Breaking News

BALADA TKW DENGAN BISNIS YUSUF MANSUR (1)

Melati dan Suci. Harapan yang Ambyar

Melati, sebut saja begitu, ibu muda dengan dua anak perempuan yang masih balita. Tinggal di Cilacap, Jawa Tengah. Tahun 2009 Melati bertekad merubah nasib ke Hong Kong dengan menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW). Selama di Hong Kong, Suryati aktif dalam organisasi dan perkumpulan pekerja migran Indonesia, termasuk pengajian-pengajian yang mereka adakan.

Antara tahun 2013 hingga 2015, pekerja migran di Hong Kong aktif adakan pengajian. Selain dengan tim pengajar asal Indonesia yang berada di Hong Kong, mereka juga mengundang ustad dari Indonesia, diantaranya Yusuf Mansur. Para ustad yang diundang dibiyai oleh pekerja migran lewat orgnanisasi pengajian mereka. Dengan Yusuf Mansur sendri Melati mengaku pernah bertemu di Hong Kong dalam beberapa kali pengajian dalam tahun 2013 hingga 2015.

Di depan pekerja migran di Hong Kong ini, Yusuf Mansur memperkenalkan bisnis dan usahanya, antara lain VSI (awal mula Paytren). Bisnis lain yang juga dikenalkan Yusuf Mansur adalah Patungan Usaha, Patungan Asset dan Patugan Tanah. Tak lupa Yusuf Mansur juga mengumpulkan sedekah dan dibawa pulang. Salah satu bisnis Yusuf Mansur yang membuat Melati tertarik dan bergabung adalah VSI, yang dikenalkan sebagai system pembayaran digital dengan tekhnologi internet.

Seperti diketahui, Agustus 2013 Yusuf Mansur meluncurkan bisnis barunya di bawah payung PT Veritra Sentosa Internasional (VSI) yang disebut sebagai penyedia jasa transaksi online untuk pembayaran listrik, pulsa telepon seluler, tagihan PDAM, televisi berbayar, hingga zakat. Untuk itu, VSI menjaring mitra dengan iming-iming bisa membayar banyak tagihan tersebut secara gratis.

VSI menawarkan 5 paket kemitraan. Paket Basic, mitra cukup menyetor modal Rp. 275.000. Dengan modal ini, mitra mendapatkan kepemilikan satu fasilitas VPay yang berlaku seumur hidup dan dapat diwariskan. Paket Silver, mitra memperoleh 3 fasilitas VPay plus cash back alias dana tunai Rp 75.000 plus deposit VPay sebesar Rp. 50.000. Syaratnya, mitra menyetor Rp 825.000. Paket Gold, mitra memperoleh tujuh fasilitas VPay serta dana tunai Rp. 225.000 dan deposit Rp. 170.000. Modalnya, Rp 1.925.000. Paket Platinum, mitra memperoleh 15 unit VPay plus dana tunai Rp. 675.000 dan deposit VPay sebesar Rp 450.000. Untuk itu, mitra mesti berinvestasi Rp 4.125.000. Terakhir, paket Titanium dengan modal Rp 8.525.000. Di sini, mitra mendapat 31 fasilitas VPay, dana tunai Rp 1.635.000, dan deposit VPay Rp 1.090.000.

Bukti-bukti transaksi Melati dengan VSI/Paytren (Foto-foto : Melati)

 

Tidak cukup sampai di situ, iming-iming VSI bertaburan, mulai dari jalan-jalan ke luar negeri hingga mobil seharga Rp. 5 miliar. Caranya, mitra mesti mencari “kaki” sebanyak 500 di kiri dan 500 di kanan. Di posisi ini, status mitra bukan lagi sebagai sponsor, tetapi leader. Setiap menggaet orang baru, si mitra mendapat bonus sebesar Rp 50.000, terdiri atas uang tunai Rp 30.000 dan deposit VPay Rp 20.000. Setelah berhasil mengajak mitra baru, status si mitra lama tadi menjadi sponsor. Dan, apabila mitra baru

yang digaet berhasil mengajak dua orang baru, sang sponsor di atasnya akan mendapatkan bonus Rp 25.000.

Tertarik dengan iming-iming yang dijanjikan Yusuf Mansur, akhirnya Melatinbergabung dengan VSI dengan membeli paket Titanium. Bahkan, Melati juga mengajak suaminya yang kala itu bekerja si Korea dan salah satu saudaranya di Cilacap. Melatii mengaku, setelah bergabung , dia pernah sekali saja menggunakan VSI di Hongkong. “Tapi hanya sekali, selanjutnya tidak bisa lagi,” kata Melati yang ditemani suaminya saat bertemu penulis pada Rabu (12/8) lalu pada sebuah rumah makan di Cilacap.

Tahun 2015 Melati pulang ke Cilacap dan mengaktifkan aplikasi VSI-nya. Mendownlad ulang aplikasi VSI. Kaget, ternyata aplikasi tersebut sudah tak berfungsi. Melati lalu menghubungi nomor telepon VSI yang pernah disimpannya. Dia kemudian dituntun untuk dapatkan aplikasi baru yang setelah didownload berubah wajah menjadi Paytren. Padahal, sepeti yang diakui Melati, sebelumnya tak ada pemberitahuan apa-apa. Tidak ada pemberitahuan, bahwa VSI sudah tak bisa digunakan. Artinya, jika dia tak berinisiatif menghubungi VSI maka kepesertaan dia di VSI hilang dengan sendirinya.

Melati kemudian menggunakan aplikasi Paytren untuk mengisi pulsa telepon seluler dan membeli token listrik. Meski keuntungannya sangat kecil dibanding aplikasi lain, Melati sesekali melayani pembelian pulsa telepon atau token listrik.

Meski tidak bisa diandalkan sebagai usaha dagang yang menguntungkan, Melati mau mencoba bertahan dengan Paytren. Agar bisa tetap digunakan, Melati beberapa kali lakukan top up melalui ATM Mandiri. Dengan begitu Melati berharap adalah cash back seperti yang dijanjikan Yusuf Mansur. Selain itu, keuntungan besar yang dijanjikan adalah dari rekrutmen anggota baru. Sayang, baik cash back maupun rekrutmen anggota baru hanyalah isapan jempol. Cash back tak ada yang berminatpun tak kunjung datang.

Hanya setahun Melati memanfaatkan jasa layanan Paytren. Tanpa ada pemberitahuan apa-apa, aplikasi Paytren yang digunakan dalam setahun itu mati dengan sendirinya. Melati kemudian menghubungi kantor Paytren. Sayangnya, tak ada penjelasan yang memuaskan. “Malah saya dibikin bingung dengan penjelasan yang muter-muter,” demikian Melati.

Melati juga pernah beberapa kali mengirim SMS ke Hary Wibowo menanyakan status aplikasi Paytren-nya. Bukan jawaban dan solusi yang didapat, malah Hary Wibowo berbalik marah terhadap dirinya. Menurut Suryati, Hary Prabowo berkata, bahwa matinya aplikasi Paytren bukan urusannya. Melati diajurkan menghubungi costomer service (CS) Paytren. Setelah dihubungi, jawaban CS Paytren tak beda dengan Hary Prabowo, jlimet dan tak bisa berikan solusi.

Penyesalan Melati terhadap Paytren makin menumpuk, ketika hendak mencairkan bonus yang tertera dalam aplikasi. Bonus rekrutmen keanggotaan dan bonus penggunaan sama sekali tak bisa. Ada angka yang tertera di aplikasi, yakni 3 juta. Namun, setelah di cek ke rekening ternyata kosong, alias tak ada uang yang dimaksud.

Melati juga pernah chating dengan Hary Prabowo di akun facebook soal keluhannya bergabung dengan Paytren. Chating itu dilakukan Melati denga akun pribdinya. Sayang, akun tersebut dihack orang sehingga dia tak bisa gunakan akun itu lagi. Akun milik Melati itu berubah menjadi Grahm’norrtton Show Jr.

Kisah Melati dengan VSI dan Paytren sama persis dengan apa yang dialami oleh Suci (bukan nama sebenarnya) yang kini tinggak di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Suci pergi ke Hong Kong hampir bersamaan dengan Melati, begitu juga kepulagannya. Suci yang kini menjadi karyawan pada sebuah perusahaan garment yang tak jauh dari rumahnya ini, mengaku membeli Paket Gold VSI.

Meski uangnya tak sebanyak yang dikeluarkan Melati, namun Suci menaruh harapan besar pada Paytren. “Saya tadinya berharap, setelah pulang bisa membangun usaha sendiri dengan VSI atau Paytren itu. Nyatanya sekarang harapan itu ambyar, gak sesuai janji Yusuf Mansur,” tutur Suci kepada penulis di rumahnya di Kota Banjarnegara.

Selain Melati dan Suci, masih ada banyak pekerja migran di Hong Kong yang merasa terperdaya dengan bisnis yang dibangun Yusuf Mansur. Mereka sebagian masih di Hong Kong dan sebagian lagi sudah kembali ke tanah air. Mereka yang merasa terpedaya itu dalam waktu dekat berencana membawa masalah bisnis dengan Yusuf Mansur ke ranah hukum. Semoga.

 

 

About Darso Arief

Darso Arief
Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.