Breaking News
Serakah. (Foto : Istimewa)

Untuk apa Serakah?

Oleh: Inayatullah Hasyim (Dosen Univ. Djuanda Bogor)

Serakah. (Foto : Istimewa)

 

Alkisah, seorang nenek tua telah kehilangan uang seratus ribu rupiah. Dia lalu meminta anak muda untuk membuat pengumuman, dan ditempelkan di masjid. Kalimatnya, antara lain, “uang itu sangat dibutuhkan nenek untuk belanja dapurnya. Jika menemukan, harap diantar langsung ke rumah beliau”.

 

Banyak jamaah masjid yang merasa iba dan trenyuh dengan pengumuman tersebut. Lalu, diam-diam mereka mengaku menemukan uang nenek itu dan mengantarkannya. Satu persatu mereka datang bergantian, tanpa ada yang tahu. Tapi dengarlah jawaban nenek itu.

 

“Nak, kamu orang ke dua-puluh yang mengaku menemukan uangku. Tolong hapus pengumuman itu, aku sadar kain kafan tak memiliki kantong, mengapa aku harus serakah?”.

Nenek itu benar. Dia tak mau serakah, padahal bisa saja dia menerima uang dari setiap orang yang mengaku telah menemukan uangnya itu. Dia sadar betul bahwa sebanyak apapun harta dikumpulkan, ia tak akan dibawa menemani kita ke alam kubur. Sebab kain kafan tak berjahit dan memilik kantong.

Demikianlah pula kita mendengar kisah hidup Rasulallah SAW dan para sahabatnya yang sangat takut akan hisab keserakahan di akherat kelak.

Suatu kali, Umar bin Khattab masuk ke rumah Rasulallah SAW. Ia mendapati ada bekas bekas tikar di punggung Rasulallah SAW yang mulia itu. Umar bin Khattab bertanya, “Ya Rasulallah, para raja hidup di singgasana kemewahan, sementara engkau?”

Rasulallah menjawab, “Apakah Engkau dalam keadaan ragu (keimanan) wahai anak Khattab? Mereka adalah kaum yang mendahulukan kebahagiaannya di dunia. Apakah engkau tak rela, kebahagiaan mereka di dunia dan kebahagiaan kita di akherat”. (HR Bukhari-Muslim).

Rasulallah SAW mengajarkan, betapapun hebatnya dunia, ia fana. Ia berakhir.

Maka, Abu Bakar As-Shiddiq pun berpesan kepada puterinya, Aisyah, saat menjelang kematiannya, “Lihatlah kedua pakaianku ini, cucilah keduanya dan kafankan aku dengannya. Sesungguhnya mereka yang hidup lebih utama menggunakan kain baru dari pada yang sudah jadi mayit”. Abu Bakar wafat dan mewasiatkan agar seluruh hartanya diinfaqkan ke Baitul Maal.

Demikianlah pula Saad bin Abi Waqash. Dia berkata, “Aku berjuang melawan orang-orang musyrik pada perang Badar dengan kain ini, dan aku menyimpannya untuk hari ini!”. Saad bin Abi Waqash meminta dikafani dengan kain putih lusuh sisa perang Badar. Para sahabat Nabi itu sungguh sederhana memandang dunia dan khawatir terlilit sifat serakah.

Maka, saat ditunjukan kain kafan yang bagus, Hudzaifah bin Yaman pun pernah berkata, “kain kafan apa ini? Sungguh aku hanya butuh dua helai kain putih yang tak terjahit. Sesungguhnya aku tidak menggunakannya di kuburan kecuali hanya sebentar saja, hingga aku mengganti keduanya dengan yang lebih baik (yaitu amal-amalku) atau yang lebih buruk (yaitu dengan kemaksiatanku)”.

Dan Ali bin Abi Thalib berpesan pada Hasan bin Ali, puteranya, “Jangan berlebih-lebihan dalam mengkafaniku, sesungguhnya aku mendengar Rasulallah SAW bersabda, janganlah bermewah-mewahan dalam berkafan sebab yang demikian itu menghimpit dengan keras”.

Maka, Imam Syafii berpesan:

العبدُ حُرٌّ إن قنع .. والحُرُّ عبدٌ ان طمع

Seorang hamba sahaya hidup merdeka jika dia merasa berkecukupan. Dan seorang yang merdeka hidup (terbelenggu) dalam perbudakan jika dia serakah.

Demikian, semoga bermanfaat.

Wallahua’lam bis showwab

About Redaksi Thayyibah

Redaktur