Breaking News
Suasana Buka Puasa sebuah perusahaan dengan Anak Yatim (foto : rri)

Anak Yatim, Buka Puasa, dan ‘Pelengkap Penderita’

Oleh : Basfin Sirega

Suasana Buka Puasa sebuah perusahaan dengan Anak Yatim (foto : rri)

 

Selama bulan Ramadan ini, banyak perusahaan mengundang anak yatim untuk buka puasa bersama. Tapi perlakuannya bisa beda.

Ada anak yatim yang dimuliakan. Ada juga yang cuma jadi ‘pelengkap penderita’.

Beberapa tahun lalu misalnya, seorang rekan wartawati meninggalkan acara buka puasa di sebuah perusahaan importir hampir setengah menangis, karena tidak terima melihat event buka puasa serendah itu.

Konsepnya prasmanan. Anak yatimnya sedikit, lebih banyak tamu dari relasi dan undangan korporat. Begitu maghrib, langsung mak byurr. berhamburan-lah itu para undangan menyerbu sajian.

Anak yatimnya? Uh, cuma duduk aja di kursinya. Pendamping dari yayasan juga diam saja. Mungkin malu atau minder.

Giliran panitia yg gelagapan. Tidak antisipatif. Tidak menyangka kalau para undangan yg penampilannya necis bisa se-ndesit dan sekalap itu kalau maghrib. Untungnya sblm maghrib sudah diedarkan kotak berisi snack. Dan dengan itulah para anak yatim berbuka: aqua kemasan, sambil duduk.

Sedang tidak jauh dari para anak yatim itu duduk, terbentuk standing party dari undangan dengan cokctail, puding, kue-kue, kolak, dll makanan enak, yang sebenarnya mereka mampu utk beli sendiri. Hampir habis lagi itu prasmanan. Baru setelah antrian agak reda, para pendamping mengambil sajian (yg sisa-sisa) itu untuk para anak yatimnya.

Pemandangan itu sungguh ironis dan rekan wartawati ini jadi setengah menangis campur marah. Belakangan perusahaan importir itu tersandung kasus produk palsu dan dihujat di sana-sini.

Ramadan berikutnya ada lagi undangan berbuka bersama anak yatim, dari sebuah perusahaan asing di sektor finansial. Konsepnya lagi-lagi prasmanan.

Cuma situasinya berbeda 180 derajat. Panitia sepertinya sudah berpengalaman sekaligus paham karakter malu anak-anak panti asuhan.

Anak-anak yatim itu ditempatkan di kursi dengan meja di hadapannya. Sedang undangan cuma duduk di bangku biasa, tanpa meja. Menjelang maghrib, atas perintah panitia, petugas hotel satu-persatu menaruh sajian di meja khusus anak yatim itu — di luar deretan prasmanan di barisan lain yang sudah disiapkan sebelumnya.

Begitu maghrib, undangan, relasi korporat, termasuk wartawan, pun antri ransum di barisan prasmanan sambil berdiri. Sedang anak-anak yatim tetap duduk manis di kursinya. Tidak perlu antri. Mereka cukup menjulurkan tangan saja untuk ngambil makanan.

Terlebih, ada satu orang dari perusahaan finansial itu yg rupanya ditugasi untuk khusus mengawasi meja anak yatim itu, sekaligus aktif men-service.

“Adik mau coklat? Udah dapat es buahnya? Mau yang mana dik?” Dll.

Dan tidak ada satu undangan pun yang cukup tebal muka untuk mengambil makanan dari meja anak yatim itu.

Luar biasa professional, sekaligus memuliakan. Perusahaan asing lagi.

Hari ini barusan menghadiri acara buka puasa yang diadakan sebuah grup konglomerasi lokal bersama anak yatim di sebuah hotel. Sebagian anak yatim itu saya lihat ada yang cacat seperti tuna netra. Luar biasa bukan? Sudah yatim, cacat pula.

Konsepnya lagi-lagi prasmanan. Menjelang maghrib petugas mengedarkan snack. Tapi lho, kok ada paket nasi dari sebuah restoran fast food? Padahal deretan prasmanan sudah disiapkan.

Misteri itu terbongkar setelah maghrib. “Ibu-ibu pendamping, prasmanan itu khusus untuk undangan saja. Adik-adik buka puasanya dengan nasi kotak ya. maaf yaa..” kata MC. Pakai speaker, keras lagi.

Yahh, memang masih mending lah, setidaknya dibanding acara buka puasa si perusahaan importir itu, yang bikin geram. Cuma, dibanding si perusahaan finansial asing itu, tidak terlihat derajat pemuliaan yang sama.

Siapa yang sebenarnya terhormat ketika mengundang anak yatim? Apakah tuan rumah? Ataukah si anak yatim yang harus merasa terhormat karena telah ‘diberi kesempatan” merasakan suasana hotel berbintang?

Kalau mengutip Nouman Ali Khan, dalam kasus memberi kepada kaum kurang mampu, the honor is ours. Kehormatan itu ada pada si pemberi, karena ia diberi privilege untuk menjadi saluran/channel rezeki bagi orang lain. Bahkan kalau toh dia ogah memberi, tidak masalah bagi si anak yatim, karena Allah dengan mudah akan memindahkan privilege sebagai saluran itu ke orang lain.

Tentu saja anak-anak yatim di acara tadi tetap gembira meski cuma dikasih paket nasi. Ada beberapa pendamping yg sudah terlanjur mengambil puding coklat (sebelum si MC sempat mengumumkan) dan saya lihat seorang bocah sampai menjilati piring saking senangnya. Tapi begitu ada pengumuman itu, ya switch ke paket basic, dan tetap senang.

Meski tadi mereka tidak smpai menjadi ‘pelengkap penderita’, saya pikir seharusnya performa itu bisa ditingkatkan lagi. Diubah itu paradigma bahwa relasi korporat, tamu undangan, adalah VIP dalam acara buka puasa bersama anak yatim. Di acara seperti itu, para anak yatim itulah VVIP yang sebenarnya.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur