Oleh : Davy Bya

Sahabat sufiku.
BEBERAPA BULAN terakhir ini aku lebih intens bertemu dan ngobrol sama teman-teman yang pernah kuliah, bekerja dan hidup di mancanegara. Ada yang secara finansial udah settled, ada yang mulai goyah tapi penampilan di media sosial masih ‘wah’. Publik melihat mereka sebagai pribadi yang ‘sukses’. Instagramnya ibarat etalase atau album kemewahan: makan di resto mewah, plesiran di Amerika dan Eropa, umrah plus, foto bareng pejabat, artis dan pengusaha. Paket lengkap pokoknya. Tapi di balik foto-foto estetik itu, satu di antaranya membuat pengakuan yang bikin aku sesak, “Aku punya segalanya Bang, tapi kok aku merasa hampa ya?”
MEREKA SEMUA tak salah, kerana masyarakat kita saat ini terjebak dalam delusi kalau sukses linear (harta, tahta, karya) bakal otomatis mengisi tangki kebahagiaan. Padahal secara psikologis, manusia punya kapasitas untuk cepat merasa bosan sama kemewahan. Masalahnya, temanku yang satu ini sejak kecil hidup dalam kemewahan, sekolah SMA sampai S2 di Amerika, tapi batinnya mengalami ‘vertical crash’. Ia cuek sama spiritual kerana merasa itu kuno, padahal saat ini, menurutku dia butuh navigasi metafisika untuk masalah yang tidak bisa dijawab dengan minum wine bareng teman-teman. Paska orangtuanya bercerai, dan ayahnya meninggal dunia, hidupnya mulai goyah secara finansial.
BAGIKU, PENGAKUAN itu adalah sinyal kalau dia mulai menyerah. Kukatakan padanya, “Yang perlu mas kelola saat ini adalah batin, kerana selama ini yang mas kelola adalah penampilan dan pencitraan”, kataku. “Gimana caranya Bang?” Kawanku ini gak jelas agamanya. KTP Islam tapi tak pernah shalat, istri orang Itali, agama Katolik. “Begini mas, alam semesta ini memiliki yang namnya Pusat Energi. Kami mengenalnya dengan nama Allah. Makin menjauh kita dari Allah, maka makin kacaulah navigasi hidup kita. Kita jadi gampang burn-out, dan gampang anxious sama masa depan. Apa itu yang mas rasakan saat ini?” Kawanku ini mengangguk pelan. “Kita punya stigma sukses di publik, tapi kita gak punya spiritual control yang pakem buat tikungan tajam kehidupan”, ujarku lagi. “Ajak saya Bang menuju ke Pusat Energi”, katanya lirih.
DI DUNIA NYATA saat ini, ternyata banyak banget manusia yang ‘menang gambar’ seperti kawanku ini. Media sosial seakan ajang promosi agar nampak sukses. Pada akhirnya cerita temanku ini adalah cerita kita semua. Sejatinya, kita semua adalah musafir yang ingin pulang. Berhenti cuek sama Allah, sama al-Quran, bahkan sama batinnya sendiri. Kerana batin tak bisa berbohong: kita butuh makna, butuh pegangan, butuh Allah. Ibnu Qayyim al-Jauziah pernah bilang kalau di hati manusia itu ada ‘lobang’ yang tak akan pernah bisa ditutup kecuali dengan rasa cinta kepada Allah. Itu mengapa sesukses apa pun kita, lobang itu akan tetap mengaga, kalau tidak pernah diberikan asupan kalam Ilaahi. Salah satu wisdom yang sangat familiar adalah, “Ingatlah, hanya dengan mengingat nama Allah hati menjadi tenteram”. Qs ar-Ra’d: 28. Secara tafsir, kata ‘thuma’ninah’ (tenteram) di sini bukan cuma ‘tenang’ biasa, tapi kondisi di mana detak jantung dan frekuensi otak sinkron dengan kebenaran universal.
HIKMAH YANG bisa kita petik dari cerita orang-orang ‘sukses” seperti kawanku ini adalah; kita harus memiliki kesadaran bahwa kita mahluk yang lemah, terbatas dan butuh peta jalan yang lebih dari sekadar sukses di mata publik, keluarga atau kerabat. Secanggih apa pun kita di dunia, batin kita tak bisa berbohong dan kerananya jiwa ini memang harus diasup dan dibasuh dengan nilai-nilai spiritual. Kata kuncinya adalah: saat seseorang hidup dengan kesadaran bahwa dirinya diciptakan dengan maksud, ia tak lagi sekadar bertahan hidup, menikmati hidup atau sekadar bertahan hidup, tapi sedang menunaikan peran yang bermakna.
Sekian
Thayyibah