Breaking News
Hary Prabowo (kiri) bersama Yusuf Mansur. Sahabat karib. (Foto : Istimewa)

BALADA TKW DENGAN BISNIS YUSUF MANSUR (4)

Bubarnya WAG Tabung Tanah

WAG Investasi Tabung Tanah. Yusuf Mansur dan Hary Prabowo keluar. (Foto : Istimewa)

Tanggal 21 September 2014. Yusuf Mansur berada di Southern Sport Center, Wanchai MTR Exit A3, Hong Kong. Kehadiran Yusuf Mansur di sini dalam rangka berceramah atas undangan komunitas pengajian atau jamaah Tenaga Kerja Wanita (TKW) kita yang berada di sana.

Seperti biasa, Yusuf Mansur memulai ceramahnya dengan mengajak jamaah membaca Qur’an bersama. Seperti biasa pula, isi ceramah Yusuf Mansur adalah tentang keajaiban orang bersedekah. Orang yang mendapat rezeki seperti ketiban durian runtuh, mendapat solusi dari problem hidup, dan sebagainya. Padahal, bila ditelisik lebih jauh, mereka yang dicontohkan dalam ceramah Yusuf Mansur itu adalah fiktif adanya alias imajinatif. Juga seperti biasa, pada akhir ceramahnya, Yusuf Mansur meminta sedekah dari jamaah yang kemudian dikumpulkan dan dibawanya pulang.

Selain meminta sedekah, kesempatan di Hong Kong ini dimanfaatkan juga oleh Yusuf Mansur untuk menggelar “dagangan” lain, yakni, investasi. Adalah Hotel Siti, Condotel Moya Vidi, VSI atau Paytren dan Tabung Tanah, adalah investasi-investasi yang dijual Yusuf Mansur.

Salah satu investasi yang cukup diminati jamaah TKW adalah Tabung Tanah. Ini karena proses investasinya cukup mudah dan janji keuntungannya cukup menggiurkan.

Hary Prabowo (kiri) bersama Yusuf Mansur. Sahabat karib. (Foto : Istimewa)

Menurut Yusuf Mansur, di dekat pesantren miliknya, Darul Qur’an, di Tangerang, Banten ada tanah seluas tiga ribu meter persegi yang dijual pemiliknya. Kalau dia membeli sendiri jelas tak mampu. Oleh karena itu, dia mengajak jamaah ikut membeli tanah tersebut dengan cara berinvestasi. Tanah seluas itu diniatkan Yusuf Mansur untuk membangun kontrakan atau kos-kosan.

Nilai investasi Tabung Tanah yang dijual Yusuf Mansur adalah dua juta per meter persegi. Ini masih ditambah 400 ribu untuk keperluan administrasi. Para TKW kemudian berinvestasi dengan membeli paling sedikit satu meter persegi.

Banyak yang keuntungan dijanjikan Yusuf Mansur untuk investasi Tabung Tanah ini. Para TKW memiliki tabungan jika pulang dan bagi keuntungan sudah bisa didapatkan satu tahun setelah investasi disetor.

Untuk menampung dana investasi jamaah, Yusuf Mansur menunjuk rekening milik Koperasi Merah Putih. Koperasi ini adalah bentukan Yusuf Mansur yang awalnya diniatkan sebagai wadah investasi Patungan Usaha, sebuah dagangan investasi Yusuf Mansur sebelumnya.

Bermula pada tahun 2012, Yusuf Mansur menjual investasi Patungan Usaha. Milyaran uang masyarakat berhasil dikumpulkan namun badan usaha yang menaunginya tidak memenuhi syarat regulasi. Oleh lembaga wewenang saat itu Yusuf Mansur disarankan membuat badan usahanya, maka dibuatlah koperasi ini. Belakangan, nama koperasi ini berubah menjadi Koperasi Indonesia Berjamaah (Kopindo)

Selain kepada Koperasi Merah Putih, sebagian TKW juga melakukan transfer uang kepada Hary Prabowo. Nama yang disebut ini adalah sahabat Yusuf Mansur yang juga direktur Paytren, usaha MLM milik Yusuf Mansur yang berkantor di Bandung.

Berniat untuk mengkomunikasikan segala hal yang berhubungan dengan Tabung Tanah, Yusuf Mansur kemudian menunjuk pemilik nomor 0838 9422 0110 untuk membuat whatsapp grup (WAG) yang diberi titel ‘Nabung Tanah UYM’ pada 26 September 2014.

Hary Prabowo paling kiri dengan tim official Paytren di Surabaya tahun 2014. Perempuan dalam gambar ini adalah Hilwa Humaira, mantan star leader internasional yang juga pernah menjadi TKW di Hong Kong. Hilwa dkk dalam waktu dekat akan menuntut Yusuf Mansur karena investasi yang dikumpulkan dari TKW Hong Kong (Foto : dokumentasi Hilwa Humaira)

Semula, WAG ini beranggotakan lebih dari 100 orang, termasuk Yusuf Mansur dan Hary Prabowo. Sayangnya, dalam perjalanannya, Yusuf Mansur , Hary Prabowo dan hampir semua anggotanya keluar dari WAG ini. Nomor pembuat WAG itupun sudah tak bisa dihubungi, nomornya sudah tak aktif.

Saat ini, atau enam tahun kemudian, investasi Tabung Tanah itu hanyalah cerita pilu yang tersisa. Di mana tanah itu berada dan bagaimana nasib uang para investornya juga tak jelas. Begitu juga dengan WAG itu, yangg tersisa di dalamnya hanya dua orang. Satu mantan TKW yang tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur dan admin grup itu sndiri. Admin grup dengan nomor 0857 7350 9977 pada 15 Oktober lalu berhasil penulis hubungi dan berdialog lewat aplikasi whatsapp.

Sang admin ini mengiyakan ketika penulis menyebut namanya sebagi Mas Koko Paytren. Dia juga mengaku bahwa keberadaannya sebagai admin grup itu hanya karena disuruh oleh Hary Prabowo. “Saya hanya ditunjuk, layaknya custumer service,” begitu dia menjawab penulis.

Mas Koko Paytren ini mengaku, bahwa dia bertugas menjawab semua masalah yang berhubungan degan investasi Tabung Tanah itu. Anehnya, dia sendiri tak mengetahui dimana persis letak tanah yang menjadi obyek investasi itu. “Seingat saya itu tanah di daerah mana gitu…” begitu dia menulis.
Pada bagian lain sang admin grup ini mengaku sebagai karyawan di Paytren dan tinggal di Bandung. Dengan berbagai alasan, Mas Koko Paytren ini menolak bertemu dengan penulis.

About Darso Arief

Darso Arief
Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.