Breaking News

Belajar dari junjungan kita Rasulullah SAW

Shalawat-Nabi-Muhammad

thayyibah.com :: Beliau sebagai Guru dari seluruh Guru, di awal menapaki jalan kepada Allah secara istiqamah Beliau melakukan I’tikaf/suluk di Gua Hira dengan bimbingan Jibril as sampai Beliau mengenal Allah dengan sebenar kenal sehingga ketika Beliau ber-iqra’ dengan nama Allah maka cahaya Allah hadir melingkupi seluruh tubuh Beliau.

Apa yang dilakukan Nabi di gua hira menjadi landasan bagi pengamal tarekat dikemudian hari tanpa mengubah sedikit pun, inilah pondasi dari segala ibadah, menguatkan Kalimah Allah dalam diri sehingga dengan adanya kalimah Allah apapun yang dilakukan akan sesuai dengan petunjuk dan keinginan dari Allah SWT. Sekian tahun Nabi berdakwah, sebelum turunnya perintah shalat yang merupakan kesempurnaan dari ibadah, maka Nabi serta para sahabat mempratekkan apa yang sering dikerjakan Nabi selama di gua hira, yaitu Dzikir menganggungkan asma-Nya.

Tulisan yang membahas tentang Nama Allah ini bukan bermaksud untuk mengajak berdebat, ini hanya sebuah pengetahuan yang memberikan kesadaran kepada kita semua bahwa al-Qur’an tersebut bukan hanya sebuah kitab suci yang di simpan di tempat tinggi, sekedar dimuliakan, tetapi lebih jauh al-Qur’an adalah teknologi Maha Dahsyat warisan Rasulullah yang di dalamnya mengandung energi tidak terbatas yang bisa digunakan untuk kemakmuran dunia, bahkan dunia ini bisa tertunda kehancurannya.

” Dan sesungguhnya andaikata ada suatu bacaan (kitab suci) yang dapat membuat gunung-gunung berjalan/berguncang dahsyat atau bumi dipotong potong/dibelah-belah atau orang-orang mati diajak bicara/dapat berbicara (niscaya kitab suci itu ialah Al-Qur’an. Dan mereka pun tidak juga mau beriman).”(QS.Ar-Ra‟ad,31)

Ayat tersebut memberikan informasi kepada kita akan kehebatan al-Qur’an, siapa pun bisa mewujudkan apa yang tercantum disana asal memenuhi rukun dan syaratnya. Siapapun bisa menghidupkan orang mati seperti yang di lakukan Nabi Isa, siapun bisa membelah laut seperti Nabi Musa, siapa pun bisa mikraj seperti Nabi Muhammad asal memenuhi rukun dan syaratnya. Itu lah sebabnya kenapa Nabi menyebut al-Qur’an sebagai warisan untuk ummat, warisan yang tidak ternilai harganya, bisa dimanfaatkan oleh siapapun dan pada dimensi manapun.

Contoh yang menarik misalnya, Thomas Alva Edison si penemu listrik, mengarang sebuah kitab yang berisi bagaimana cara bisa membuat listrik. Kemudian dengan sangat yakin Edison berkata, “Bawalah Kitab ku ini dalam gelap, niscaya gelap menjadi terang”, kata-kata ini ditulis dengan tebal di sampul kitab nya. Kemudian salah satu kitab yang dicetak sampai ke sebuah desa di balik desa, dibaca oleh orang awam. Apa yang dilakukannya? Dia secara harfiah memaknai kata Edison, kitab itu dibawa ke dalam gelap, kemudian ditunggu lama dengan harapan kitab itu mengeluarkan cahaya sehingga disekitarnya menjadi terang. Di tunggu berhari-hari, kemudian digunakan ritual membakar menyan, dimandikan air 7 sumur, tetap kitab tersebut tidak mengeluarkan cahaya.

Andai kitab Edison dibaca oleh sarjana listrik apa yang terjadi? Pasti dia mampu memahami apa yang dimaksud oleh Edison, dia akan membaca isi kitab kemudian menggunakan teknologi yang ada di dalamnya sehingga mampu membuat sebuah generator untuk menghasilkan listrik.

Orang desa di balik desa yang tidak berhasil membuat kitab Edison menjadi terang kemudian mewariskan kitab tersebut kepada anaknya, dengan pesan bahwa kitab ini mampu membuat gelap menjadi terang, dari generasi ke generasi tetap saja mereka berada dalam kegelapan dikarenakan mereka tidak mampu memahami isi kitab si Edison. Barangkali digenerasi kesekian orang mulai meragukan ucapan Edison dan menganggapnya berbohong. Pernahkah kita renungkan ayat yang menceritakan bahwa apabila al-qur’an di letakkan di atas bukit maka niscaya bukit akan hancur, pernahkah kita membuktikannya? Atau kita hanya menjadi orang desa di balik desa yang tidak paham teknologi yang memahami segala sesuatu hanya berdasarkan ilmu warisan leluhur semata, sehingga al-qur’an hanya menjadi bacaan semata, diperlombakan cara membacanya dengan syahdu tanpa bisa menggali teknologi yang tersimpan di sana.

Disini sebenarnya letak kekeliruan sebagian besar ummat Islam, ingin hasilnya tapi menolak metodologinya. Semua ingin merasakan kehebatan al-Qur’an tapi mereka lupa metodologi untuk menghasilkan energi al-qur’an tersebut ada pada Thariqatullah yang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat, para ulama sampai akhir zaman. Tidak mungkin Allah memberikan al-Qur’an kepada Nabi tanpa memberikan metodologinya, tidak mungkin Rasul mewariskan al-Qur’an kepada ummat tanpa memberikan rahasia cara menggunakannya, memberikan metodologinya, sehingga al-Qur’an mampu mengeluarkan energi Maha Dahsyat.

Warisan tersebut secara zahir bisa dibaca oleh semua orang, kita kenal sebagai kitab suci al-Qur’an yang terus dicetak dengan mesin cetak buatan manusia, sedangkan rahasia untuk mengeluarkan energi yang dahsyat, salah satunya mampu membuat rohani manusia mikraj sampai kepada Allah yang Maha Tak Terhingga diwarisikan, dibisikkan kepada ulama pewaris Nabi, dibisikkan kepada para kekasih Allah sampai akhir zaman. Itulah yang disebut dalam hadist sebagai “karung kedua” yang hanya diberikan kepada ahlinya.

, semua orang bisa membaca kalimah Allah, sedikit yang memahami, lebih sedikit lagi bisa mempraktekkannya dalam kehidupan, dan yang paling langka adalah Sang Ahli seorang Master yang bisa mengajarkannya rahasia tersebut kepada ummat sebagai warisan tak terhingga dari Sang Nabi.

Semua Guru mengatakan Allah ada, sangat sedikit yang mampu membawa sampai kehadirat-Nya.

Sumber: Loveislam

About A Halia