Breaking News

Mati Mahal

Oleh: Joko Intarto

Kisah pilu baru-baru ini menyentak nurani pengguna platform X. Diunggah oleh akun @xendless_s, ia menceritakan tentang seorang anak yang baru saja kehilangan ibunya. Alih-alih mendapatkan ketenangan untuk berkabung, dia justru terjepit oleh tuntutan lingkungan sosialnya.

Karena merasa “dipaksa” oleh tatanan sosial di sekitarnya untuk mengadakan ritual tahlilan hari ke-3 dan ke-7, ia terpaksa menggadaikan sepeda motor—satu-satunya harta paling berharga yang ia miliki untuk menyambung hidup.

Kisah ini menjadi peringatan keras: kapan sebuah tradisi berhenti menjadi penghiburan dan mulai menjadi beban yang memberatkan?

Tradisi Lokal yang “Diislamkan”

Jika kita menilik akar sejarahnya, tahlilan sebenarnya bukanlah ajaran murni dari satu mazhab tertentu dalam Islam. Tahlilan adalah produk sejarah dan budaya—sebuah diplomasi kultural yang dilakukan para penyebar Islam di tanah Jawa (Wali Songo) terhadap tradisi pra-Islam.

Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Nusantara sudah memiliki tradisi ”selamatan” atau ”kenduren” untuk memperingati kematian pada hari ke-3, 7, 40, 100, hingga 1.000. Saat itu, ritual dilakukan dengan mantra-mantra untuk “mengiringi” perjalanan roh sesuai dengan kepercayaan lama.

Agar dakwah diterima tanpa gejolak, para penyebar Islam menempuh jalan akulturasi:
>> Bentuknya tetap selamatan: Warga tetap berkumpul dan makan bersama. Namun ritualnya diubah: Mantera-mantera kuno diganti dengan kalimat tauhid (Lailahaillallah), bacaan Al-Qur’an, dan doa-doa Islam.

>> Spiritnya juga diubah: Sesaji yang tadinya bersifat ritualistik diubah maknanya menjadi sedekah makanan.

Inilah mengapa tahlilan terasa sangat Islami, meski kerangka waktunya merupakan warisan dari tradisi kuno yang sudah ada ratusan atau ribuan tahun sebelumnya.

Fakta Fikih: Tidak Ada dalam Kurikulum Empat Mazhab
Penting untuk dipahami bahwa dalam empat mazhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), tidak ada satu pun literatur yang menetapkan jadwal peringatan kematian pada hari ke-3, 7, 40, atau 1.000.

Memang benar bahwa mendoakan orang meninggal, bersedekah atas nama mayit, dan berdzikir adalah hal yang dianjurkan. Namun, pengkhususan pada hari-hari tertentu murni berasal dari budaya lokal, bukan perintah agama yang bersifat wajib.

Mentikapi hal ini, para ulama rupanya berbeda pandangan.
Kelompok Tradisionalis: Menganggap ini sebagai bid’ah hasanah (inovasi yang baik) selama tujuannya doa dan sedekah, serta tidak dianggap sebagai kewajiban yang memberatkan.

Kelompok Lain: Berpendapat bahwa karena tidak ada contoh dari Nabi dan tidak ada dalam mazhab klasik, praktik ini sebaiknya tidak dilakukan agar tidak menjadi beban bid’ah bagi umat.

Kembalikan kepada Esensi
—————————–
Islam adalah agama yang memudahkan, bukan menghimpit. Seharusnya, umat Islam tidak perlu merasa terbebani untuk menanggung biaya-biaya sosial yang tidak ada dasarnya dalam ajaran agama, apalagi jika harus sampai berutang atau menggadaikan harta benda di tengah masa sulit.

Mendoakan orang tua atau keluarga yang telah tiada adalah kewajiban pribadi yang abadi. Jika ingin melakukan tahlilan atau dzikir, lakukan saja di rumah, secara sendiri atau bersama anggota keluarga inti. Tidak perlu mengadakan tahlilan secara besar-besaran atau ramai-ramai jika hanya akan menjadi beban ekonomi.

Alhamdulillah, saya ikut Muhammadiyah.

About Redaksi Thayyibah

Redaktur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *