Breaking News
Satu pengakuan tentang pengalaman menagih hutang kepada Yusuf Mansur (Foto : Istimewa)

BALADA TKW DENGAN BISNIS YUSUF MANSUR (5)

Pengalaman Pahit

Menagih Hutang Kepada Yusuf Mansur

Satu pengakuan tentang pengalaman menagih hutang kepada Yusuf Mansur (Foto : Istimewa)

Sudah sering kita membaca komentar pada status Yusuf Mansur di akun-akun media sosial (medsos), ada warganet atau nitizen yang menagih hutang. Hutang yang ditagih orang di situ macam-macam. Mulai dari aneka investasi, aneka patungan hingga Paytren. Terhadap komentar-komentar itu ada yang dijawab seadanya dan normatif tapi lebih banyak yang didiamkan. Bisa dipastikan, akun-akun yang menagih hutang itu tak akan muncul dalam status Yusuf Mansur untuk yang kedua kali. Diblokir.

Hal seperti di atas pernah dialami oleh HL, seorang ibu yang kini tinggal di Boyolali, Jawa Tengah. HL yang pernah ikut investasi Patungan Usaha, Hotel Siti dan juga Paytren ini menggunakan semua saluran medsos Yusuf Mansur untuk menagih hutangnya. Termasuk saluran telepon dan media perpesanan WhatsApp (WA).

Kepada Hilwa Humaira, mantan TKW di Hong Kong dan pernah menjadi Star Leader Internasional Paytren yang kini berencana menggugat Yusuf Mansur secara hukum, HL mengaku bertahun-tahun menagih hutangnya lewat pesan WA ke nomor pribadi Yusuf Mansur yang pernah didapatnya. Namun pesan yang terkirim tak pernah dijawab. “Padahal saya tau dia sudah membaca WA saya. Kalo ditelpon selalu ditolak. Lama-lama nomor saya diblokirnya,” tulis HL.

HL yang awalnya tinggal di Tangerang ini bertutur, awalnya dia sering saksikan Yusuf Mansur berceramah di televisi. HL sering juga mengikuti pengjian di pesantrennya di Ketapang, Tangerang karene rumahnya tak jauh dari situ.  HL bahkan sejak tahun 2010 menjadi donator aktif untuk program Wisata Hati maupun untuk sekolah Darul Qur’an milik Yusuf Mansur itu.

Ketika Yusuf Mansur menggulirkan bisnis Patungan Usaha tahun 2012, HL tertarik dan membeli paket investasi seharga 12 juta rupiah. Saat Idul Adha HL memilih ikut berkorban di Darul Qur’an. Teringatnya, satu ekor kambing dihargai Yusuf Mansur 3,5 juta, padahal umumnya harga kambing kurban saat itu 2 juta per ekor. Begitu Yusuf Mansur luncurkan bisnis MLM Paytren, HL juga tak ketinggalan. “Saking saya ngefans sama orangnya, saya mengikuti semua ajakan bisnis dan sedekahnya. Saya benar-benar dibikin buta olehnya,” begitu tulis HL.

Bertahun lamanya, barulah HL sadar. Semua program investasi, patungan dan bisnis Yusuf Mansur yang diikutinya tidak ada manfaat yang bisa diambilnya. Semua janji Yusuf Mansur tak pernah wujud. HL mulai menagih semua investasi dan patungan yang perna diikutinya. HL mendatangi alamat kantor Patungan Usaha, masih di Tangerang.

Dengan diantar kakaknya, HL merasa kaget  ketika sampai di alamat yang diakui Yusuf Masur sebagai kantor investasi Patungan Usaha. Rasa curiga HL mulai timbul. Karena suasana kantor itu tidak sepadan dengan omongan Yusuf Masur yang hebat soal Patungan Usaha itu.

“Kantornya itu sebuah ruko kecil yang diseswa, posisinya di pojok dan ke dalam. Sementara ruko-ruko samping kiri kananya sudah kosong.  Orang yang kami temui di kantor itu bicaranya tidak jelas,” demikian tulis HL kepada Hilwa. “Orang yang berada di situ meminta saya tinggalkan sertifikat Patungan Usaha. Untung tidak saya turuti. Andai sertifikat itu ditinggal, mungkin saya tidak bisa menagih lagi,” lanjut HL.

Sejak tidak mendapatkan penjelasan yang memuasakan di “kantor” Patungan Usaha itu, HL mulai menagih lewat media sosial. Lewat akun Yusuf Mansur di facebook (FB) maupun Instagram (IG). “Setiap kali Yusuf Mansur Official bikin status di IG atau FB saya langsung berkomentar, menagih hutang dan janjinya. Saya berkomentar terus-menerus pada IG-nya. Kalau diblokir saya bikin akun baru lalu menagih lagi,” begitu HL mengaku.

Menurut HL, komentar-komentarnya pernah ditanggapi pihak Yusuf Mansur. Meski begitu penyelesaiannya sangat mengecewakan. HL merasa, sepertinya Yusuf Mansur dan kawan-kawannya tidak punya niat baik untuk menyelesaikan kewajiban mereka.

Tentang cara HL menagih Yusuf Mansur di medos ini dia mengatakan, “Di medsos saya mau nulis yang kasar (tentang Yusuf Mansur) tapi ada rasa kasihannya. Tapi kalo bicara yang lunak Yusuf Mansur dan kawan-kawannya keenakan. Kelamaan saya nekat juga nulis yang nylekit.”

Pada bagian akhir dari dialognya dengan Hilwa Humari pada pekan lalu lalu itu, HL menulis, “Saya kini menyadari kalau Yusuf Mansur itu hanyalah seorang pembohong yang berkedok ustadz.”

About Darso Arief

Darso Arief
Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.