Breaking News
Orang sedang mengaji

Tiga Sifat Unggulan Manusia Pilihan Allah

 

Orang sedang mengaji
Orang sedang mengaji

Aspek Tilawah dan Tahfiz

thayyibah.com :: Aspek tilawah maksudnya kemampuhan untuk membaca Alquran dengan tartil. Sedangkan tahfiz maksudnya adalah upaya menghapal sebagian atau keseluruhan Alquran.

Keharusan membacanya dengan tartil karena orang yang trampil dalam membacanya akan hidup bersama para rasul kelak di dalam surga.

Rasulullah saw. bersabda:

عن عَائِشَةَ قالت قال رسول اللَّهِ ﷺ الذي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وهو مَاهِرٌ بِهِ مع السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَؤُهُ وهو عليه شَاقٌّ فَلَهُ أَجْرَانِ

Artinya: “Orang yang membaca Alquran dengan lancar, dia bersama para rasul (atau malaikat) yang mulia. Sedangkan orang yang membacanya dengan susah, dia mendapatkan dua pahala” (Abu Daud 5/2904; Tirmidzi 5/2904, hadits hasan sahih).

Kemampuan ini harus dipraktikkan dengan cara membaca Alquran setidaknya SEJUZ dalam SEHARI, sehingga bisa khatam Alquran pada setiap bulan.

Rasulullah saw. menyuruh Abdullah bin Amr bin Ash untuk mengkhatamkan Alquran dalam sebulan (iqra’ Alqurana fi syahrin!).

Tetapi Abdullah menawar karena merasa mampu melakukan lebih dari itu. Rasulullah saw. memerintahkannya agar mengkhatamkan Alquran selama 20 hari. Ia masih menawar, maka Rasulullah saw. memerintahkannya agar mengkhatamkan Alquran dalam 15 hari.

Ia masih menawar, maka Rasulullah memerintahkan nya untuk mengkhatamkan nya dalam 10 hari.

Ia masih menawar, hingga Rasulullah memerintah kannya untuk mengkhatam kan Alquran dalam seminggu, dan melarang untuk mengkhatamkan Alquran lebih cepat dari seminggu (Abu Daud, 2/1388).

Dalam riwayat lain, ia masih terus menawar, hingga Rasulullah saw. memberikan dispensasi untuk mengkhatamkan Alquran dalam 3 hari dan tidak boleh lebih cepat darinya: “Tidak akan memahami Alquran orang yang membacanya kurang dari 3 hari” (Abu Daud, 2/1390).

Meskipun tidak sampai pada batas kelayakan sehari sejuz, sesibuk apapun orang yang ingin mendapatkan keunggulan di sisi Allah maka ia harus menyempatkan untuk membaca Alquran sebisa mungkin.

Demikian Umar bin Abdul Aziz ketika sangat sibuk dengan tugasnya sebagai khalifah. Dikabarkan bahwa beliau selalu menyempatkan untuk membaca mushaf Alquran dua atau tiga ayat agar tidak dikategorikan sebagai orang yang telah mengabaikan Alquran.

Keharusan untuk menghapalnya karena orang yang menghapal Alquran akan menjadi “keluarga” Allah dan orang yang dekat dengan-Nya.

Rasulullah saw. bersabda:

عن أَنَسِ بن مَالِكٍ قال قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ من الناس! قالوا يا رَسُولَ اللَّهِ: من هُمْ؟ قال: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Artinya: “Allah memiliki “keluarga” dari manusia. Siapa mereka wahai Rasulullah?
Beliau menjawab: mereka adalah ahlul Quran: “keluarga” Allah dan orang-orang dekat-Nya” (Ibn Majah 1/215).

Aspek Pemahaman dan Perenungan

Pemahaman artinya upaya memahami makna-makna serta ajaran yang dikandungnya. Sedangkan perenungan artinya merefleksikan makna-makna dan ajarannya itu (tadabbur).

Aspek pemahaman karena hal yang melekat dengan tilawah adalah pemahaman. Itu sebabnya Rasulullah saw. melarang untuk mengkhatamkan Alquran kurang dari 3 hari.

Alasannya karena orang yang membaca Alquran dengan super cepat tidak akan disertai dengan upaya menangkap makna-makna yang dikandungnya.

Karena itu idealnya semua kita mengerti bahasa Alquran, sehingga setiap kalimat yang dibaca bisa ditangkap makna-makna yang dikandungnya. Setidaknya kita harus terus berusaha memberdayakan kemampuhan itu.

Di zaman ini banyak program atau cetakan mushaf Alquran yang bisa memberikan ketrampilan ini bagi umat Islam sekarang.
Abu Ja’far berkata:  “Aku heran dengan orang yang membaca Alquran tetapi tidak mengerti maknanya. Bagaimana mungkin dia bisa menikmati bacaannya?” (Yaqut Hamawi, Mu’jam Udaba, 5/256).

Aspek perenungan karena orang yang memahami saja belum tentu bisa terlibat secara emosi dan terpengaruh dengan makna dan ajaran Alquran.

Cara terpenting untuk hal itu adalah menerungkannya.
Alquran mengajarkan bahwa dengan merenungkan ayat-ayat Alquran akan membuat hati menjadi terbuka untuk menangkap hidayah Allah swt.

Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Artinya: “Apakah mereka tidak merenungkan Alquran ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad [47]: 24).

Orang yang memahami dan merenungkan makna-makna Alquran akan terlibat secara emosi dengan pembicaraan Alquran.

Sehingga bisa menangis dan bahagia karena kesedihan dan kebahagiaan yang dibahas di dalam Alquran.

Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّ هذا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ، فإذا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا! فَإِنْ لم تَبْكُوا، فَتَبَاكَوْا! وَتَغَنَّوْا بِهِ! فَمَنْ لم يَتَغَنَّ بِهِ فَلَيْسَ مِنَّا

Artinya: “Sesungguhnya Alquran ini diturunkan dengan kesedihan. Jika kalian membacanya, maka menangislah! Jika tidak bisa menangis, maka berusahalah untuk menangis! Dan lagukanlah bacaannya! Siapa yang tidak membacanya dengan indah, maka dia bukan bagian dari kami” (Ibn Majah, 1/1337).

Pada suatu malam, Umar bin Khattab mendengar seorang qari membaca Surat At-Thur (1-8). Ia mendengar firman Allah:
إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ. مَا لَهُ مِن دَافِعٍ

Artinya: “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi. Tidak seorangpun yang dapat menolaknya” (At-Thur [52]: 7-8).

Ketika itu Umar berujar: “Sumpah yang benar demi Allah Pemilik Ka’bah”, dan beliau pingsan, karena takut dengan azab yang akan terjadi. Seorang sahabatnya bernama Aslam membawa pulang ke rumahnya. Dan beliau sakit selama 30 hari, hingga orang-orang menengoknya. Hal ini menjadi contoh bagaimasa seseorang terlibat secara emosi dengan pembicaraan Al-Quran.

Aspek Amal

Orang yang mengimani, membaca dan menghapalnya, memahami dan merenungkan makna-makna yang dikandung di dalamnya sampai pada tingkat terlibat secara emosi dengan pembicaran Alquran, maka dia pasti akan mampu mengamalkan ajarannya.

Demikian kebiasaan para sahabat dalam mempalajari Alquran, mereka belajar ilmu dan amal.

Abu Abdirrahman as-Sulami berkata:
Para sahabat yang mengajarkan al-Quran kepadaku (Utsman bin Affan, Abdullah bin Ma’sud dan lain-lain) mengatakan: jika mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi SAW, mereka tidak melewatinya sampai tuntas mempelajari kandungannya, baik ilmu maupun amal.

Mereka mengatakan: kami belajar ilmu dan amal” Musnad Ahmad, 5/23529. (put/thayyibah)

About Lurita

Online Drugstore,cialis next day shipping,Free shipping,order cialis black,Discount 10%, dutas buy online