Breaking News
(Foto : Davy Byanca/Istimewa)

Tiga Menuju Selamat

Oleh: Davy Byanca

(Foto : Davy Byanca/Istimewa)

Tahukah Anda, seorang dokter yang piawai tidak akan mampu mengobati penyakit pasiennya tanpa melakukan diagnosa terlebih dahulu? Bahkan jika perlu ia akan melakukan pemeriksaan di laboratorium. Ketika sembuh dan sehat, dianjurkan untuk menjalankan pola hidup yang sehat, guna mencegah kambuhnya sang penyakit. Untuk urusan fisik seperti ini, banyak orang yang menghabiskan uangnya jutaan Rupiah untuk terapi dan masuk klub kebugaran. Karena setiap orang menginginkan fisiknya sehat. Belum lagi dana yang disiapkan agar terlihat cantik dan kemayu.

Nah, bagaimana dengan urusan hati. Banyak orang bertanya bagaimana caranya agar hidup kita dapat berjalan dalam relnya Allah, dalam jalur yang benar, dan sesuai dengan syariat agar hati menjadi tentram? Ternyata, aneka ragam jawaban yang mereka terima; ada yang menyodorkan metode khusyuk beribadah, ada yang menganjurkan mengikuti paket-paket kajian keagamaan, atau paket pelatihan dengan membayar tentunya.

Pertanyaannya, mengapa sampai hati ini tidak tenteram? Karena mereka masih suka dengki, hasad, dan iri dengan orang lain, padahal mereka membaca al-Qur’an setiap hari, dan berdzikir usai shalat. Pokoknya ada segudang penyakit lainnya yang nyaman bertengger di kalbunya yang mengakibatkan jiwanya tak bisa tenang.

Lalu bagaimana menjawab keluhan orang yang seperti ini? Imam al-Ghazali mengatakan, Anda memerlukan seorang dokter ruhani yang mampu mendeteksi penyakit hati tersebut, lalu mencarikan resep yang jitu untuk mengobatinya. Celakanya, di zaman sekarang, sulit sekali mendapat dokter ruhani seperti yang disampaikan Imam al-Ghazali. Sebagian besar ”dokter ruhani” yang saya temui termasuk orang-orang yang terpedaya dengan simbol dan gelarnya. Mereka senang mempublikasikan dirinya melalui media massa, semata-mata untuk mengejar dan menumpuk kekayaan di dunia. Bukankah dokter ruhani –menurut Imam al-Ghazali, adalah orang-orang yang tidak mengejar kehidupan dunia?

Jika demikian halnya, ada baiknya kita mengikuti saja resep hidup sehat ala Abu Thalib al-Makki guna mencegah merebaknya penyakit ruhani di dalam kalbu. Beliau mengatakan, sekecil apa pun sebuah pekerjaan, pasti muncul tiga pertanyaan. Pertama, untuk apa? Kedua, bagaimana? Ketiga, untuk siapa?

Maksud ”untuk apa” adalah untuk apa Anda melakukan pekerjaan itu. Apakah pekerjaan itu Anda lakukan karena Tuhanmu? Ataukah muncul karena keinginan hawa nafsumu belaka? Jika Anda selamat dari pertanyaan ini, misalnya, Anda beramal sesuai dengan yang diperintahkan-Nya, maka Anda akan masuk ke dalam pertanyaan kedua.

Tanyalah jiwa Anda, ”Bagaimana Anda melakukannya?” Jika Anda telah mengerjakan sebuah amal, bagaimana Anda melakukannya, berdasarkan ilmu atau tidak? Ingat, bahwa Allah tidak akan menerima sebuah amal kecuali yang dilakukan dengan cara dan berdasarkan ilmu. Jika Anda lolos, maka pertanyaan ketiga akan menghadang.

Tanya kepada jiwa Anda, ”Untuk siapakah amalan Anda?” Pertanyaan ini merupakan tuntutan “kalimat ikhlas,” yakni menafikan selain Dia. Tak ada sesuatu pun yang diharapkan selain Dia, Maksudnya, setelah Anda beramal dengan ilmu, untuk siapa Anda mengerjakannya, apakah ikhlas karena Allah swt sehingga Anda mempunyai pahala di sisi-Nya, ataukah karena untuk mahluk seperti Anda!

Mestinya kita tahu bahwa hidup, kebanyakan diarahkan oleh kebiasaan. Untuk itu, mestinya kita juga bisa memanfaatkan fakta ini; bahwa kita adalah mahluk yang memiliki kebiasaan. Karenanya, letakkan ketiga pertanyaan sederhana di atas, di tempat Anda dapat melihatnya setiap hari, selama sekurang-kurangnya dua puluh satu hari. Mengapa? Karena penelitian para psikolog modern mengatakan, memerlukan waktu dua puluh satu hari untuk mengubah suatu kebiasaan. Jika kemudian Anda melihat hal-hal yang baik dalam diri Anda, itu hanya karena Anda telah masuk ke dalam kebiasaan mengkritisi diri sendiri.

Resepnya, cukup menjawab tiga pertanyaan menuju ke keselamatan diri di atas, atau ”tiga menuju selamat.” Sederhana bukan?

 

 

About Redaksi Thayyibah

Redaktur