Breaking News

Manusia Pilihan

Oleh : Anies Baswedan

 

Ditempa melampaui dosis tempaan umumnya manusia. Bayangkan anak usia 6 tahun mengantarkan jenazah dan menyaksikan ibunya dikuburkan. Betapa hancur hatinya. Mata basah dalam tatapan kosong dan hampa. Tinggal bersama Kakeknya, dua tahun kemudian kejadian sama berulang: kakeknya meninggal. Lalu ia dirawat oleh pamannya dan berulang: ia mengantarkan pamannya dikuburkan. Semua yang dicinta, ia lepas berpulang. Bahkan saat dua bulan di kandungan, ayahnya berpulang. Sejak dalam kandungan, semua yang dicinta pulang ke Rahmatullah.

 Ia seakan diajarkan bahwa tiada tempat bergantung dan menggantungkan diri selain pada Sang Khaliq. Tiada sumber aliran cinta, aliran kasih tanpa henti kecuali aliran dari Sang Maha Rahman, Sang Maha Rahim. Yang Abadi hanya dari Sang Pencipta.

 Kisah masa tumbuh yang nampak pilu di mata manusia adalah cara Sang Maha Mengatur menaikkan derajatnya. Gempuran mental luar biasa itu menghasilkan pribadi sempurna, yang kemuliaan akhlaqnya melampaui batas geografis dan batas waktu.

 Tiada manusia lain, sepanjang usia bumi yang telah jutaan tahun ini, yang kisah hidupnya tercatat dengan lengkap hingga bisa dibaca sampai 15 abad kemudian. Semua detail kisahnya tercatat. Itulah manusia pilihan, itulah Sang Uswatun Hasanah.

 Rindu kami padamu, Ya Rasul…

Rindu kami padamu, Ya Nabi…

Hari ini kami peringati peristiwa kelahiranmu.

 Hari di saat Aminah melahirkan pribadi sempurna itu. Bayi itu dikandung Aminah dari suami yang telah wafat. Abdullah, seorang suami yang hidupnya diperpanjang dengan tebusan hingga 100 unta. Belum pernah terjadi tebusan setinggi itu. Seakan mengirimkan pesan bahwa lelaki itu terhormat melampaui umumnya lelaki di zamannya. Tebusan perpanjangan nyawa itu hanya untuk sempat menikahi Aminah dan kelak mewariskan seorang bayi. Peristiwa yang menambah ketakjuban dan kesempuran Sang Maha Merencanakan untuk memberikan bingkai hikmah atas rangkaian peristiwa seputar lahir-besarnya pribadi sempurna ini.

Tanggal 12 Rabiul Awal di Tahun Gajah dikenang sepanjang masa.

 Dari Mekkah, cahaya akhlaq dari pribadi itu memancar ke seluruh dunia. Hingga kini cahaya akhlaqnya terus memancar. Tidak pernah redup. Itulah pribadi yang kita cintai, kita rindukan, dan kita junjung. Itulah Nabi Besar Muhammad Shalawahu alaihi wasalam.

 Semoga kita semua terus jadi penjaga tradisinya, penerus sunnahnya dan selalu didekatkan dengan sifat-sifatnya.

 

About Redaksi Thayyibah

Redaktur