Breaking News
(Foto : Liputan Islam)

Mengalah untuk Menang

Oleh: Davy Byanca

(Foto : Liputan Islam)

Pada suatu kesempatan, seorang wanita pernah berkunjung ke kantor untuk berkonsultasi seputar suaminya yang belum memiliki pekerjaan yang tetap. Ia mengeluh bahwa suaminya lebih senang dengan pekerjaan-pekerjaan temporarily atau dalam bahasanya, proyek-proyek yang mendulang angin, alias tak jelas. Hobbynya berkumpul dengan teman-temannya di lobby-lobby hotel bintang lima, bicara soal proyek miliaran. Dan ini menjadi beban psikologis dan finansial yang luar biasa yang harus ditanggung olehnya.

Ia bertanya soal bagaimana dia harus membuat suatu keputusan yang benar untuk menentukan apakah dia harus ikut menafkahi keluarganya atau tidak, lalu seberapa besar dia harus memberi nafkah kalau memang harus? Bagaimana ia harus bersikap saat suami kerap meminjam uang darinya karena tahu ia mempunyai cukup uang untuk dihutangi? Apalagi jika sudah ribut besar, maka ancamannya cerai!

Jelas ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Apalagi Islam mewajibkan suami untuk memberi nafkah kepada istri, bukan sebaliknya. Dan para ulama pernah berfatwa, suami tidak boleh memaksa istri menyerahkan gaji, sebagian gaji, atau mengambil sebagian harta warisannya. Karena tindakan seperti ini masuk dalam kategori ghasab (mengambil sesuatu yang bukan haknya), dan ghasab hukumnya haram.

Saya katakan bahwa, perceraian jelas bukanlah solusi yang tepat, karena tak ada manfaatnya sama sekali buat dirinya dan anak-anak. Lagi pula, “mbak harus sadar bahwa kehidupan tidak selalu memberi pilihan antara apa yang baik dan apa yang buruk. Karena tak jarang kehidupan menyuruh kita memilih antara apa yang buruk dan apa yang tidak terlalu buruk.”

Dibutuhkan kecerdasan tersendiri dalam menghadapi persoalan seperti itu. Yang pasti, harus ada pengorbanan, harus ada  perasaan menerima. Tapi jangan salah, pengorbanan itu diberikan setelah istri benar-benar mengetahui niat baik suami, sejauh mana kapasitasnya dalam mengatur masalah-masalah materi dalam keluarga, dan seberapa besar tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga. Kalau istri merasa sang suami adalah orang yang bertanggung jawab dan saat ini memang membutuhkan perannya karena sedang mengalami musibah, atau ujian dalam usahanya, maka tak ada salahnya sang istri menyisihkan sebagian dari penghasilannya untuk membantu suami.

Saya lebih memilih mengalah untuk menang ketimbang menang-menangan, apalagi di dalam urusan rumah tangga. Saya memberikan keyakinan kepadanya bahwa harta, apalagi uang, hanyalah sarana agar hidup untuk menjadi lebih baik, bukannya suatu tujuan yang harus dicapai lalu dipertahankan. Kalau dipikir-pikir, bukankah lebih baik jika kita dan keluarga hidup nikmat dengan harta kekayaan yang dimiliki di saat masih hidup, daripada membiarkannya menumpuk sampai kita mati? Bukankah dengan uang itu, seharusnya kita bisa mengurangi beban kemiskinan kerabat kita, atau memperbaiki kondisi hidup kita yang sudah lumayan mapan?

Tak soal istri turut mendukung perekonomian keluarga, dengan menyisihkan sebagian gajinya sepanjang suami terus berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Dan sangat tak bijaksana, jika ada seorang suami yang mengandalkan atau menyandarkan hidupnya pada istrinya. Istri yang cerdas adalah istri yang dapat memberikan solusi saat keluarganya dilanda kemelut tanpa menyakiti hati suaminya. Misalnya, pada saat suami ingin meminjam uang, ia berkata akan meminjam uang ibunya padahal ia mengambil uang dari tabungan pribadinya. Lalu ingatkan suami agar segera mengembalikan uang ibunya tersebut. Dengan demikian, mereka bisa terhindar dari masalah-masalah sepele yang pelik. Istri yang cerdik adalah istri yang tetap menjaga kewibawaan suami walau ia memiliki harta atau penghasilan yang lebih tinggi dari suami.

Sebuah rumah tangga –dalam kondisi seburuk apa pun- akan terselamatkan jika suami dan istri cerdas dalam mengatur dan mengurus konflik rumah tangga mereka. Ingatlah, tidak ada satu rumah tangga pun yang sempurna. Kebahagiaan itu justru terletak pada saat bagaimana mereka secara cerdas menyelesaikan setiap masalah yang timbul.

Jadi harus ada perenungan yang jujur. Saya tegaskan kepada wanita tadi, ada baiknya seorang istri ikut meringankan beban hidup, baik yang pokok maupun tambahan. Tak ada gunanya menumpuk-numpuk harta, jika hal itu tak setimpal dengan ketenangan hati. Tentu, suami juga harus bijaksana, bukan sekadar numpang hidup ..!

 

Aku –

sedebur ombak dalam bahtera rumah tangga

About Redaksi Thayyibah

Redaktur