Breaking News

Perjalanan Hidup Azie Taylor Morton

(Foto : Istimewa)

Aku lahir hasil perkosaan pria terhadap ibuku yang bisu, tuli dan miskin sehingga aku tidak mengenal lagi siapa ayahku.

Ibuku bisu, tuli, dan sangat miskin. Suatu hari, sesosok pria perkosa ibuku hingga hamil. Lahirlah aku tanpa pernah kenal siapa ayahku.

Karena menanggung malu, ibuku melahirkanku di kebun yang sepi tanpa bidan. Yang menolong ibuku melahirkanku adalah seorang ibu tua pemilik kebun.

Kami hidup sangat miskin hingga dalam umur yang masih sangat muda, aku terpaksa bekerja untuk mencari sebakul nasi untukku dan ibuku karena saat itu ibuku sakit stroke. Aku bekerja sebagai buruh kasar di perkebunan kapas. Aku benci keadaan saat itu.

Aku kecewa pada Tuhan saat itu karena Dia tidak adil atas hidupku. Di saat kebanyakan anak-anak menikmati hidup layak, aku harus bergumul dalam penderitaan. Sungguh, aku tidak paham mengapa aku dilahirkan dan tidak melihat kehidupan yang baik di masa depan.

Teman-teman seusiaku sering mencemoohku. Mereka memanggilku si ‘anak haram’ dan mereka tidak mau berteman denganku.

Suatu hari, aku bertemu dengan seorang pemuka agama. Beliau berkata kepadaku: “Azie.. (namaku Azie) tahukah kamu bahwa hidup ini adalah anugerah, Nak? Tuhan memberikan kamu kebebasan memilih. Mau tetap mengeluh seperti ini atau bangkit dari kemiskinan pilihan itu ada di tanganmu, Nak. Perlu kamu tahu rencana Tuhan atasmu bukan rencana kecelakaan melainkan hari depan yang penuh harapan. Selama bisa memilih, pilihlah yang terbaik.” Nadanya lirih penuh makna.

Kata-kata pemuka agama itu membangkitkan semangatku untuk berdiri tegak dan doa ibu membuatku kuat menghadapi tantangan hidup. Akhirnya aku pilih keluar dari rasa kecewa dan tak berguna ini.

Singkat cerita, aku mulai bekerja dengan giat untuk membiayai sekolah dan kehidupan ibuku. Berkat doa ibuku serta kerja keras yang ulet, akhirnya Tuhan memberkatiku dengan melimpah, aku meraih kesuksesan.

Tahukah kamu siapa aku? Aku adalah Azie Taylor Morton, menjabat Menteri Keuangan Amerika Serikat di era , Presiden Jimmy Carter.

Jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain, namun lepaskan dan merdekakan diri Anda dari rasa iri, dengki, dan benci kepada orang lain, kepada siapa pun dan apa pun sikap serta perilaku mereka pada Anda.

Ampuni orang yang membencimu, jangan mendendam. Abaikan orang yang mencibirmu. Buatlah itu jadi motivasi untuk maju pesat. Siapa pun Anda, apa pun masalah Anda saat ini, berdoalah, bangkitlah, dan berjuanglah dari keterpurukan.

Keep smiling

Never give up

Be winner in life

Be blessed

be courageous

be kind

be of influence to your community

 

(Artikel dari WAG tanpa menyebut  nama dan sumber tulisan)

 

About Redaksi Thayyibah

Redaktur