Oleh : Davy Byanca

Sahabat sufiku.
BAGAIMANA KALAU Multatuli dulu tidak pernah menjadi staf di Banten? Mungkin kita tak akan pernah tahu kalau penguasa di Indonesia sudah korupsi sejak zaman dulu. Para pekerja rodi seharusnya dibayar, dan rakyat pada saat itu tidak akan tahu kalau mereka sebenarnya sedang dijajah oleh bangsanya sendiri. Kebobrokan sistem sejatinya sudah ada sejak zaman pra kemerdekaan. Parahnya, hal itu masih terjadi sampai sekarang. Apa contohnya? Kita saksikan bahwa saat ini yang tak paham bisa memimpin, yang paham justru diminta diam. Ketika mata uangnya gemetar dan terjun bebas, pidato pemimpinnya makin menjadi-jadi. Dia bilang ekonomi masih terkendali, ehh … yang tak bisa dikendalikan hanyalah dompet rakyat.
SAMPAI SEKARANG, yang namanya kebenaran itu tidak disukai kerana ia selalu gelisah, selalu mempertanyakan, dan menolak untuk tunduk. Kerana itu Tan Malaka pernah bilang, “Berpikir kritis adalah bentuk perlawanan yang paling berbahaya, sebab kebenaran tak pernah jinak”. Makanya sampai saat ini pun, Pemerintah butuh rakyat bodoh dan miskin. Mereka sejatinya tidak sedang menolong, mereka hanya sedang mengatur seberapa lama rakyat bisa bertahan. Cukup untuk hidup saja, jangan sampai mereka sadar dan bangkit. Kerana rakyat yang sadar lebih berbahaya daripada rakyat yang lapar. Mereka tahu itu, mereka tak ingin rakyat banyak tahu. Hanya di negeri ini, yang tak paham alias dungu bisa memimpin dan yang paham justru diminta diam dan duduk manis. Inilah hasil dari yang namanya ‘demokrasi kita’: tidak memilih pemimpin, melainkan mengaudit dusta. ‘Siapa yang paling meyakinkan bahwa dia tidak akan serakah saat diberikan kunci brankas kekayaan negeri. Maka ia akan menjadi pemenang, tapi pemenang bukan berarti yang paling jujur, tapi yang bohongnya paling mirip harapan’. Namun aku menentang jika dikatakan Indonesia sedang sakit. Negeri ini tidak sakit, ia cuma lupa, ia pernah dijanjikan merdeka. Yang sakit adalah ingatan kita. Tiap generasi disuruh minum obat yang sama: ‘tablet kesabaran’. Efek sampingnya, amnesia dan dimensia. Jadi setiap 5 tahun, rasanya seperti pertama kali berharap.
WS RENDRA BERKATA, “Alangkah kotornya isi kepala di tengkorak kekuasaan. Itulah sebabnya, kepala Sang Raja harus dihias dengan mahkota”. Kalimat tajam Rendra ini menyingkap paradoks kekuasaan; makin busuk isi pikirannya, semakin gemerlap hiasan yang menutupinya. Mahkota, gelar, dan segal simbol kemegahan hanyalah tirai untuk menutupi kepentingan yang berlumur ambisi dan intrik. Padahal keberlangsungan dan legitimasi sebuah kekuasaan tidak lahir dari dirinya sendiri, melainkan dari rakyat yang memberi kepercayaan. Keberlangsungan suatu Pemerintahan tak bisa hanya bertumpu pada jargon dan janji. Jika yang ditunjukkan hanyalah kelalaian, korupsi, dan kepentingan kelompok maka rakyat tidak akan merasakan kebaikan dari hadirnya negara.
DOSEN ILMU POLITIKKU mengajarkan, penguasa zalim itu tidak lahir dari rahim setan. Ia lahir dari doa-doa orang tertindas yang minta penyelamat, lalu lupa mengawasinya. Tiran adalah anak haram dari harapan yang dibiarkan tanpa nalar. Maka setelah jatuh, akan lahir lagi dari rahim yang sama; ketakutan kolektif. Bangsatnya, setelah rezim berganti, dosenku masuk sebagai anggota parlemen dari partai yang berkuasa waktu itu. Dengar-dengar kelakuannya sebagai anggota dewan kayak setan. Dasar setan, gak ada yang bisa dipercaya ..!
Sekian.
Thayyibah