
ika Anda bertanya kepada para pakar dirgantara Turki: “Mengapa butuh waktu puluhan tahun bagi Turki untuk bisa menciptakan jet tempurnya sendiri?”, Anda akan melihat seulas duka di wajah mereka. Mata mereka akan berkaca-kaca saat membisikkan satu nama yang menjadi luka abadi dalam sejarah bangsa: Nuri Demirağ.
Nama ini bukanlah sekadar kenangan usang. Setiap kali Presiden Erdoğan meresmikan proyek militer raksasa, ia selalu mengaitkan keberhasilan itu dengan nama Demirağ. Dalam peresmian pabrik roket Roketsan, Erdoğan dengan lantang berujar:
“Jika mereka tidak menjegal Nuri Demirağ, Turki hari ini akan berada di tempat yang jauh berbeda.”
Sentimen ini bukan hanya milik politisi. Haluk Bayraktar, CEO Baykar yang legendaris, pernah berkata dengan nada getir:
“Mereka mencoba segala cara untuk menjegal kami, persis seperti yang mereka lakukan pada Nuri Demirağ. Namun, atas izin Allah, kami berhasil tegak meski dihantam badai.”
Hari ini, para ahli militer sepakat: Jika perusahaan Demirağ dibiarkan hidup, Turki mungkin sudah memiliki jet tempur siluman (stealth) jauh sebelum dunia mengenalnya—bahkan mungkin sebelum Amerika Serikat sendiri.
Siapakah pria ini? Dan bagaimana mungkin sebuah industri yang produknya pernah diburu oleh Spanyol, Mesir, hingga Irak, bisa dihancurkan dari dalam?
Bangkit dari Abu Reruntuhan
Kisah ini bermula di Sivas pada tahun 1886, saat Kekhalifahan Utsmaniyah mulai meredup. Nuri kehilangan ayahnya di usia tiga tahun—sang ayah tewas terjatuh dari kuda saat bertugas di militer. Meski yatim, Nuri tumbuh dengan kecerdasan yang melampaui zamannya.
Ketika Kekhalifahan jatuh dan Turki diduduki oleh tujuh kekuatan asing, Nuri bekerja sebagai inspektur di Kementerian Keuangan. Di masa-masa kelam itu, saat tentara Yunani menginjakkan kaki di tanah airnya, Nuri mengalami penghinaan yang membakar jiwanya. Dengan amarah, ia melemparkan tarbusnya ke tanah dan mengundurkan diri seketika.
“Aku tidak akan bekerja untuk pemerintah yang menginjak-injak kehormatan dan martabat nasional!” Itulah titik balik hidupnya. Ia terjun ke dunia bisnis, mengalahkan monopoli Prancis di sektor tembakau, lalu membangun jaringan kereta api terbesar di Turki hingga ia dijuluki “Demirağ” (Jaring Besi).
Sumpah di Atas Kemandirian
Ambisi Nuri untuk Turki tak memiliki batas. Saat pemerintah menggalang sumbangan untuk membeli pesawat dari luar negeri, Nuri memberikan jawaban bersejarah yang mengubah nasibnya:
“Jika kalian meminta sesuatu untuk Turki, jangan minta uang receh dariku. Mintalah sesuatu yang besar. Bangsa ini tidak akan bisa bertahan tanpa sayap di langit. Aku tidak akan membiarkan Turki mengemis belas kasihan bangsa lain. Aku akan membuat Turki membangun pesawatnya sendiri!”
Dunia mengira ia hanya sesumbar untuk menghindari sumbangan. Namun, Nuri membuktikan kata-katanya. Ia meninggalkan seluruh bisnis lainnya dan membangun sebuah imperium dirgantara yang lengkap:
• Bengkel perakitan raksasa.
• Pabrik mesin dan baling-baling.
• Laboratorium uji material dan pengecoran logam.
• “Gök Okulu” (Sekolah Langit) yang didirikan pada 1941 untuk mencetak pilot-pilot tangguh.
Namanya mendunia. Pesawat buatannya menjadi buah bibir. Delegasi asing, termasuk Amerika, mulai mendatangi pabriknya. Negara-negara seperti Spanyol, Mesir, dan Irak antre untuk membeli karya Demirağ.
Pengkhianatan di Atas Landasan
Saat mimpi Nuri sedang terbang tinggi, badai konspirasi datang menerjang. Seolah ada kekuatan yang hanya menunggu satu kesalahan kecil untuk menghancurkan segalanya.
Asosiasi Penerbangan Turki telah memesan pesawat jenis Nu.D-36 yang canggih. Hanya tersisa satu uji terbang terakhir sebelum penyerahan. Selahattin Reşit Alan, insinyur penerbangan pertama Turki sekaligus desainer utama pesawat tersebut, menerbangkan pesawat itu dari Istanbul menuju Eskişehir.
Namun, saat mendarat, sebuah tragedi mengerikan terjadi. Di landasan pacu, terdapat lubang tersembunyi yang konon sengaja digali untuk mencegah hewan masuk. Roda pesawat terperosok, pesawat hancur, dan sang insinyur jenius itu tewas seketika di lokasi.
Alih-alih melakukan investigasi yang adil, pemerintah saat itu langsung menjatuhkan vonis mati bagi industri Nuri. Tanpa menunggu bukti teknis, seluruh pesanan domestik dibatalkan. Bahkan, Nuri dilarang mengekspor pesawatnya ke luar negeri.
Pembunuhan Sebuah Mimpi
Pemerintah meluncurkan “perang total” untuk menghapus jejak Demirağ:
1. Penyegelan Pabrik: Pabriknya ditutup paksa dengan segel merah.
2. Hukum Pencegalan: Undang-undang khusus dikeluarkan hanya untuk melarang Nuri menjual pesawat ke Spanyol dan Iran, menghanguskan kontrak-kontrak raksasa.
3. Penyitaan Aset: Tanah pabriknya di Beşiktaş disita. “Sekolah Langit” di Yeşilköy dinasionalisasi (lokasi ini kemudian menjadi Bandara Internasional Atatürk).
4. Penghinaan Terakhir: Rezim sekuler saat itu (CHP) memerintahkan agar pesawat-pesawat canggih buatan Nuri dijual ke tukang rongsokan sebagai besi tua, demi menghancurkan martabat sang pionir.
Nuri menulis surat memilukan kepada Presiden Ismet Inönü: “Pekerja saya menganggur karena keputusan yang tidak adil. Institusi ini didirikan hanya untuk mengabdi pada tanah air ini!” Namun, surat itu hanya dibalas dengan keheningan yang dingin.
Hadiah Beracun: Marshall Plan
Mengapa pemerintah begitu kejam? Jawabannya ada di balik layar politik global. Saat itu, Amerika Serikat mulai membanjiri Turki dengan pesawat “gratis” atau murah melalui Doktrin Truman dan Marshall Plan.
Slogan pemerintah saat itu sangat memuakkan: “Mengapa kita harus membeli dari Demirağ jika kita bisa mendapatkan pesawat gratis dari Amerika?” Namun, “gratis” itu memiliki harga yang mahal: Kedaulatan. Washington dikabarkan mensyaratkan penutupan pabrik lokal agar Turki terus bergantung secara teknologi pada pihak asing.
Kebangkitan Sang Elang
Nuri Demirağ wafat pada tahun 1957 dengan hati yang hancur, meratapi mimpi yang dipatahkan oleh bangsanya sendiri. Namun, sejarah memiliki caranya sendiri untuk membalas dendam.
Hari ini, di milenium baru, nama Nuri Demirağ kembali bergaung di langit. Jet tempur siluman terbaru Turki, KAAN, yang dijadwalkan bertugas pada 2029, diakui secara resmi sebagai pewaris sah dari pesawat Nu.D-40 milik Nuri yang dulu dilarang terbang.
Keputusan politik yang picik telah membuat Turki tertinggal 50 tahun di industri dirgantara. Nuri mungkin telah tiada dengan luka di dadanya, namun proyeknya tidak pernah mati. Setiap kali jet tempur Turki membelah awan hari ini, di dalam deru mesinnya, ada ruh Nuri Demirağ yang akhirnya berhasil terbang tinggi.
Sejarah mungkin melupakan para penindas, namun ia akan selalu mengabadikan para pemimpi besar. (Tukinisia)
Thayyibah