Breaking News
(Foto : Anif Punto Utomo)

Warna Gontor Semakin Terang

Oleh: Anif Punto Utomo

(Foto : Anif Punto Utomo)

Tahun 1970-an bisa dikatakan sangat sedikit lulusan pondok pesantren yang meneruskan pendidikan di UGM, bahkan dari Pondok Moderen Gontor sekalipun. Biasanya mereka melanjutkan kuliah di IAIN (sekarang UIN-Universitas Negeri Islam), dan tak sedikit yang meneruskan kuliah di Mesir atau Arab Saudi.

Zahrul Hadiprabowo, penulis buku ‘be Addaptive be Amanah’ ini menjadi salah satu orang yang sangat sedikit tersebut.

Sudah dua-tiga bulan lalu saya dikirim buku ini oleh Pak Zahrul (begitu biasa saya memanggil) setelah mengikuti acara peluncuran lewat zoom. Namun baru sepekan ini kepegang untuk dibaca.

Buku pengalaman hidup yang ia tulis bukan hanya mengungkapkan milestone kesuksesan, namun juga kegagalan yang harus ditelan. Karena bagaimana pun tidak ada kesuksesan tanpa melalui kegagalan.

Dalam beberapa tulisan ia sisipkan pesan inspiratif tentang menjaga amanah, siap bekerja keras, dan pantang menyerah. Tak lupa juga diselipkan cerita lucu seperti bagaimana bersiasat ‘membohongi’ Jusuf Kalla, ada juga pelecehan yang berakhir dengan diskon besar di Hongkong saat membeli kamera.

Namun menjadi kian menarik ketika kita melihat dari sisi yang lain, keluar dari tema buku. Sisi yang lain itu berkiblat pada latar belakangnya dari keluarga relijius dan pendidikannya di Gontor. Terdapat benang merah episode kehidupan yang pada akhirnya tidak lepas dari latar belakang tersebut.

Kita coba simak kisah hidupnya. Dimulai dari lulus Gontor yang sarat dengan pendidikan agama, kemudian meneruskan ke FE UGM yang mata kuliah agama hanya satu atau dua semester. Untuk menjaga nyala api keislamannya, ia aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Episode berikutnya setelah lulus dari UGM dan meniti karir. Jika ada dikotomi sistem ekonomi kapitalis dan ekonomi syariah, maka ia mengawali karir di perusahaan yang lekat dengan kapitalisme, IBM. Bagaimana tidak lekat, perusahaan yang saat itu merupakan perusahaan teknologi informasi terbesar sejagad itu didirikan di jantung kapitalis dunia: Amerika.

Sekitar tiga tahun di IBM, ia pindah ke berbagai perusahaan, diawali dari Bank of Tokyo, perusahaan asuransi, kemudian ke Bouraq Airline, Bukaka Grup, dan tertambat di Kalla Grup sampai sekarang. Praktis, dalam perjalanan karir dari bekerja di perusahaan Amerika sampai ke perusahaan milik Jusuf Kalla, ia berada pada lingkaran sistem kapitalis.

Sampai suatu ketika dilaksanakan reuni alumni HMI FE UGM. Hasil dari reuni para aktivis Islam itu dilanjutkan dengan pendirian Yayasan Harta Mulia Insani (Yahmi) pada 1989. Salah satu cita-cita besar yayasan adalah mendirikan mendirikan bank syariah. Sayang saat itu belum ada aturan tentang bank syariah sehingga keinginan kandas.

Pada 1 November 1991 berdiri Bank Muamalat, bank syariah pertama di tanah air. Sejak itu Bank Indonesia mulai memproduksi peraturan tentang bank syariah. Lantas bermunculan BPRS (Bank Pembiayaan Rakyat Syariah). Yahmi merespon dengan mendirikan bank syariah yang lama diidamkan, berdirilah BPRS Harta Insan Karimah (HIK) pada 8 September 1993.

Kehadiran BPRS HIK seolah alam semesta menarik Zahrul untuk berjuang di ekonomi syariah. Kini ia menjadi komisaris utama BPRS Cileduk. Di yayasan, ia menjadi Sekjen Yahmi mendampingi Ketua Yahmi Baridjussalam Hadi, mantan petinggi Bank Indonesia. HIK pun kini terus berkembang dan menjadi induk bernama HIK Grup, di bawahnya terdapat sembilan BPRS (termasuk BPRS HIK Cileduk) yang jika ditotal asetnya sudah triliunan rupiah.

Dari inisiatifnya bersama beberapa kolega, ia juga mendirikan sharianews.com, sebuah portal berita yang khusus mengulas tentang ekonomi syariah. Portal tersebut menjadi partner Komisi Nasional Keuangan dan Ekonomi Syariah (KNEKS), lembaga independen yang mendorong untuk tumbuhnya ekonomi syariah di tanah air.

Di aktivitas keagamaan, saat ini ia menjadi Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Darussalam, masjid megah di Perumahan Tamansari Persada Raya Bekasi. Lewat masjid itu pula didirikan Rumah Quran Darussalam, sebuah lembaga tahfieda Quran yang telah meluluskan setidaknya 25 hafidz Quran.

Benang merah dari perjalanan hidupnya adalah bahwa –meminjam istilah KH Hasan Abdullah Sahal dalam pengantar di buku ini–  ‘warna’ kegontoran tetap terjaga. Mungkin sempat sedikit luntur, tetapi kemudian kembali terang. Bahkan semakin lama, kata KH Hasan, semakin terang

About Redaksi Thayyibah

Redaktur