Breaking News

Perempuan dan Cintanya

Oleh : Davy Byanca

Sahabat sufiku.

PAGI ITU seorang perempuan membuka pintu, menyambut dua truk petugas yang menggedor pintu rumahnya dengan kasar. ‘Selamat datang tuan-tuan. Saya sudah menyiapkan semua yang akan tuan-tuan rampas dan musnahkan: kata-kata, data-data, suara-suara, atau apa saja yang saudara takuti tapi sebenarnya tidak kami miliki. Tapi mohon, jangan ambil suami saya’, katanya memelas. Lelaki yang disebut suami perempuan itu, duduk di atas kursi roda, menderita stroke ringan. ‘Angkut dia’, kata pemimpin petugas sambil menunjuk lelaki tersebut. Lengkingan jeritan memelas perempuan itu tak mampu menggugah rasa kemanusiaan para petugas yang menyeret paksa suaminya. Mereka adalah robot, yang bekerja atas perintah majikan.

KISAH di atas terjadi 30 tahun lalu. Sampai hari ini perempuan itu tak pernah lagi bertemu dengan suaminya. Entah di mana; apakah masih hidup atau sudah mati. Ia kembali ke rumah kenangan itu. Ia masih sendiri sampai saat ini. Ketiadaan orang yang dia cintai membuat seluruh sudut rumah dan ruang hatinya terasa berbeda. Umar bin Khatthab ra berkata, pada akhirnya takdir Tuhan selalu baik. Walau pun terkadang perlu airmata untuk menerimanya.

BEGITULAH kekuatan cinta. Ia tak pernah keberatan menunggu sang kekasih, berapa lama pun, selama ia masih bersemayam dalam hati. Ada yang berkata, barangkali cinta adalah sebuah kesenangan yang menyengsarakan. Tapi tidak bagi pemilik cinta. Perempuan itu menghela nafas panjang. Ia sadar, untuk memahami diri, ia harus bisa mengambil jarak dan melihat diri sendiri.

SESEKALI perlu juga menghadapi masalah di luar nalar. Ini bisa memberi efek kejut pada proses pendewasaan. Bagi dia yang memiliki sebuah ‘mengapa’ tak satu ‘bagaimana’ pun terlalu berat. Mawlana Rumi berkata, diam dari segala sesuatu yang tak seharusnya dirimu lakukan adalah salah satu cara memperbaiki masa depan.

PEREMPUAN itu terlihat masih duduk di sudut ruangan yang sepi, sunyi, dalam diam. Matanya sembab, tanpa berkata-kata …. [terdengar lirih ia berkata, ‘I still love you my man’].

Demikianlah

About Redaksi Thayyibah

Redaktur