Breaking News
Kerusuhan Amerika, Mei 2020 (Foto : Istimewa)

Demokrasi Amerika Ambyar?

Oleh: Setiardi Reborn

Kerusuhan Amerika, Mei 2020 (Foto : Istimewa)

Tahun 2004 saya pertama kali ke Amerika. Mengikuti program internasional yang dibiayai Kemenlu Amerika. Kami mengikuti kelas di beberapa kampus top — antara lain Columbia University, New York. Tema utamanya pluralisme, dalam negeri demokratis. Saat itu Amerika sangat membanggakan sukses membangun pluralisme di sana. Kami para peserta dari luar Amerika seperti obyek kampanye mereka.

Terus terang saya sempat terpukau dengan kemajuan berdemokrasi di Amerika. Saat saya di sana buku dan film ‘Fahrenheit 9/11’ sedang laris. Ini kisah tentang dugaan persekongkolan Presiden Bush atas tragedi runtuhnya menara kembar WTC. Saat itu penulis buku dan film dokumenter tersebut, Michael Moore, tetap bebas.

Tapi kini kekaguman saya atas demokrasi di Amerika mulai ambyar. Berawal dari kekerasan berbau rasisme oleh polisi kulit putih terhadap George Floyd, warga kulit hitam di Minnesota. Floyd mati. Amerika bergolak. Terjadi kerusuhan dan penjarahan di banyak negara bagian. Gedung mall porak poranda.

Penulis di sebuah kampus di New York, AS (Foto : koleksi pribadi)

Awalnya ini isu rasis. Ada sentimen kuat di kalangan kulit hitam. Tapi dua, atau tiga, hari terakhir isu jadi berubah. Ini menjadi pergumulan antara rakyat Amerika [hitam, putih, dll] melawan aparat keamanan. Dan aparat mulai melakukan aksi represif. Polisi bersenjata mulai main hantam terhadap pengunjuk rasa, termasuk pada perempuan kulit putih — sesuatu yang sulit dibayangkan terjadi di Amerika.

Sepertinya saya harus menata ulang referensi berdemokrasi yang sehat. Amerika bisa saja tak lagi jadi patron demokrasi dan kebebasan. Demokrasi Amerika mulai ambyar. Atau mungkin konsepnya berubah: Amerika akan menjadi rujukan simbol perlawanan rakyat terhadap polisi/tentara. Mungkinkah rakyat Amerika akan mengajari dunia soal keberanian melawan kesewenang-wenangan?

 

About Redaksi Thayyibah

Redaktur