Breaking News
(Foto : Abdillah Toha)

Islam Otentik

Oleh: Abdillah Toha

(Foto : Abdillah Toha)

Saya pernah ditanya beberapa ibu yang rajin ke pengajian bagaimana caranya mencari ustadz atau guru agama yang baik. Jawab saya gampang. Cari yang tidak mengajar kebencian. Cari yang ngajarnya dengan suara lembut dan tidak sambil marah-marah. Cari yang tawadhu’, rendah hati, dan tidak merasa paling benar.

Melihat makin maraknya pengajian dimana-mana, makin banyaknya ustadz dan guru agama di tv, panggung dakwah dan politik, majelis-majelis, dan berbagai tempat, makin intensnya diskusi agama di berbagai medsos, kawan saya kemarin sempat berseloroh bahwa sekarang ada Islam hoax. Maksudnya Islam palsu. Bukan Islam otentik yang asli, tulen, dan original. Islam yang bukan menyelesaikan masalah tetapi membikin masalah.

Apa Islam otentik itu benar ada? Dikatakan otentik itu biasanya bila bisa dibuktikan asal usulnya dan bukti-bukti sejarahnya. Sebagian ilmuwan peneliti agama yang agnostik menganggap bahwa para nabi seperti Musa, Jesus, dan Muhammad itu a-historis sehingga menyimpulkan bahwa agama-agama samawi itu tidak ada yang otentik. Itu semua hanya legenda yang turun temurun. Alasannya, tidak ditemukan bukti-bukti sejarah dan arkeologi yang membenarkan bahwa mereka pernah eksis. Lagi pula, naskah-naskah kuno pertama tentang agama biasanya ditulis sekian abad setelah pembawa wahyu meninggal sehingga naskah itu sendiri diragukan kecermatannya.

Tentu saja pendapat sejarawan itu ditolak oleh penganut agama. Tidak semua yang tidak ditemukan bukti arkeologisnya berarti tidak pernah eksis. Sama saja dengan mengatakan bahwa karena saya mencari dan tidak menemukan rumah anda maka saya menyimpulkan bahwa anda tidak punya rumah. Namun demikian, tetap saja tidak mudah bagi penganut agama untuk menjamin bahwa pemahaman dan praktik keagamaannya itu sepenuhnya otentik karena alasan dibawah ini.

Kita ambil contoh Islam. Sebagai penganut agama Islam, boleh dikata tidak ada satu pun Muslim yang meragukan otentisitas dan keaslian kitab sucinya Al-Quran. Namun demikian, bila kita sudah masuk pada tahap penafsiran Al-Qur’an, maka dalam teks yang sama dan kita sepakati sering kita akan dapati berbagai variasi dan perbedaan makna dan tafsir ayat ayat dalam buku suci Islam tersebut. Apalagi ketika kita masuk lebih dalam ke ranah sejarah dan sunnah Nabi yang meliputi riwayat perilaku dan kata-kata Nabi. Satu contoh saja pada bulan maulid Nabi ini. Maulid yang berarti hari kelahiran, tidak ada kesepakatan 100% bahwa Nabi dilahirkan pada 12 Rabiul Awwal.

Belum lagi kita bicara tentang puluhan mazhab dan aliran dalam Islam, baik mazhab fiqih, aliran teologi (ilmu kalam), maupun tariqah dan aliran-aliran tasawuf. Karena begitu luasnya variasi dan perbedaan pemahaman dan praktik keislaman yang kita saksikan di depan mata kita, kita bisa simpulkan bahwa tidak ada satu Muslimpun yang berhak mengklaim bahwa versi Islamnyalah yang otentik. Dengan kata lain, tidak ada yang dinamakan Islam otentik. Benarkah demikian?

Tidak juga, menurut saya. Meski banyak cabang-cabang keislaman dengan berbagai variasi pendekatan, namun ada beberapa prinsip umum dalam Islam yang secara eksplisit (tersurat) maupun implisit (tersirat) kita sepakati dan kita imani bersama sebagai Muslim, sehingga hal ini dapat kita pegang sebagai alat ukur otentisitas Islam. Beberapa prinsip itu antara lain tauhid (keesaan Tuhan), keadilan (lawan dari kezaliman), dan akhlaqul karimah (prinsip moral dan etika). Pemahaman dan praktik keislaman yang selaras dengan itu kita anggap sebagai Islam yang otentik.

Dalam surah Al-Fatihah yang kita baca tidak kurang dari 17 kali sehari dalam shalat wajib, ada beberapa prinsip umum yang kita imani. Bahwa Tuhannya Muslim adalah Rabbul ‘alamin, Pemelihara semesta alam dan seluruh makhluknya. Bukan sekadar Rabbul Muslimin, yang berarti bahwa mereka yang tidak seagama dengan kita pun juga saudara-saudara kita.

Bahwa Tuhan kita adalah Allah yang Rahman dan Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bahwa Nabi terakhir pembawa wahyu Ilahi adalah rahmatan lil ‘alamin, bukan sekadar lil Muslimin.Bahwa Islam adalah adalah jalan bukan tujuan. Jalan untuk meraih shirat al mustaqim. Islam bukan berhala yang harus disembah dan dipaksakan kepada pihak lain. Itulah beberapa prinsip yang melandasi Islam otentik.

Bila kemudian ada orang yang menjajakan kebencian dalam dakwah Islamnya, berteriak dan mencaci maki dalam tausiyah dan khotbah nya, menjadikan agama sebagai tujuan akhir dan identitas diri bukan sebagai sarana dan jalan untuk beribadah, menganggap semua yang diluar Islam sebagai.musuh meski dalam keadaan damai, serta mengaku bahwa pihaknya yang paling benar sedang Muslim lain tersesat, maka jelas dia bukanlah Muslim yang otentik. Silahkan bila anda mau menamakan agama yang dianutnya itu sebagai Islam hoax, atau Islam palsu, atau nama lainnya.
Wallahu a’lam.

 

About Redaksi Thayyibah

Redaktur