Breaking News
(Foto : Davy Byanca)

Lorong Ketidakpastian

Oleh: Davy Byanca

(Foto : Davy Byanca)

Ini lucu. Masih ada saja orang yang percaya sama peramal, atau yang berbau mistis dan klenik. Takjub melihat keris berdiri misalnya. Tapi menganggap biasa, langit terbentang luas tanpa tiang penyangga. Bahkan jika ada orang yang mampu membaca pikiran mereka, pasti akan menjadi incaran untuk konsultasi. Padahal semua itu hanya permainan psikologis seperti apa yang dulu pernah saya praktikkan.

Ceritanya begini. Untuk memancing suasana peserta pelatihan yang mulai terkena virus mengantuk, biasanya saya mengeluarkan jurus ‘seolah-olah’ memiliki indera keenam dengan berkata, “Saya memantau bahwa ternyata di antara ibu-ibu, ada dua atau tiga orang yang saat ini memiliki masalah yang cukup pelik.”

Trick semacam ini sungguh ampuh memancing mereka yang merasa dirinya “saya baca.” Pada masa rehat, kadang peserta yang ‘bermasalah’ memberanikan diri untuk “curhat.” Saat ia datang, aku berterus terang bahwa aku tak memiliki kemampuan seperti yang ia duga. Aku hanya sedang memainkan kondisi psikologis peserta saja. Karena setiap orang pasti punya masalah.

Suatu ketika ada peserta pelatihan yang ingin menanyakan masa depan bisnisnya. Ia tetap bersikeras menganggap bahwa aku punya kemampuan untuk membaca masa depan. Dengan maksud untuk memberikan pelajaran kepadanya, aku mencoba menelusuri guratan telapan tangan kirinya. Setelah itu saya bertanya, “Maaf dik, masihkah kamu ingin mendengarkan apa yang saya ketahui?” Ia menjawab, “Ya, ya bang.” “Dan Anda yakin bahwa saya tak akan salah,” saya mulai memainkan situasi kejiwaannya. “Saya yakin bang, saya yakin. Jadi bagaimana masa depan hidup dan bisnis saya?” desaknya. “Mohon maaf dik. Masa depan Anda tak pasti,” tegas saya. Ia lemas, dan menghela nafas panjang. Aku diamkan ia dalam keadaan seperti itu beberapa detik.

Lalu akupun menambahkan, “Sekali lagi maaf dik, tak ada seorang pun yang tahu akan masa depannya, karena masa depan penuh dengan ketidakpastian. Jika Anda tetap fokus pada kemungkinan yang buruk, maka itulah yang disebut dengan ketakutan. Dan ustadz atau “orang pintar” mana saja yang Anda temui untuk menanyakan masa depanmu, jika diikuti dengan segudang ketakutan, maka rasa takut akan tetap menyelimuti hati Anda.”

Intinya, aku ingin menanamkan kepada pemuda ini bahwa rasa tak percaya diri dan rasa takutnya yang berlebihan itu, akan membuatnya semakin larut dalam ketidakpastian masa depannya. Ia telah membelenggu dirinya dengan pikirannya sendiri.

Jika saja kita percaya bahwa masa depan itu tak pasti, maka kita tak akan pernah mencari peramal untuk memelihara rasa takut di dalam hati kita. Untungnya, ia akhirnya mengerti, dan sejak saat itu konon katanya ia sudah tak lagi mencari-cari “orang pintar” untuk meramal masa depannya.

Mawlana Rumi berkata, “Dengan hidup hanya sepanjang tarikan nafas, jangan tanam apa-apa kecuali cinta.” Ya, hanya dengan mencintai, apa saja yang kita kerjakan, kita alami, kita kejar dan kita imani akan menjadi lebih mudah dan nyaman.

Ingatlah bahwa yang pasti dalam hidup ini adalah, kita sedang berjalan di lorong ketidakpastian. Karena itu, untuk apa bersusah payah mengejar ketidakpastian dunia, sementara akhirat adalah sebuah kepastian …!

 

Aku –

tidak ada aku dalam keakuan

About Redaksi Thayyibah

Redaktur