Breaking News

Mengunjungi Tokoh Istimewa M. Syukri Fadholli

Oleh : Ahmad Khozinudin (Sastrawan Politik)

(Foto : Dok. Doni Riw)

Dari beliau ini, penulis mengenal istilah ‘Murtad’ bagi aktivis PPP. Kalau di PDIP ada istilah ‘Kader Celeng’ sebagai julukan untuk kader yang tidak tegak lurus pada komando partai, di PPP ada istilah ‘Kader Murtad’. Yakni, sebutan bagi kader PPP yang telah berkhianat pada amanat perjuangan partai.

“Romi itu sudah Murtad”, begitu ungkap beliau. Hal itu disampaikan oleh Pak Muhammad Syukri Fadholli, sekira enam tahun lalu saat penulis berdiskusi dalam satu forum bersama beliau di Yogyakarta. Pak Syukri, adalah tokoh gaek PPP di Yogyakarta, mengkritik sikap politik Romi atau Romhmamurrozy ketua PPP kala itu, sebagai telah murtad dari partai.

Alhamdulillah, hari raya Idul Fitri 1444 H ini penulis bisa mengunjungi beliau.

“Assalamu’alaikum Pak Syukri, Nyuwun Perso, Pak Syukri Sabtu enjang wonten ndalem nggih? saya mau silaturahmi syawal…Sekarang sedang silaturahmi syawal di Solo dan Semarang 🙏”

“Kasinggihan Alchamdulillah – semoga Ms Khozinudin selalu diberikan Allah SWT dg kesehatan dan perlindungan seta keselamatan Aamiin YRA……”

Begitulah, redaksi WA dan jawaban dari Pak Syukri Fadholli ketika penulis ajukan janji mau silaturahmi. Memang saat itu, penulis dahulukan kunjungan silaturahmi ke tokoh-tokoh Solo dan Semarang (Jum’at, 5/5). Baru Sabtunya (6/5) penulis agendakan silaturahmi ke Yogyakarta.

Namun dalam perjalanan, pertemuan akhirnya dilakukan bukan di kediaman beliau, melainkan di RM Sederhana, Jl Kaliurang KM 6, Yogyakarta.

Kebetulan pada jam 10.00 sd 11.30 beliau ada pertemuan dengan Pak Marsekal (Purn) Imam Sufaat. Pada jam itu, penulis sedang berkunjung ke kediaman Pak Amien Rais.

Alhamdulillah, akhirnya penulis bertemu dengan Pak Syukri Fadholli. Saat itu, penulis ditemani Mas Doni Riw, Pak Huda dan Ust Tri. Rasanya, pertemuan dengan Pak Syukri seperti sahabat lama saja, padahal usia kami terpaut cukup jauh.

Pak Syukri Fadholli usianya sekitar 72 tahun, sedangkan penulis 41 tahun. Sebelumnya, penulis silaturahmi ke Pak Amien Rais yang usianya sudah 79 tahun. Sebelumnya lagi, bersilaturahmi ke Pak Mudrick Setiawan Malkan Sangidoe yang usianya juga 79 tahun.

Konon, Pak Amien dan Pak Mudrick itu sewaktu muda. Menurut penuturan Pak Amien Rais, Pak Mudrick Sangidoe itu anak orang kaya.

Kami berdiskusi, saling bertanya kabar, saling menyemangati. Karena memang menghadapi rezim zalim di era Jokowi ini, butuh kesabaran, rasa ikhlas dan ketangguhan.

Pak Syukri Fadholli mengabarkan sejumlah informasi konstelasi politik, khususnya menjelang Pilpres 2024. Usaha para kandidat Capres, yang terus bergerilya untuk mencari dukungan melalui simpul-simpul tokoh umat.

Tak berselang lama, Pak Mudrick Sangidoe datang. Lalu, kami bercengkrama, sambil menikmati hidangan makan siang, yang telah dipesankan Pak Mudrick. Sekedar info bocoran, Pak Mudrick lah yang mentraktir makan siang bersama.

Entahlah, walau belum terlalu lama mengenal namun penulis serasa memiliki ikatan bathin dengan Pak Syukri Fadholli. Beliau ini, tokoh gaek PPP Yogyakarta yang konsen dengan persoalan umat. Terakhir, karena kekecewaannya pada PPP, beliau hijrah ke Partai Umat.

Di GPK Yogyakarta (Gerakan Pemuda Ka’bah), beliau tokoh senior. Dulu, saat kampanye Pemilu era rezim Orde Baru, GPK selalu menjadi ‘seteru abadi’ PDIP. Setiap musim kampanye, laskar GPK pasti bentrok dengan kader PDIP.

Makanya beliau sedih, kenapa PPP hari ini begitu pragmatis. Bahkan, terakhir ikut mengusung Ganjar Pranowo dari PDIP, yang secara histori menjadi ‘seteru abadi’ GPK.

Apa mau dikata, roda sejarah telah bergulir. Situasi hari ini harus dihadapi. Beliau berharap diberi umur panjang, hingga dapat terus berjuang membersamai umat.

“Mas Ahmad, kalau ditilik dari Nasab, saya berasal dari ayah dan Ibu yang dikaruniai umur panjang. Semoga, di generasi saya (anak), umur panjang itu menurun” begitu ungkapnya.

Walau sudah tua, tapi aura priyayi dan pejuang nampak kuat dari pancaran wajah beliau. Pastilah, di masa mudanya Pak Syukri

Fadholli ini banyak digandrungi gadis-gadis karena ketampanan paras dan gagahnya postur tubuh beliau.

MasyaAllah, suasana obrolan menjadi tambah syahdu karena Jogja menyimpan banyak kenangan. Meski lebih lekat dengan Magelang, namun bagi penulis Jogja tetap istimewa dan setiap saat setiap waktu, penulis akan terus merindukan pulang ke Jogja. Kota yang Istimewa.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur