Breaking News

THE SANTRI, YUSUF MANSUR DAN ANJING BERNASAB MULIA

Oleh : Nanang Alfatih

Yusuf Mansur dan anaknya Wirda bersama Gus Azmi, pemain The Santri

Ustadz kondang yang juga pendukung Jokowi, Yusuf Mansur memberikan tanggapan soal film “The Santri” yang mengalami penolakan di mana-mana. Seperti diketahui, anak sulungnya, Wirda Mansur menjadi pemeran utama di film garapan Livi Zheng itu.

“Sesama ummat, sesama pendakwah, sesama pengelola dan pengurus majlis ta’lim, pesantren, kudu banyak baik sangka. Thd langkah2 dakwah. Ga bs semuanya 1 pintu, 1 irama, 1 model,” kata Ustaz Yusuf Mansur pada Ahad (15/9/2019).

Ustaz Yusuf Mansur menyebutkan bahwa tidak mungkin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) menyalahi aturan syariat.

“Secara ga mungkin juga PBNU nyalahin syariat. Apalagi sampe niat menghancurkan dunia santri dan pesantren. Ga mungkin. Dan dg baik sangka itu juga membuat komunikasi antar kita jd cakep. Ga bawaannya curiga,” tegas dia.

“Apalagi sampe begitu gampang nyindir dan mencela. Bukan akhlak ummat Rasul juga, kan? Kalo ada kecurigaan, ya ngobrol aja. Atau ya keluarnya adalah doa.

 Satu sisi… Buat yg dg izin Allah dicurigai, disindir, diledek, ya jgn baperan jg. Sabar aja. Tunjukkan dg prestasi saja. Prestasi di lapangan yang bunyi dan berbicara. Ga usah bales2. Baik sangka aja. Bhw yg curiga, ya ga tau dan ga kenal. Ga usah jg cape2 menjelaskan. Asli. Jelaskan dg prestasi saja,” kata dia.


Wirda Yusuf Mansur dan Gus Azm, pecaran di dalam sekaligus di luar film.

 

 

 

 

 

 

***

 

Siang itu kampung Situ Gunung lagi heboh. Perkaranya, karena ada seorang pemilik anjing yang binatang peliharaannya tersebut mati.

Tapi yang bikin heboh bukan gegara matinya anjing tersebut. Si pemilik anjing bersikeras untuk mengkafani anjingnya dan menyolatkannya di musholla kampung tersebut. Tentu saja penduduk kampung menolak dengan keras permintaan majikan anjing itu.

Untuk merendahkan tensi yang sedang memanas di kampung tersebut sekaligus untuk menyelesaikan permasalahan secara baik-baik, lalu dipanggillah seorang kyai kondang di kampung itu.

Kyai tersebut akan dimintakan fatwa dan pendapatnya perihal perkara anjing mati yang bikin heboh ini. Tak lama, di kejauhan nampaklah sang kyai sedang berjalan tergopoh-gopoh bersama warga yang menjemputnya.

Begitu tiba di TeKaPe, Kyai langsung bertanya, “Mana pemilik anjing mati yang sudah dikafani ini?”

Seorang pria paruh baya maju dan berkata, “Saya pak Kyai.”

“Atas dasar apa kamu minta anjing kamu itu dikafani lalu disholatkan sebelum dikubur?

Dia kan binatang dan bukan manusia. Selain itu tak ada ajarannya dalam agama kita menyolatkan binatang yang mati!” tegas sang Kyai.

Dengan terbata-bata pemilik anjing berucap, “Ta..ta..tapi Kyai, ini adalah wasiat dari anjing saya… ”

“Bohong kam! Itu tidak mungkin. Mana mungkin anjing bisa berwasiat!” Sergah pak Kyai memotong ucapan pemilik anjing.

“Selain itu anjing saya ini juga berwasiat agar saya menyerahkan uang 100 juta kepada siapapun yang menjadi imam sholatnya,” jawab pemilik anjing melanjutkan kalimatnya yang tadi terpotong.

Tak diduga, sang Kyai tiba-tiba berkata, “Jika demikian, siapkan proses sholat mayyit dan ajak warga untuk menyolatkan anjingmu ini.”

Tentu saja warga semakin heboh demi mendengar jawaban Kyai yang demikian absurd dan aneh. Tapi warga tak ada yang berani menentang Kyai kondang tersebut. Sebagian dari merekapun berbaris di belakang Kyai membentuk shaf sholat jenazah.

Setelah selesai sholat, ada seorang warga yang memberanikan dirinya untuk bertanya pada sang Kyai, “Pak Kyai, nuwun sewu pak. Kenapa pak Kyai jadi berubah pikiran dan setuju untuk menyolatkan anjing itu?”

“Setelah saya telisik dengan seksama, ternyata anjing itu masih memiliki nasab mulia dari anjing milik pemuda Ashabul Kahfi,” jawab Kyai setelah mengambil nafas panjang.

Wargapun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya, entah tanda mengerti atau sekedar ikut-ikutan saja.

***

Terkadang rusaknya ajaran agama bukan karena tak ada lagi yang memahami atau mengetahuinya. Tapi justru datang dari orang-orang yang lebih faham namun karena ‘desakan’ kebutuhan duniawi, maka ia rela mengorbankan ajaran agamanya demi tercapainya ambisi walaupun harus menjerumuskan orang banyak dalam lembah kesesatan.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur