Breaking News

Cara Menghadapi Orang yang Membenci Kita

telurthayyibah.com :: Bagaimana cara menghadapi orang yang membenci kita?

Menurut saya, itu bagian dari hidup. Akan selalu saja ada yang membenci kita.

Rasulullah SAW saja ada yang membenci, apalagi kita.

Mengapa sikap kita harus benar?

Karena hidup kita terlalu berharga, jangan sampai motivasi, pikiran, dan usaha kita meraih sukses terganggu oleh kehadiran orang yang membenci kita.

Sikap Positif Terhadap Orang yang Membenci Kita

tidak ada kebencian

Jadi, bagaimana cara menghadapinya?

Ya biarkan saja, selama dia tidak melakukan kedzaliman kepada kita.

Saya akan lebih fokus pada diri saya. Kecuali dalam kondisi tertentu yang mengharuskan kita membela diri, maka kita harus membela diri. Jika hanya benci, ya biarkan saja. Itu adalah pilihan orang itu.

Dibawah ada 7 sikap yang bisa kita lakukan. Bisa dipilih salah satu atau beberapa yang cocok dengan kondisi Anda.

Minta Maaf Jika Kita Memang Salah

Mungkin seseorang membenci kita karena kita memiliki kesalahan. Cari tahu apa salah kita dan minta maaflah. Mungkin ada sikap dan kata kita, yang tanpa disadari membuat orang tersebut tersinggung atau terluka.

Jika perlu, tanya kepada orang yang bersangkutan. Jika sulit, coba tanya dari orang yang dekat dengan orang tersebut. Mungkin saja mengetahui kesalahan kita.

Bagaimana jika kita sudah minta maaf tetapi dia tidak memaafkan?

Kita sudah melakukan bagian kita. Selanjutnya urusan dia dengan Allah. Kita sudah tidak ada urusan lagi, jadi mengapa harus repot?

Yah, kadang, ada juga orang yang membenci kita tanpa alasan atau alasan yang tidak masuk akal. Misalnya ada orang yang rasis karena kita suku atau bangsa tertentu. Atau karena warna kulit yang berbeda.

Sambung Tali Silaturahmi

Cara menghadapi orang yang membenci kita yang sangat positif adalah dengan berusaha menyambung silaturahmi dengan dia. Cobalah untuk tetap berhubungan, berteman, atau berinteraksi secara normal.

Tentu harus hati-hati, jangan sampai kita justru memberikan peluang dia untuk berbuat jahat. Kita tetap berbuat baik kepada dia, sambil tetap waspada.

Bantulah dia saat membutuhkan bantuan. Hargai pendapat dia. Hormati keputusannya. Sayangi teman dan keluarganya. Tentu dengan menjaga sikap kita jangan sampai terlihat menjilat.

Tidak mudah, hanya orang yang berhati besar bisa melakukan ini. Termasuk Anda bukan?

Bagaimana jika dia tetap tidak mau bersilaturahmi dengan kita?

Sekali lagi, kita sudah melakukan bagian kita. Selanjutnya fokus pada diri sendiri saja, tidak perlu menghabiskan waktu kita untuk memikirkan dia. Jika ada kesempatan bertemu, tetaplah bersikap baik. Selain itu, fokus pada diri sendiri saja.

Menjadi Bahan Intropeksi

Kadang, pendapat orang yang membenci kita itu jujur. Dia menunjukan hal-hal yang jelak dan kurang pada diri kita. Berbeda dengan pendapat teman yang sungkan kepada kita, sehingga tidak mengungkap kekurangan kita yang sebenarnya.

Kita seolah memiliki coach yang selalu menunjukan kekurangan dan kesalahan yang kita lakukan. Tentu, bisa saja dia mengatakan yang tidak benar dan mengada-ngada karena kebencian. Namun kita sendiri bisa menyaring, pendapat mana yang benar atau salah.

Kadang … bisa jadi orang membenci kita sebenarnya tidak ada yang salah dengan kita. Jika bicara kekurangan dan kesalahan, semua orang juga punya kecuali para nabi. Kita sendiri tidak membenci orang lain bukan? Yang kita benci adalah kelakukannya bukan?

Maafkanlah

Meski dia tidak pernah minta maaf. Tapi kita bisa selalu memaafkan apa yang dia lakukan. Memaafkan jauh lebih mulia dan membawa kebaikan dibandingkan kita mencoba untuk membalasnya.

Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Al-Syuura: 40)

Memaafkan jauh lebih baik bagi kita. Apalagi dibandingkan dengan balik membenci dan dendam.

Bersabar

Dan Kami jadikan sebagian kamu, (sebagai) cobaan bagi yang lain. Sanggupkah kamu bersabar?. Dan Rabb-mu Maha Melihat.” (QS. 25: 2)

Bisa jadi kehadiran orang lain yang membenci kita adalah cobaan dari Allah, sejauh mana kita bershabar. Kehadiran orang lain itu sebagai cara untuk menjadikan kita lebih baik dan lebih dewasa.

Do’akan Kebaikan dan Kesadaran

Do’akan saja, mudah-mudahan Allah memberikan kesadaran bahwa sikap membenci itu tidak baik. Mudah-mudahan dia memaafkan kita jika kita memang salah. Atau dia sadar dan mau berdamai serta bersilaturahim.

Do’akan dengan serius ya. Buktikan bahwa kita orang yang tidak sama dengan dia. Kita lebih baik dengan berharap kebaikan bagi dia. Bukan pedengki yang mengharapkan keburukan.

Bersyukur

Bersyukur bukan kita yang membenci. Hati yang dipenuhi benci itu tidak baik. Berisi emosi negatif yang merusak.

Jadi, saat kita tidak menjadi orang pembenci, itulah adalah nikmat. Nikmat harus disyukuri. Maka bersyukurlah bahwa kita bukan pembenci seperti dia.

 

Sikap-sikap positif diataslah yang membedakan seseorang. Siapa yang ikhlas dan berakhlaq mulia, siapa yang tidak. Bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia, tetapi agar kita mendapat ridla Allah. Itu saja tujuan kita.

Memang, dalam kondisi tertentu kita tidak bisa membiarkan orang yang membenci kita, saat dia melakukan kedzaliman, merampas hak kita, dan membahayakan diri kita. Kita harus membela dan melindungi diri. Lakukan dengan cara yang baik, jika harus, lakukan dalam koridor hukum.

Mudah-mudahan kita selalu diberikan kesabaran dalam menghadapi orang yang membenci kita.

 

Sumber: motivasi-islami

About A Halia