

‘Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid!!” merekapun berkata, “Engkau dalam kondisi sakit !” ,

Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandang kan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku ! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama’ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia. (Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142).

Pun Anas bin Nadzir yang melihat surga di kaki bukit Uhud. Kematian yang spektakuler. Salah satu kisah yang tidak gentar menjemput kematian karena keyakinan atas janji Allah bagi orang-orang yang mati dalam jihad fi sabilillah. Seperti halnya yang dialami Anas bin An-Nadhir yang disebabkan oleh kekuatan dan keyakinannya, membuat Anas bin An-Nadhr r.a, paman Anas bin Malik r.a. memberikan respons spontan kepada Sa’ad bin Muadz r.a. tatkala pasukan mukmin terdesak oleh musyrikin di Perang Uhud dengan ucapannya,
“Ya Sa’ad! Surga, surga…. Aku mencium baunya di bawah bukit Uhud.”

Kemudian beliau maju menjemput syahid hingga jenazahnya tidak dapat dikenali, kecuali oleh saudara perempuannya melalui jari tangannya. (Muttafaq Alaih, Riyadhus Shalihin, Kitab Al Jihad, Hadits No 1317).

Imam Al-Qurthubi berkata:
“Ketahuilah sesungguhnya mengingat kematian menyebabkan kegelisahan dalam kehidupan dunia yang akan sirna ini, dan menyebabkan kita untuk seantiasa mengarah ke kehidupan akhirat yang abadi.”

Iblis akan berusaha menggangu manusia meski saat ajal menjelang hingga terlepasnya nyawa. Apakah kita akan mendapatkan kemenangan atau kekalahan.

Berharap akan mendapatkan kebahagiaan kala perjumpaan dengan Rabb semesta alam. Surga nan indah yang dicitakan kan dapat diraih. Wajah-wajah cerah pada hari kala berkumpul bersama saudara seiman. Semoga semua kan jadi kenyataan. (put/thayyibah)

Oleh: Rochma Yulika

About Lurita

Online Drugstore,cialis next day shipping,Free shipping,order cialis black,Discount 10%, dutas buy online