Breaking News
(Foto : Doni Riw)

PERANG CANDU

Oleh: Doni Riw

(Foto : Doni Riw)

Perang tidak selalu menggunakan pedang, senapan, atau rudal. Hari ini kita mengenal senjata kimia,  biologis hingga digital. Candu (opium), serta benda sejenis, juga pernah menjadi senjata untuk menghancurkan musuh.

Abad 17, produk China seperti teh, sutera, dan keramik, sangat diminati orang Eropa. Pengimpornya adalah Perusahaan Hindia Timur Britania. Sebaliknya, orang China tidak berminat pada proruk Eropa. Sehingga perdagangan Ingris mengalami defisit.

Dinasti Qing meminta semua perdagangan internasional dibayar dengan perak. Sehingga China mengalami surplus logam mulia tersebut. Sementara Inggris sebaliknya.

Untuk membalikkan keadaan, Inggris memproduksi opium di wilayah koloninya, Benggala. Kemudian menjualnya ke China dengan alat tukar perak.

Pada awalnya, pemerintahan Qing mengizinkan industri opium tersebut dengan alasan pajak dan pendapatan negara. Dia lupa, bahwa opium membuat orang ketergantungan. Dalam waktu singkat, masyarakat China mulai kecanduan opium, dari pejabat tinggi hingga buruh pedesaan.

Saat stabilitas sosial terganggu karenanya, Dinasti Qing baru sadar, bahwa pelegalan industri candu ini adalah senjata perang yang sangat kejam. Selanjutnya, pemerintahan Qing menetapkan bahwa jual beli opium ilegal.

Alih-alih menghentikan, kebijakan itu justru berdampak penyelundupan opium besar-besaran. Karena warga terlanjur kecanduan.

Akhirnya Inggris menang besar. Tak hanya perak mereka dapatkan, tetapi musuh juga berhasil dilemahkan.

Hari ini, pedang mungkin sudah tak ampuh untuk mengalahkan lawan di medan perang. Tapi candu, atau semacamnya, masih efektif untuk menghancurkan ekonomi dan jasmani lawan pertempuran.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur