Breaking News
(Foto : Istimewa?Davy Byanca)

Mengaku Beriman

Oleh: Davy Byanca

(Foto : Istimewa?Davy Byanca)

Suatu hari Rasulullah saw bertanya kepada Haritsah, ”Bagaimana kabarmu pagi ini wahai Haritsah?” Ia menjawab, ”Pagi ini aku benar-benar beriman.” Mendengar jawaban itu, Nabi saw berujar, ”Setiap kebenaran ada hakikatnya. Apa hakikat imanmu?” Ia menjawab, ”Aku berpaling dari dunia sehingga bagiku sama saja antara emas dan tanah. Seolah-olah aku melihat penduduk surga tengah merasakan nikmatnya surga. Dan seolah-olah aku melihat penduduk neraka sedang merasakan siksa. Juga seolah-olah aku melihat ’Arsy dengan jelas. Kerana itu, aku bangun malam untuk beribadah dan berpuasa di siang hari.” Mendengar jawaban itu, Nabi saw bersabda, ”Wahai Haritsah, kau telah makrifat. Tetaplah dalam keadaanmu.” Kemudian Nabi melanjutkan, ”Ia hamba yang Allah terangi hatinya dengan cahaya iman.”

Syaikh Ibnu ’Athaillah as-Sakandari berkata, bayangkan jika pertanyaan itu ditujukan kepada ahli dunia. Tentu ia akan menjawab pagi itu; ia kaya, sehat, atau menyebutkan keadaan fisik serta urusan dunia lainnya. Atau ia akan menyebutkan sejumlah kekhawatiran dan kerisauannya menghadapi takdir Allah. Tetapi Haritsah beda, ia telah dibekali cahaya bashirah (penglihatan batin) yang menghantarkannya kepada keyakinan dan sunnah.

Dari kisah di atas, orang yang beriman terbagi ke dalam dua golongan: orang yang beriman kepada Allah berdasarkan kepercayaan dan ketundukan, serta orang yang beriman kepada Allah berdasarkan penyaksian. Atau iman formalitas dan iman hakiki.

Iman berdasarkan penyaksian atau hakiki inilah yang sejatinya disebut iman, dan kadang-kadang disebut yakin. Sebab, iman yang seperti itulah yang cahayanya terpendar, pengaruhnya tampak jelas, tiangnya terpancang kokoh dalam hati, dan jiwa pemiliknya bahagia menyaksikan-Nya. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw, ”Tiga hal yang jika salah seorang dari kalian berada di dalamnya, ia pasti merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; (2) mencintai seseorang hanya kerana Allah; (3) dipanggang di api yang berkobar lebih ia sukai ketimbang menyekutukan Allah.”

Hati orang yang memiliki iman seperti itu menjadi sempurna, kerana semua relung hatinya telah diisi cahaya. Sehingga tak ada tempat bagi lintasan dosa dan syaitan bersemayam di dalamnya. Permintaan Rasulullah saw kepada Haritsah untuk menyatakan bukti pengakuannya menunjukkan bahwa orang yang menyatakan pengakuan belum tentu benar-benar memiliki apa yang diakuinya. Syaikh Abu al-Abbas ra berkata, ”Seandainya yang ditanya adalah Abu Bakar ra, tentu Rasulullah saw tidak akan meminta bukti atas pengakuannya. Sebab, keagungan posisi Abu Bakar ra telah menjadi bukti yang tegas bagi Rasulullah saw; tak perlu ada bukti atau petunjuk lainnya. Di sini, Rasulullah saw ingin menjelaskan kepada kita perbedaan maqam para sahabatnya. Ada yang seperti Haritsah, yang ketika mengakui iman, diminta untuk menunjukkan buktinya. Ada pula yang seperti Abu Bakar ra dan ’Umar ra. Rasulullah saw menetapkan maqam mereka meskipun mereka tidak menetapkannya untuk diri mereka sendiri.

Sahabat Haritsah telah menunjukkan hakikat keimanannya lewat zuhudnya terhadap dunia. Itulah keimanan yang telah mewujud dalam dirinya. Siapa yang menegakkan iman, ia akan zuhud terhadap dunia. Sebab, iman kepada Allah menuntut kita mempercayai perjumpaan dengan Allah swt.

Iman seperti ini mengajarkan bahwa setiap yang akan tiba itu dekat; ia mengharuskan si pemilik iman untuk merasa dekat sehingga ia menjadi zuhud terhadap dunia. Cahaya iman yang berkilauan itu tak membuatnya tertarik kepada dunia. Dunia berada di tangannya, tidak akan pernah berada di dalam hatinya.

Begitulah Haritsah, orang yang Allah swt telah singkapkan baginya hakikat dunia. Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda, ”Dunia adalah bangkai yang kotor.”

Aahhh …., Mawlana Rumi berkata, “Lihatlah, kerana aku tak tahu tentang diriku. Dengan nama Tuhan, apa yang harus ku perbuat kini? Sobatku, lalu bagaimana dengan keimanan kita?

 

About Redaksi Thayyibah

Redaksi Thayyibah
Redaktur