Breaking News
(Foto : Akun Akmal Burhanuddin Nadjib)

Mandi Dulu atau Langsung Tidur

Oleh: Akmal Burhanuddin Nadjib

(Foto : Akun Akmal Burhanuddin Nadjib)

“Pak Kyai, kok anaknya banyak banget sih? apa gak repot nanti ngurus nya?” tanya seorang santri gemblung. Pertanyaan kurang ajar namun banyak manfaat untuk pembelajaran.

Banyak anak bukan hanya monopoli para Kyai, para asatidz atau guru yang mengajar dilingkungan pondok pesantren pun tidak kalah. Mertua saya sendiri bangga bisa mengandung 18 kali walaupun yang ditakdirkan hidup hanya 13 orang. Bahkan ada seorang pengajar yang memiliki anak lebih dari itu.

“Itukan hiburan bapak nak, kalo kalian hiburan kan bisa ke mall, bioskop atau jalan-jalan. Kalo bapak ke mall atau bioskop nanti apa kata santri. Bapak mah hiburannya sama Bu Nyai saja”, jawab Pak Yai singkat atas pertanyaan santri gemblung.

Ya, begitulah, membahagiakan pasangan bisa ménjadi amal soléh yang tidak bisa dilupakan. Tapi kadang memang melelahkan. Bagi yang menikmati tentu saja hal ini menjadi hiburan yang paling mengasyikan.

Kata Bu dokter Aisah Dahlan, kalo lelaki habis hubungan langsung tidur jangan dimarahi, karena justru ia sedang menikmati. Sistem syarafnya sedang bekerja menikmati hiburan yang baru selesai dilakukan.

Karena sunnatullahnya seperti itu, Baginda Nabi صلى الله عليه وسلم tidak melarang bagi siapa saja yang habis mendapatkan hiburan untuk langsung tidur.

Sayyidah Aisyah رضي الله عنها menjelaskan,

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينام وهو جنب من غير أن يمس الماء

“Nabi tertidur dalam kondisi junub tanpa menyentuh air”.

Namun dalam kondisi lain Rasulullah berwudhu saja atau membersihkan kemaluan dan berwudhu tanpa mandi terlebih dahulu.

Ibnu Umar pernah tanya Kanjeng Nabi,

انه سأل النبي صلى الله عليه وسلم اينام أحدنا وهو جنب؟ قال ‘نعم’ و يتوضأ إن شاء

“Boleh tidur saat junub, tapi baiknya jika bisa wudhu dulu.”

Dalam riwayat Bukhari,

اغسل فرجك ثم توضأ

“Cuci kemaluanmu, kemudian wudhu.”

Jadi, boleh langsung tidur, wudhu doang, atau cuci kemaluan lalu wudhu.

Wallahu A’lam.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur