Breaking News
(Foto : Kompasiana)

Gibran vs Kotak Kosong

INSPIRASI DARI MAKASAR

(Foto : Kompasiana)

Tahun 2018, Pilkada Makasar mencatat sejarah: kotak kosong menang melawan calon tunggal.  Kemudian Mendagri menetapkan pj wali kota sesuai UU Pilkada 2016.

Calon tunggal pun gigit jari. Padahal pasangan yang keluarga Jusuf Kalla itu didukung semua partai. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mereka kalah.

Bagaimana bisa? Rupanya naluri perlawanan masyarakat meronta-ronta untuk memberi pelajaran politik pada mereka yang sok kuasa. Bahwa masyarakat tak dapat didikte oleh telunjuk kekuasaan. Bahwa nalar rakyat tak dapat dibungkam. Bahwa ambisi parpol bukan aspirasi rakyat.

Para aktivis lalu mengampanyekan kotak kosong. Warga dari mulut ke mulut membisikkan, bahkan meneriakkan: menangkan kotak kosong! Militansi perlawanan luar biasa, hingga mampu menumbangkan dominasi parpol dan keangkuhan penguasa.

Bagaimana dengan Solo? Bisa dan tetap mungkin. Kotak kosong punya peluang mempecundangi Gibran. Meskipun banyak suara pesimistik. Alasannya beragam. Karakter warga Solo beda dengan Makasar. Solo basis PDIP. Oligarki sudah menguat. Nepotisme menebal. Juga faktor KPU dan pemihakan aparatur.

Pesimisme yang diringi banyak satire, olok-olok, dan kejengkelan warganet, menghiasi timeline. Umumnya menyindir: sudahlah, lantik langsung saja tanpa nyoblos. Buat apa buang duit membiayai Pilkada yang sudah jelas siapa pemenangnya.

Eit, nanti dulu. Pada saat bersamaan juga banyak yang mengungkap inspirasi dari Makasar. Kalangan perindu keadilan mulai membisikkan, ‘kita lawan oligarki kekuasaan. Kita tumbangkan Gibran.’

Jangan remehkan akal sehat orang Solo. Mungkin tak semilitan Makasar. Perlawanan tak tampak diumbar.  Namun alon-alon asal kelakon bisa menjadi energi dahsyat dalam perlawanan diam-diam.

Jangan juga remehkan Ahmad Purnomo yang disalip Gibran. Dia politisi senior PDIP Solo yang punya basis akar rumput. Sebuah survei membuktikan, elektabilitas Purnomo jauh di atas anak Jokowi. Purnomo lebih 40 persen. Gibran tak sampai 20 persen.

Kekecewaan Purnomo menjadi kekecewaan pendukungnya. Politisi senior PDIP itu bisa saja dilihat sebagai sosok yang dizalimi. Dan itu dapat menarik simpati publik. Kotak kosong menjadi representasi Purnomo. Kotak kosong menjadi simbol perjuangan.

Jangan juga remehkan PKS. Partai yang melawan arus ini dapat memainkan perannya untuk keunggulan kotak kosong. PKS punya modal suara senilai 5 kursi. Modal politik yang bisa gandakan dengan main elegan: cantik, tegas, punya nyali.

Jangan remehkan pula umat perindu keadilan di Solo. Mereka eksis dan acap menjadi tulang punggung demo-demo besar di Solo menyuarakan keadilan.

Kalau segenap kekuatan itu bisa disatukan dan menyatu, maka Solo akan menjadi kota kedua setelah Makasar: kotak kosong menang.

Saya termasuk yang optimistik. Kiranya warga Solo akan mampu memberi pelajaran politik pada politisi munafik dan kalangan picik lagi licik.

Mungkin ada yang nanya, saya KTP mana?
DKI Jakarta.

Kok memcampuri urusan Solo? Lah, istana aja ikut campur dalam pencalonan. Masa’ sesama rakyat anak negeri ngga boleh saling beri semangat untuk melawan kekuasaan yang arogan. Juga banyak para buzzer yg domisili dan KTP nya luar DKI menyerang Anies Baswedan setiap saat kok.

Perlawanan konstitusional para perindu keadilan semoga dapat mencegah tampilnya pemimpin abal-abal. Kita bosan menjadi mual.

Perlawanan konstitusional ye, bukan makar sate bebek. Moga aja perlawanan yang alamiah, muncul dari kesadaran rasa merdeka dari setiap jiwa.

 

(Artikel diambil dari WAG tanpa menyebut nama dan sumber artikel)

About Redaksi Thayyibah

Redaktur