Breaking News
(Foto : Ruang Muslimah)

Jiwa yang Merindukan

Oleh: dr. Henny Thalib

(Foto : Ruang Muslimah)

Saya lahir di keluarga yang mengatakan dirinya sebagai orang Islam. Sejak kecil, setiap pagi selalu terdengar ceramah KH. Zainuddin MZ di rumah. Lalu, setiap sore pun saya dibawa ke masjid untuk belajar mengaji.  Hingga usia dewasa. Saya merasa sebagai manusia beragama Islam, sampai suatu ketika saya mempelajari sebuah buku filsafat dimana mengajak untuk bertanya akan diri sendiri.

Siapa saya? Untuk apa saya disini? Kenapa bahasaku berbeda dengan burung, tanaman, dll? Kenapa harus berbeda? Buat apa saya dilahirkan? Apa tugas saya di dunia ini? Dan masih banyak pertanyaan demi pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya, sampai akhirnya saya bermimpi.

Didalam mimpi itu, saya berdiri di pinggir danau yang indah dan berada di tengah-tengah hutan rimbun nan cantik. Matahari terang benderang dan tak sedikitpun terasa panas di kulit. Aah damainya.. Indaahnya..

Terasa udara sejuk nan dingin menyentuh pipi dan terdengar sayup-sayup suara adzan :

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)

Asyhadu allaa illaaha illallaah (2x)

Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah (2x)

Hayya ‘alashshalaah (2x)

Hayya ‘alalfalaah (2x)

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar

Laa ilaaha illallaah

Saya terbangun seketika karena kaget, lalu duduk termenung dan ketika ku buka jendela kamar ternyata di luar tampak masih gelap dan sepi serta jam menunjukkan pukul 03.00 wib. Mimpi apa ini ya?

Tiga hari setelah mimpi itu, saya semakin gelisah dan terus bertanya dalam diri sendiri. Siapa saya, Siapa saya, Apa tugas saya, Mau apa kamu disini, Henny…

Pertanyaan demi pertanyaan akan diri saya semakin mengganggu dan membutuhkan jawaban yang tepat. Sampai akhirnya, saya duduk di wartel dan bertemu seorang akhwat dengan jilbab lebar. Kami dalam antrian dan saya pun tanpa pikir panjang langsung bertanya pada dia,

Saya : “Eh, kamu siapa..?”

A : “Oh saya? Nama saya Kuspita..” (Saya lupa namanya, hanya ingat 3 huruf depan : Kus )

Saya : “Ah saya tidak butuh nama kamu.. Saya mau tahu, kamu siapa? Untuk apa kamu disini, di dunia ini? Kamu berpikir tidak kenapa kamu bisa bicara dengan bahasa seperti ini, tapi kenapa tidak tuit tuit seperti burung atau mbek seperti kambing itu?

A bengong. Lalu dia tersenyum manis. Dan mengajakku ke kamar kost-annya dan kami pun lupa dengan urusan telepon. Saya pun ikut saja, walaupun bingung.

Diskusi demi diskusi. Akhirnya saya sadar bahwa adzan itu adalah panggilan untukku memasuki Islam secara penuh. Mulailah saya mengikuti kelas demi kelas untuk mengenal Islam yang benar dan lurus, walaupun terasa aneh.

Sejak kecil saya merasa sudah Islam, tapi Allah berkehendak lain. Ke-Islam-an yang kumiliki hanya label, karena ku tak shalat dan puasa dengan baik. Ku tak mengenal hukum syariat dengan baik. Bahkan saya masih mempercayai semedi, dukun, dll.

Iya. Saya lahir di keluarga Islam Kejawen alias Islam Kepercayaan alias Islam Nusantara yang saat ini ramai dihidupkan dan buat Allah, kepercayaan saya yang mengaku sebagai bagian dari Islam adalah bukan Islam.

Akhirnya. Saya pun bersyahadat dengan disaksikan 2 mentor yaitu Kus dan sahabatnya. Keluargaku tidak ada yang tahu bahwa saya bersyahadat.

Bahkan mungkin sampai saat ini, keluargaku berpikir diri mereka adalah seorang muslim. Tetapi perjalanan hidupku membawaku bahwa menjadi seorang muslim secara utuh, dibutuhkan syahadat dan beribadah sesuai petunjuk Allah dan RasulNya.

Sampai detik ini, saya masih bertanya ke Allah, untuk apa diriku disini? Kenapa begitu berat menjadi seorang muslim yang lurus?

Tapi, kematian Hana Tandjung, Allahu yarham sahabatku menjadi contoh bahwa sangat layak untuk menjadi muslim yang lurus.

Hana. Tak ada yang tahu, bahwa kami sering berdiskusi akan akidah tauhid. Kerinduan akan kembali ke kampung akhirat dengan ridhoNya.

Beberapa hari belakangan dia memanggilku dan hari itu panggilannya semakin jelas di telingaku, “Mba Henny.. Mba Henny..”

Awalnya ku pikir semata-mata halusinasiku saja. Ah mungkin saya rindu dengannya, nanti deh, setelah masak ku hubungi.

Tetapi kabar yang masuk adalah Hana kritis dan… tanpa pikir panjang saya lari menuju rumahnya. Persis saat ku ucapkan “Assalamu’alaykum..”, ruh Hana terlepas dan..

Saya diam di pojokan dan termenung. Abah dan Umi kaget melihatku di sana, karena memang tak ada yang tahu kedekatan hati kami. Hana pernah bilang, “Mba Hen, jiwa-jiwa yang sama akan disatukan oleh Allah. Walaupun dia pernah tercerai berai, tapi pasti akan didekatkan kembali. Karena setiap jiwa saling merindukan..”

Duh Nana.. Begitu banyak kita buat janji untuk ketemu dan spa bareng, tapi Allah belum ijinkan. Tetapi panggilanmu membawaku untuk berkesempatan hadir dan melihat cantiknya dirimu. Aku iri, Na.. Belum pernah ku melihat wajahmu secantik itu.. Kamu bidadari surga ya, Na..?

Kematian Nana menyadarkanku bahwa surga itu mahal dan sakitnya ujian demi ujian adalah tiket yang mahal untuk menuju surgaNya.

Alhamdulillah.. Saya di usia 23 tahun telah menjadi Islam yang sempurna dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala jaga kelurusan tauhidku hingga malaikat maut menjemput.

Semoga Allah mempertemukanku kembali dengan sahabatku, Hana Tandjung Allaahu Yarham sejak di taman barzakh hingga ke surgaNya nanti. Semoga Allah ijinkan kematian dalam taubat, Allah ridho dan husnul khotimah, Aamiin allaahumma aamiin.

Semoga kisahku ini bermanfaat.

 

(Judul dari redaksi, beberapa bagian dari artikel ini sudah alami editing)

About Redaksi Thayyibah

Redaktur